ilustrasi. Dok Medcom
ilustrasi. Dok Medcom

AI Bakal Ubah Banyak Profesi, Ini Tips Buat Mahasiswa Baru Siapkan Kompetensi

Ilham Pratama Putra • 18 Agustus 2026 16:01
Ringkasnya gini..
  • AI diprediksi mengubah berbagai profesi, mulai dari medis, hukum, teknik hingga bisnis.
  • Mahasiswa diminta tetap mengasah daya kritis dan kemampuan mengambil keputusan.
  • AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengendali keputusan dan kehidupan manusia.
Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diprediksi mengubah cara berbagai profesi bekerja. Kondisi ini membuat mahasiswa tidak cukup hanya menguasai bidang akademik, selama kuliah. 
 
"Mahasiswa tetapi juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan memahami batas penggunaan teknologi. kata Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Niel Nielson dalam rangkaian UPH Festival 2026, dikutip Selasa 18 Agustus 2026. 
 
Nielson turut mengingatkan mahasiswa baru agar tidak melihat AI sebagai pengganti kemampuan dan pertimbangan manusia. Menurut Nielson, AI akan memengaruhi berbagai bidang pekerjaan, mulai dari kedokteran, hukum, teknik, hingga bisnis. 
 
Baca juga: Ada Dua Hal Ancam Ambisi AI di Sektor Kesehatan, Apa Aja?  


Ia menilai jika Teknologi tersebut mampu menghitung, memprediksi, dan mengolah data dalam waktu sangat cepat. Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta membuat AI dapat menggantikan seluruh peran manusia.
 
“AI dapat menghitung, memprediksi, dan memproses data dengan sangat cepat. Namun, AI tidak dapat mengasihi, tidak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan secara moral, serta tidak dapat berkorban bagi orang lain,” ujar Nielson.
 
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan yang tidak sekadar berkaitan dengan penguasaan teknologi. Daya kritis, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kemampuan membangun relasi dengan orang lain tetap menjadi bagian penting yang perlu dikembangkan.
 
“AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda,” tegasnya.
 
Selain persoalan teknologi, mahasiswa juga didorong tidak menjadikan kuliah semata-mata sebagai jalan menuju profesi tertentu. Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH, Andry M. Panjaitan, mengatakan mahasiswa perlu melihat masa kuliah sebagai proses menemukan dan mengembangkan talenta.
 
Ia menekankan bahwa panggilan hidup tidak berhenti pada pilihan karier. Tantangan, pengalaman organisasi, riset, kompetisi, hingga komunitas dapat menjadi bagian dari proses mahasiswa mengenali kemampuan dan tujuan hidupnya.
 
“Jangan pernah takut bermimpi besar di kampus ini. Bergabunglah dalam organisasi, tekuni riset, ciptakan karya seni dan teknologi, ikut kompetisi, dan bangun persahabatan sejati,” kata Andry.
 
Menurutnya, mahasiswa juga perlu menggunakan ilmu dan pengaruh yang dimiliki secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap masuk dunia kerja, tetapi juga individu yang mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.
 
Perubahan teknologi yang semakin cepat membuat mahasiswa perlu mempersiapkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Penguasaan bidang keilmuan tetap penting, tetapi kemampuan mengambil keputusan, memahami dampak teknologi, bekerja bersama orang lain, dan menentukan tujuan hidup menjadi bekal yang tidak kalah penting.
 
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian UPH Festival 2026 yang berlangsung pada 13-15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mengajak mahasiswa baru mempersiapkan diri menghadapi kehidupan perkuliahan, termasuk memahami perubahan dunia dan menentukan tujuan hidup.
 
UPH Festival 2026 sendiri mengusung tema “Called: Why Am I Here?”. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa baru. Sekaligus pengenalan lingkungan dan nilai-nilai yang akan mereka jalani selama masa perkuliahan.
 
Baca juga: 
 
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan