Pasukan Ukraina bertahan menghadapi gempuran dari Rusia. AFP
Pasukan Ukraina bertahan menghadapi gempuran dari Rusia. AFP

Lika-Liku Konflik Rusia dan Ukraina: Sejarah, Alasan Invasi, dan Dampak Perang Terhadap Indonesia

Medcom • 15 Maret 2022 17:39
Jakarta: Beberapa minggu terakhir, dunia dihebohkan dengan konflik antara Rusia dan Ukraina yang disebut-sebut berpotensi memicu Perang Dunia III. Negara barat bahkan menilai operasi militer spesial Rusia di wilayah Ukraina ini sebagai tabuhan genderang perang.
 
Namun, perseteruan antarnegara sesama pecahan Uni Soviet saat ini rupanya bukan yang pertama kali. Tercatat, Rusia juga pernah menginvasi Ukraina pada 2014 dengan motif menguasai semenanjung Krimea dan mendukung pemberontakan yang dipimpin separatis pro-Rusia di wilayah Donbas Timur.
 
Lantas, sebenarnya dari mana awal mula peperangan ini terjadi? Melansir laman Ruangguru, berikut pembahasannya:

Sejarah konflik Rusia-Ukraina

Semua rangkaian peristiwa ini bermula ketika Uni Soviet bubar pada awal 1990-an. Akibat keruntuhan ini, terbentuklah negara-negara baru, salah satunya Ukraina yang sempat menjadi lokasi penyimpanan persenjataan atom atau nuklir terbesar ketiga di dunia.

Berkaca dari peristiwa pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, sejumlah negara melakukan upaya diplomatik untuk menghilangkan senjata-senjata nuklir. Alhasil, diadakanlah Memorandum Budapest pada 1994.
 
Perjanjian ini dibentuk dengan tujuan utama melakukan pelucutan senjata nuklir yang dimiliki Ukraina, Kazakhstan, dan Belarusia. Namun, ketiga negara tersebut tidak serta merta setuju lantaran merasa terancam oleh negara tetangga yang superpower, yakni Rusia.
 
Melalui Memorandum Budapest, ketiga negara tersebut berharap mendapat jaminan keamanan. Ukraina, Kazakhstan, dan Belarusia bersedia melucuti senjata nuklir, asal dijamin aman dari ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial, alias diberi kemerdekaan politik.
 
Namun, Rusia mengingkari perjanjian tersebut. Negeri Beruang Putih menginvasi Ukraina pada 2014 lantaran ingin mencaplok semenanjung Krimea dan mendukung pemberontakan separatis pro-Rusia di wilayah Donbas Timur. Akibat kejadian ini, 14.000 orang kehilangan nyawa.
 

Alasan Rusia menginvasi Ukraina

Ternyata, invasi ini dipicu oleh keinginan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menguatkan pengaruhnya di Ukraina. Jatuhnya pemerintahan Presiden Ukraina pro-Rusia, Viktor Yanukovych, membuat Putin marah karena kehilangan pengaruh di negara tersebut.
 
Sejak saat itulah, Rusia tak segan-segan meluncurkan serangan. Mulai dari mempersenjatai kelompok separatis untuk merebut provinsi Donetsk dan Luhansk, hingga menginvasi wilayah Ukraina.
 
Tak cuma itu, tindakan invasi ini juga bertujuan mencegah Ukraina bergabung menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. Sebab, jika Ukraina berhasil menjadi anggota aliansi tersebut, ancaman militer atau politik bisa saja menyerang Rusia.
 
Alasan lain yang membuat Putin tak gentar menginvasi meski dikecam dunia ialah ingin membebaskan warga Ukraina. Presiden Rusia itu mengeklaim, orang-orang tersebut hidup di bawah penindasan pemerintah Ukraina yang dijalankan kaum fasis sejak 2014.
 
Bahkan, Putin juga meyakini Ukraina tengah menjadi negara boneka yang dikontrol dunia barat. Dia berusaha menjauhkan pengaruh tersebut dari negaranya.

Situasi Ukraina menghadapi invasi Rusia

Dengan mempertimbangkan berbagai alasan tadi, Presiden Rusia akhirnya mengumumkan operasi militer lewat siaran televisi. Di saat bersamaan, sedang terjadi pembahasan panas pada rapat Dewan Keamanan PBB di New York.
 
Duta Besar Ukraina untuk PBB lantas bereaksi keras. Dia bersama Sekjen PBB, NATO, dan nama-nama besar lainnya mendesak Duta Besar Rusia agar menghentikan invasi. Namun, Rusia tidak bergeming dan tetap melanjutkan operasi militer.
 
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksiy Reznikov, kemudian mengumumkan pemerintahnya akan membagikan senjata ringan kepada veteran atau sukarelawan yang bersedia dan mampu memegang senjata.
 
Segala cara ditempuh pemerintah Ukraina untuk melawan kekuatan besar dari Rusia, termasuk menetapkan status martial law atau darurat militer. Dalam situasi ini, pejabat militer memegang kekuasaan tertinggi untuk mengeluarkan perintah atau aturan terhadap rakyatnya.
 
Salah satu kebijakan yang telah dibuat dalam kondisi ini adalah wajib militer bagi penduduk berusia 18-60 tahun. Selain itu, juga mengerahkan narapidana dengan pengalaman perang untuk ikut berjuang dalam pertempuran melawan Rusia.
 

Dampak dari sanksi dunia terhadap Rusia

Meskipun peperangan hanya melibatkan Rusia dan Ukraina, ternyata dampaknya bisa memengaruhi negara-negara lain. Salah satu sektor yang paling terpengaruh ialah ekonomi.
 
Konflik ini bakal berdampak pada ekonomi global melalui tiga jalur utama, yaitu:

1. Sanksi keuangan

Rusia banyak dikecam negara-negara lain sejak pertama kali mengumumkan operasi militer, khususnya dunia barat dan Amerika. Namun, tindakan Presiden Rusia yang seolah tak mengindahkan kecaman tersebut membuat sejumlah negara mengembargo atau menjatuhi sanksi keuangan.
 
Di antaranya memberi sanksi pada bank sentral Rusia dengan memblokir aktivitas pencairan sebagian besar aset agar tidak bisa memanfaatkan dana kekayaan negara darurat yang disebut National Wealth Fund (NWF). Selain itu, Rusia juga dibekukan dari keanggotaan SWIFT atau jaringan keuangan dunia. Sehingga, warga negaranya tidak dapat melakukan transaksi keuangan elektronik di luar Rusia.
 
Akan tetapi, sanksi tersebut justru bak pedang bermata dua. Mengingat Negeri Beruang Putih itu merupakan pengekspor terbesar minyak bumi, bahan tambang, dan logam yang memasok wilayah Eropa, tentu hal ini akan memengaruhi negara-negara yang sering berdagang dengan Rusia.

2. Harga komoditas melonjak

Salah satu pengaruh dari sanksi keuangan tadi adalah melonjaknya harga komoditas utama, seperti minyak bumi, gas, dan bahan tambang. Berdasarkan analisis Economist Intelligence, harga minyak bumi akan berada di atas USD100/barel, harga gas meningkat 50 persen, serta kenaikan juga terjadi pada bahan tambang komoditas utama Rusia-Ukraina, seperti alumunium, titanium, palladium, dan nikel.

3. Aktivitas perdagangan

Selain sanksi keuangan, pesawat Rusia juga dilarang melintas dan mendarat di sejumlah negara. Begitu pun sebaliknya, pesawat negara lain tidak bisa mendarat atau melewati Rusia. Akibatnya, banyak aktivitas penerbangan terhambat.
 
Sementara itu, dari jalur laut, rute melalui Laut Hitam ditutup selama beberapa minggu. Hal ini akan berdampak besar pada pengiriman biji-bijian yang transit melalui pelabuhan Ukraina, Rusia, dan mungkin Bulgaria serta Rumania.
 

Dampak konflik Rusia-Ukraina terhadap Indonesia

Walaupun Indonesia berada jauh dari wilayah Rusia dan Ukraina, ternyata dampak dari konflik tersebut dapat memengaruhi sektor ekonomi di Tanah Air. Mulai dari melemahnya pasar modal Indonesia, hilangnya pendapatan dari ekspor komoditas, hingga meroketnya harga bahan pokok impor.

1. Melemahnya pasar modal Indonesia

Saat Rusia berperang, aktivitas ekonomi secara psikologis akan mengalami perpindahan aset besar-besaran untuk menghindari kerugian. Orang-orang cenderung beralih menuju aset yang stabil, seperti dolar Amerika dan logam mulia. Menguatnya nilai dolar Amerika juga akan berdampak pada nilai tukar terhadap rupiah.

2. Hilangnya pendapatan dari ekspor komoditas

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak mengirimkan produk ke Ukraina maupun Rusia. Berdasarkan data UN Comtrade Database, komoditas tersebut antara lain minyak kelapa sawit, kopi, teh, karet, tembakau, kertas, dan sepatu.
 
Dengan terjadinya perang, Indonesia berpotensi kehilangan pendapatan ekspor sebesar Rp40 triliun dari Rusia dan Rp21,2 triliun dari Ukraina.

3. Harga bahan pokok impor melonjak

Selain menghambat ekspor, perang juga menyulitkan kegiatan impor. Akan terjadi kelangkaan barang impor dari Rusia dan Ukraina yang kemudian berimbas pada lonjakan harga komoditas, antara lain bahan logam, pupuk, dan produk gandum dari Ukraina. Berkurangnya pasokan gandum juga berpotensi menimbulkan kenaikan harga pada bahan makanan berbahan tepung.
 
Demikianlah pembahasan mengenai konflik Rusia dan Ukraina. Hingga saat ini, perang masih berkecamuk di kedua negara tersebut. Besar harapan agar konflik ini segera menemukan titik terang. (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Belum Selesai, Dialog Damai Rusia-Ukraina Berjalan Alot
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA