Tiga lapis kurikulum itu di antaranya Kurikulum Nasional, Kurikulum Kekhasan Sekolah dan Kurikulum Berbasis Konteks Nasional. Berikut detil tiga lapis kurikulum SNT:
Tiga Lapis Kurikulum SNT
1. Kurikulum Nasional
Kurikulum nasional sebagai pondasi. Standar, arah, dan capaian pembelajaran nasional sebagai dasar penyelenggaraan pembelajaran mendalam.2. Kurikulum Kekhasan Sekolah
Kurikulum kekhasan sekolah digunakan sebagai penguat. Karakter, visi, dan program unggulan sesuai kebutuhan peserta didik dan sekolah (STEAMS, kepemimpinan, bahasa asing).| Baca juga: Kurikulum Berbasis Cinta Resmi Rilis, Menag Nasaruddin Ingin Sekolah Bebas Bullying |
Adapun pendekatan STEAMS didetilkan sebagai berikut:
Science
Memahami fenomena, sebab-akibat, dan bukti
Technology
Alat, sistem, dan pemanfaatan data digital
Engineering
Merancang menguji, dan memperbaiki solusi
Arts
Kreativitas, desain, ekspresi dan komunikasi publik
Mathematics
Pola, data, model dan pengembalian keputusan
Sports
Gerak, kesehatan, kerja tim dan disiplin
3. Kurikulum Berbasis Konteks Lokal
Pada lapisan ini kurikulum sebagai bentuk pengayaan. Potensi daerah, kearifan lokal, budaya, dan kebutuhan masyarakat sebagai sumber belajar bermakna. Diketahui, Pemerintah memastikan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sudah dapat menjalankan pembelajaran mulai tahun ajaran 2026/2027. Saat ini sudah ditetapkan 17 lokasi SNT untuk tahun 2026.
"Sebanyak 17 lokasi direncanakan mulai memberikan layanan pada tahun ajaran 2026/2027," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti dalam taklimat media di Jakarta, Senin 20 Juli 2026.
Di samping itu, pemerintah, kata dia, sedang mempersiapkan 20 lokasi lainnya untuk pembangunan SNT baru. Sehingga diharapkan pada tahun 2027 ada 37 SNT yang melakukan penerimaan murid baru.
Mu'ti menjelaskan jika penyelenggaran SNT ini merupakan pelaksanaan dari Instruksi Presiden Nomor 20 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Program SNT. Ditargetkan hingga 2029, pemerintah dapat menyediakan 500 SNT.
"SNT dikembangkan sebagai pusat pengembangan pendidikan di daerah untuk mendorong pemerataan mutu pendidikan sampai ke berbagai wilayah di Indonesia," tegas dia.
Ia menegaskan jika SNT hadir bukan sekadar proyek pembangunan sekolah baru. SNT adalah upaya mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah. "Kedua, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta anak secara optimal. Ketiga, menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya," ungkapnya.
Secara konsep, SNT mengintegrasikan layanan SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Yang diintegrasikan bukan hanya jenjang dan bangunannya, tetapi juga pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, dan penjaminan mutu.
"Dengan demikian, perkembangan murid dapat didampingi secara lebih utuh dan berkelanjutan," pungkasnya.
| Baca juga: Abdul Mu'ti Ungkap Naskah Akademik Kurikulum AI dan Coding Rampung |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda