Alasan Rusia menginvasi Ukraina
Ternyata, invasi ini dipicu oleh keinginan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menguatkan pengaruhnya di Ukraina. Jatuhnya pemerintahan Presiden Ukraina pro-Rusia, Viktor Yanukovych, membuat Putin marah karena kehilangan pengaruh di negara tersebut.Sejak saat itulah, Rusia tak segan-segan meluncurkan serangan. Mulai dari mempersenjatai kelompok separatis untuk merebut provinsi Donetsk dan Luhansk, hingga menginvasi wilayah Ukraina.
Tak cuma itu, tindakan invasi ini juga bertujuan mencegah Ukraina bergabung menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. Sebab, jika Ukraina berhasil menjadi anggota aliansi tersebut, ancaman militer atau politik bisa saja menyerang Rusia.
Alasan lain yang membuat Putin tak gentar menginvasi meski dikecam dunia ialah ingin membebaskan warga Ukraina. Presiden Rusia itu mengeklaim, orang-orang tersebut hidup di bawah penindasan pemerintah Ukraina yang dijalankan kaum fasis sejak 2014.
Bahkan, Putin juga meyakini Ukraina tengah menjadi negara boneka yang dikontrol dunia barat. Dia berusaha menjauhkan pengaruh tersebut dari negaranya.
Situasi Ukraina menghadapi invasi Rusia
Dengan mempertimbangkan berbagai alasan tadi, Presiden Rusia akhirnya mengumumkan operasi militer lewat siaran televisi. Di saat bersamaan, sedang terjadi pembahasan panas pada rapat Dewan Keamanan PBB di New York.Duta Besar Ukraina untuk PBB lantas bereaksi keras. Dia bersama Sekjen PBB, NATO, dan nama-nama besar lainnya mendesak Duta Besar Rusia agar menghentikan invasi. Namun, Rusia tidak bergeming dan tetap melanjutkan operasi militer.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksiy Reznikov, kemudian mengumumkan pemerintahnya akan membagikan senjata ringan kepada veteran atau sukarelawan yang bersedia dan mampu memegang senjata.
Segala cara ditempuh pemerintah Ukraina untuk melawan kekuatan besar dari Rusia, termasuk menetapkan status martial law atau darurat militer. Dalam situasi ini, pejabat militer memegang kekuasaan tertinggi untuk mengeluarkan perintah atau aturan terhadap rakyatnya.
Salah satu kebijakan yang telah dibuat dalam kondisi ini adalah wajib militer bagi penduduk berusia 18-60 tahun. Selain itu, juga mengerahkan narapidana dengan pengalaman perang untuk ikut berjuang dalam pertempuran melawan Rusia.