Anak membaca buku. DOK Aruna
Anak membaca buku. DOK Aruna

Singapura Juara Bidang Membaca di PISA 2025, Selisih dengan Indonesia Sampai 170 Poin!

Ilham Pratama Putra • 21 September 2026 17:33
Ringkasnya gini..
  • Singapura menduduki posisi puncak kemampuan membaca PISA 2025 dengan skor 535, memimpin dominasi negara-negara Asia.
  • Skor membaca siswa Indonesia naik dari 359 poin (2022) menjadi 365 poin (2025), meski masih di bawah rata-rata OECD.
  • Rata-rata skor membaca OECD merosot 28 poin dalam satu dekade akibat perubahan kebiasaan membaca dan digitalisasi.
Jakarta: Singapura menjadi negara dengan skor membaca tertinggi dalam survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Siswa usia 15 tahun di Singapura mencatat skor rata-rata 535 poin, jauh di atas rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berada di angka 461 poin.

Sementara itu, skor membaca siswa Indonesia berada di angka 365 poin. Angka tersebut memang meningkat enam poin dibandingkan PISA 2022 yang berada di angka 359, tetapi masih terpaut cukup jauh dari rata-rata OECD.

Apabila dibandingkan dengan Singapura, terdapat selisih 170 poin antara skor membaca kedua negara. Hasil ini menunjukkan masih lebarnya jarak capaian membaca siswa Indonesia dengan salah satu sistem pendidikan dengan performa tertinggi dalam PISA.

Asia Kuasai Posisi Teratas PISA 2025

Melansir visualcapitalist.com, performa tinggi dalam kemampuan membaca kembali banyak ditempati sistem pendidikan di Asia. Singapura berada di posisi teratas dengan skor 535, disusul China dengan 527, Taiwan 508, Jepang 503, serta Makau dan Korea Selatan yang sama-sama mencatat 501 poin.

Berikut daftar 40 negara dengan skor membaca tertinggi berdasarkan PISA 2025 tersebut:
  • Peringkat 1: Singapura (535)
  • Peringkat 2: China (527)
  • Peringkat 3: Taiwan (508)
  • Peringkat 4: Jepang (503)
  • Peringkat 5: Makau (501)
  • Peringkat 5: Korea Selatan (501)
  • Peringkat 7: Irlandia (500)
  • Peringkat 8: Estonia (499)
  • Peringkat 9: Selandia Baru (497)
  • Peringkat 10: Inggris (494)
  • Peringkat 11: Australia (491)
  • Peringkat 12: Kanada (490)
  • Peringkat 12: Amerika Serikat (490)
  • Peringkat 14: Polandia (482)
  • Peringkat 15: Hong Kong (480)
  • Peringkat 16: Finlandia (474)
  • Peringkat 16: Italia (474)
  • Peringkat 18: Turki (472)
  • Peringkat 19: Swiss (470)
  • Peringkat 20: Ceko (468)
  • Peringkat 21: Austria (467)
  • Peringkat 22: Belgia (466)
  • Peringkat 22: Swedia (466)
  • Peringkat 24: Jerman (465)
  • Peringkat 25: Lituania (464)
  • Peringkat 26: Portugal (462)
  • Peringkat 27: Denmark (460)
  • Peringkat 28: Prancis (456)
  • Peringkat 29: Kroasia (453)
  • Peringkat 29: Norwegia (453)
  • Peringkat 31: Hungaria (452)
  • Peringkat 32: Spanyol (451)
  • Peringkat 33: Slovakia (448)
  • Peringkat 34: Slovenia (445)
  • Peringkat 35: Luksemburg (443)
  • Peringkat 36: Belanda (441)
  • Peringkat 37: Chile (436)
  • Peringkat 37: Israel (436)
  • Peringkat 39: Uni Emirat Arab (433)
  • Peringkat 40: Latvia (430)
  • Peringkat 74: Indonesia (365)
  •  
 
Buku ilus dua - Citra Larasati(1)
Siswa membaca buku di perpustakaan. Medcom.id/Citra Larasati

Di tengah capaian sejumlah negara dengan skor tinggi, terdapat persoalan yang lebih luas dalam kemampuan membaca siswa di negara-negara OECD. Rata-rata skor membaca OECD turun dari 489 poin pada 2015 menjadi 461 poin pada 2025.

Penurunan tersebut menunjukkan skor membaca rata-rata OECD telah merosot 28 poin dalam satu dekade. OECD juga mencatat penurunan kemampuan membaca di banyak negara sudah terlihat sebelum pandemi Covid-19.

Perubahan lingkungan belajar dan kehidupan siswa turut menjadi perhatian. Digitalisasi, meningkatnya penggunaan perangkat dan waktu di depan layar, serta perubahan kebiasaan membaca menjadi bagian dari konteks yang dibahas dalam hasil PISA.

Kemampuan membaca juga semakin penting di tengah lingkungan digital. Siswa tidak hanya dituntut memahami teks, tetapi juga mampu menemukan, mengevaluasi, dan menafsirkan informasi yang mereka temui.

Untuk Indonesia, hasil PISA 2025 menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan membaca. Skor Indonesia naik dari 359 poin pada 2022 menjadi 365 poin pada 2025.

Kemendikdasmen menyebut kenaikan tersebut terjadi di tengah tren penurunan skor membaca di banyak negara OECD. Pemerintah menilai performa Indonesia relatif stabil dan mengalami peningkatan pada kemampuan membaca serta sains.

Namun, skor 365 masih berada 96 poin di bawah rata-rata OECD yang mencapai 461. Artinya, kenaikan skor Indonesia belum mengubah posisi capaian membaca siswa Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.

PISA sendiri mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Pada PISA 2025, asesmen diikuti lebih dari 760 ribu siswa dari 91 negara dan ekonomi, menjadikannya salah satu putaran PISA dengan partisipasi terbesar sepanjang survei yang telah dilakukan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan