Singapura. DOK Pexel
Singapura. DOK Pexel

Punya 65 Juta UMKM, Indonesia Tak Perlu Tiru Singapura buat Sukses di Era AI

Renatha Swasty • 18 Agustus 2026 20:10
Ringkasnya gini..
  • Indonesia punya modal 65 juta UMKM dan populasi besar untuk fokus pada augmentasi AI, bukan sekadar otomatisasi.
  • Karakter dan skala Indonesia berbeda dari Singapura, sehingga penerapan AI harus disesuaikan dengan lanskap bisnis lokal.
  • Kesiapan AI di tingkat organisasi terkendala masalah akses tools berbayar, disiplin karyawan, serta pentingnya komunikasi internal.
Jakarta: Indonesia dianugerahi populasi lebih dari 280 juta jiwa dan sekitar 65 juta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang menyumbang 60 persen PDB nasional serta menyerap 97 persen tenaga kerja. Angka-angka ini berpotensi membuka ruang produktivitas dan inovasi berbasis Artificial Inteligence (AI). 
 
Namun, keunggulan tersebut harus dibangun melalui pengembangan talenta yaitu membangun keterampilan masyarakat. Assistans Dean (Digital Operations) NUS Business School, Tan Hong Ming, menuturkan saat ini banyak pertanyaan muncul mengenai apakah masyarakat akan kehilangan pekerjaan mereka karena AI. 
 
Dia menyebut AI adalah salah satu bentuk teknologi baru, sehingga jenis pekerjaan akan ikut berubah. Karena itu, perlu menemukan cara baru untuk menghadapinya.

"Menurut saya, pertanyaan yang seharusnya menjadi perhatian dunia bisnis adalah: apakah kita menggunakan AI untuk otomatisasi, atau untuk augmentasi?" ujar Tan dalam diskusi bersama media di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
 
Otomatisasi berarti menggunakan AI untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya sudah dilakukan digantikan oleh "robot". Dalam hal ini, manusia tetap berada dalam rantai nilai yang sama dan harus meningkatkan skala agar bisa melakukan otomatisasi lebih banyak lagi. 
 
Sementara itu, augmentasi berarti orang-orang mampu melakukan lebih banyak hal dengan waktu yang sama. Misalnya, menghasilkan jauh lebih banyak, mengerjakan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.
 
Nah, di sinilah pentingnya membangun kapabilitas manusia atau human dividend agar AI tidak sekadar menjadi otomatisasi tetapi augmentasi. Tan menuturkan ada tiga cara mengembangkan kapabilitas.
 
"Pertama adalah literasi AI. Kita perlu memastikan orang-orang memiliki tingkat pemahaman tertentu tentang cara menggunakan AI, setidaknya pada level dasar," tutur dia. 
 
Ada beberapa tingkatan dalam literasi AI, mulai dari level pemula, level menengah, dan level lanjutan. Jadi, perlu setidaknya membawa semua orang ke level dasar. 
 
Hal ini, kata dia, agar bisa mencapai level fundamental, yaitu mempelajari literasi AI, yakni bagaimana membuat karyawan tahu cara menggunakan AI secara efektif. "Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah membawa karyawan dari level pemula menuju level lanjutan," tutur dia.
  Kedua, para pemimpin manajemen perlu merancang ulang pekerjaan. Pemimpin perusahaan perlu memahami arti bekerja dengan AI dan tanpa AI, misalnya apa yang bisa dilakukan AI, apa yang bisa dibantu AI, apa yang cocok untuk AI dan apa yang tidak. 
 
"Jadi para pemimpin juga perlu memahami hal ini, karena pelatihan saja tidak berarti akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Para pemimpin perlu mengubah pola pikir orang-orang; mereka perlu memikirkan bagaimana alur kerja baru dijalankan dalam bisnis," papar dia. 
 
Ketiga, karena segala sesuatunya akan berubah dengan sangat cepat, pola pikir jauh lebih penting ketimbang pengetahuan. Indonesia dengan populasi dan UMKM yang banyak mesti bisa memikirkan penerapan AI yang paling cocok untuk bisnisnya.
 
"Saya sering ditanya, karena saya orang Singapura, bagaimana caranya meniru kesuksesan Singapura, bagaimana caranya menjadi seperti Singapura. Menurut saya, Singapura hanyalah beruntung," ujar Tan. 
 
Dia menuturkan Singapura tidak memiliki banyak sumber daya yang ada hanyalah manusia dan jumlah penduduknya hanya 6 juta orang. Sementara, Indonesia memiliki hampir 300 juta orang. 
 
Meniru apa yang berhasil bagi Singapura tidak akan berhasil bagi Indonesia, karena perbedaan skala dan jumlah penduduk. Selain itu, apa yang berhasil 50 tahun yang lalu, belum tentu berhasil bagi Indonesia sekarang. 
 
"Jadi kita bisa meniru hal-hal baik dari Singapura, tetapi tentu saja tidak semuanya," ujar dia.
 
Terpenting, bagi Indonesia adalah semangat kewirausahaan. UMKM Indonesia miliki lanskap bisnis yang sangat beragam dan sumber daya yang melimpah. Bukan hanya manusia, tetapi juga pertanian, minyak, serta populasi yang beragam. 
 
"Indonesia sebenarnya jauh lebih luas dan lebih beragam, karena kalian memiliki banyak "manusia super" serta berbagai jenis bisnis. Oleh karena itu, Indonesia bisa menemukan jalannya sendiri dalam pengembangan AI," ujar Tan. 
 
Punya 65 Juta UMKM, Indonesia Tak Perlu Tiru Singapura buat Sukses di Era AI
Assistans Dean (Digital Operations) NUS Business School, Tan Hong Ming (kanan) dan Direktur PT Surya Citra Media, David Setiawan Suwarto (kiri). DOK NUS Business School

Tantangan organisasi ganjalan adopsi AI

Direktur PT Surya Citra Media, David Setiawan Suwarto, menilai Indonesia sudah siap menggunakan AI. Pada dasarnya, kata dia, penggunaan AI tidak sulit asal bisa memberikan
instruksi yang jelas dan tahu apa yang diinginkan.
 
Dia menyebut salah satu yang sulit adalah kondisi organisasi. Banyak perusahaan tidak bisa menyediakan AI berbayar bagi karyawannya.  
 
Belum lagi, banyak karyawan 'hilang-hilangan' di jam kerja ketika pekerjaan dimudahkan. 
"Lalu terus untuk mengupgrade diri. Seringkali kayaknya kita gak upgrade diri, tapi nonton Netflix, nonton YouTube, nonton TikTok sama Instagram, mana ada upgrade diri," tutur alumni NUS Business School Fakultas Finance Tahun 2009 itu. 
 
David juga menekankan pentingnya komunikasi. Dia mengatakan komunikasi sangat penting di era AI agar ide dan implementasi bisa berjalan lancar.  
 
Pemimpin harus mau terbuka dan belajar perkembangan teknologi. Sebaliknya, karyawan mesti menjalankan hal-hal yang sudah menjadi keputusan akhir. 
 
"Kalau gak dikasih pengetahuan sama toolsnya, gak dikasih tau caranya, saya rasa akan bingung-bingung, dan akhirnya lama-lama, 'ah udah lah, gak usah dikerjain aja'," tutur David. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan