Jerome Polin. Foto Instagram @jeromepolin
Jerome Polin. Foto Instagram @jeromepolin

Respons Skor PISA 2025, Jerome Polin: Ranking Negara Kita Turun Terus Gaes!

Ilham Pratama Putra • 15 September 2026 14:56
Ringkasnya gini..
  • Skor sains dan membaca Indonesia naik, tetapi matematika turun dua poin dalam PISA 2025.
  • Indonesia berada di peringkat 73 sains, 74 membaca, dan 78 matematika.
  • Jerome Polin menilai Indonesia mulai dibalap negara lain dalam capaian pendidikan.
Jakarta: Skor sains dan membaca Indonesia dalam PISA 2025 memang naik dibandingkan 2022. Tapi secara umum, posisi Indonesia dalam pemeringkatan negara justru masih berada di papan bawah. 

Kondisi ini disoroti influencer bidang pendidikan Jerome Polin karena kenaikan skor Indonesia dinilai belum cukup untuk mengejar perkembangan negara-negara lain. Jerome pun menilai persoalan tersebut menunjukkan Indonesia tidak bisa hanya melihat kenaikan skor secara terpisah.

Menurutnya, posisi Indonesia dalam persaingan global juga perlu diperhatikan karena negara lain terus berkembang. Ia tidak ingin kemampuan siswa Indonesia terus tertinggal.

“Sekilas katanya kecil. Tapi, kalau dilihat dari ranking negara, kita turun terus, guys. Yang artinya apa? Kita mulai dibalap sama negara-negara lain,” kata Jerome dalam unggahan instagramnya @jeromepolin dikutip Selasa 15 September 2026.
Dalam PISA 2025, Indonesia memperoleh skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan hasil PISA 2022, skor sains dan membaca masing-masing naik, sedangkan matematika turun dua poin.

Jerome menilai perubahan skor tersebut perlu dibaca lebih jauh. Kenaikan skor beberapa bidang belum otomatis menunjukkan posisi pendidikan Indonesia membaik dalam persaingan internasional.

Untuk sains, Indonesia berada di peringkat 73 dari 90 negara. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat 74 untuk membaca dan peringkat 78 untuk matematika dari 90 negara.

Posisi tersebut menunjukkan tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan skor. Tetapi juga memastikan peningkatannya cukup cepat dibandingkan negara lain yang mengikuti asesmen yang sama.

Apalagi, skor Indonesia masih berada cukup jauh di bawah rata-rata OECD. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan siswa Indonesia masih memiliki jarak yang besar dibandingkan capaian siswa di negara-negara OECD.

Jerome pun mengingatkan bahwa hasil PISA seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pendidikan Indonesia. Kenaikan skor perlu diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat mengabaikan posisi Indonesia secara keseluruhan.

Di sisi lain, hasil PISA 2025 juga menunjukkan persoalan pada kemampuan dasar siswa Indonesia. Mayoritas siswa masih belum mencapai tingkat kompetensi yang cukup tinggi dalam sejumlah bidang yang diujikan.

Karena itu, pekerjaan rumah pendidikan Indonesia tidak hanya meningkatkan angka capaian dari satu periode PISA ke periode berikutnya. Indonesia juga perlu mempercepat peningkatan kualitas pembelajaran agar tidak tertinggal ketika negara lain mengalami kemajuan lebih cepat.

Siswa belajar di kelas MI Andri Widiyanto
Siswa belajar di kelas. Foto: MI/Andri Widiyanto

Jerome kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan target Indonesia Emas 2045. Ia mempertanyakan apakah capaian pendidikan saat ini sudah cukup untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing pada masa mendatang.

“Dan apakah kita masih mungkin mewujudkan Indonesia emas tahun 2045?” tanya Jerome.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu dijawab melalui perbaikan kualitas pendidikan. Sebab, dalam persaingan global, kenaikan skor saja belum cukup jika negara lain mampu bergerak lebih cepat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan