Master Specialist Technology Division, Ministry of Education Singapore, Cindy Ong. Foto: Medcom/Citra Larasati
Master Specialist Technology Division, Ministry of Education Singapore, Cindy Ong. Foto: Medcom/Citra Larasati

Bukan Dikte, Singapura Buka-bukaan Resep Siapkan Kapasitas Guru Hadapi Era AI

Citra Larasati • 24 Juli 2026 20:38
Ringkasnya gini..
  • Menyoroti pendekatan unik Singapura membangun kapasitas guru untuk menggunakan AI dan pendidikan yang aman dan bertanggungjawab
  • Strategi Singapura bertumpu pada tiga pilar utama.
  • Yakni pengetahuan, alat dan kemandirian
Singapura: Di sela-sela riuhnya The 14th ASEAN Education Ministers Meeting, ada satu pembahasan yang mengusik perhatian. Di tengah gempuran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mengubah wajah dunia, bagaimana para pahlawan tanpa tanda jasa, yakni guru, dipersiapkan untuk menghadapi gelombang ini?
 
"Selamat pagi, tuan-tuan dan para delegasi. Terima kasih atas kesempatan ini untuk berbagi tentang bagaimana Singapura membangun kapasitas guru untuk menggunakan AI dan pendidikan yang aman dan bertanggungjawab," kata Master Specialist Technology Division, Ministry of Education Singapore, Cindy Ong membuka paparannya dengan mantap, sehingga mampu mencuri perhatian para delegasi yang hadir di sela-sela gelaran 14th ASED, di Singapura, 22 Juli 2026 lalu.
 
Jawabannya bukan sekadar pelatihan teknis atau instruksi kaku dari kementerian, melainkan sebuah filosofi mendalam. Meminjam pesan lugas yang disampaikan Ong dalam paparannya di acara tersebut.

"Jangan beri mereka ikan, tapi ajari cara memancingnya," kata Ong.
 
Paparan Ong memukau hadirin yang hadir, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti yang menyimak dengan cermat dan seksama di barisan depan kursi para delegasi.  Ong menekankan, membangun kapasitas guru bukan tentang mendikte mereka langkah demi langkah.
 
Sebaliknya, ini tentang memberdayakan mereka untuk membuat keputusan terbaik yang disesuaikan dengan konteks ruang kelas dan siswa mereka masing-masing.

Pengetahuan, Alat, dan Kemandirian

Ong menjelaskan, bahwa strategi Singapura bertumpu pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah berbagi pengetahuan daripada sekadar memberikan penyelesaian (solusi instan). Alih- alih memberikan panduan teknis yang kaku, Kementerian Pendidikan Singapura memilih untuk merumuskan prinsip-prinsip dasar yang jelas mengenai kapan, di mana, dan mengapa AI harus atau tidak harus digunakan.
 
“Pembangunan kapasitas bagi guru-guru kami bukan tentang memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, tetapi menggunakan mereka untuk membuat keputusan yang tepat untuk konteks mereka dan memungkinkan mereka untuk melakukan yang terbaik untuk para pelajar mereka." terangnya.
 
Prinsip ini sangat penting karena lanskap teknologi berubah begitu cepat. Sekolah seringkali membutuhkan respons yang jauh lebih tangkas daripada menunggu arahan resmi dari atas. Dengan berpegang pada prinsip yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student - centric), guru dapat mengambil keputusan instruksional harian dengan penuh percaya diri.
 
Bukan Dikte, Singapura Buka-bukaan Resep Siapkan Kapasitas Guru Hadapi Era AI
Suasana belajar di kelas North Vista Primary School Singapura. Foto: Medcom/Citra Larasati

Mengajarkan "Tentang" dan "Dengan" AI

Salah satu poin yang paling ditekankan adalah perubahan paradigma dari sekadar menggunakan alat menjadi memahami alat. Singapura berkomitmen mengajarkan murid bukan hanya bagaimana menggunakan AI, melainkan belajar tentang AI dan belajar dengan AI.
 
“Kami tidak menganggapnya bahwa seseorang atau pelajar yang dapat menggunakan AI juga dapat belajar dengan AI. Jadi kita perlu mengajar dan belajar bagaimana menggunakan AI dan belajar bagaimana belajar dengan AI,” kata Ong.
 
Namun, inovasi ini tetap dibatasi oleh rambu-rambu kehati-hatian. Ada area sakral di mana AI dilarang keras untuk campur tangan, yakni ranah emosional dan kesehatan mental siswa.
 
Singapura menyadari bahwa tahap formatif anak membutuhkan kehangatan interaksi manusia seutuhnya. Berbicara dengan chatbot saat siswa merasa cemas atau tertekan bukanlah solusi,  mereka diarahkan untuk mencari orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti guru dan orang tua.

Ekosistem Belajar yang Mendorong Kemandirian

Pilar kedua dan ketiga melengkapi strategi ini dengan menyediakan alat-alat yang diperlukan dan memupuk semangat kemandirian (self sufficiency). Melalui platform seperti Ruang Pembelajaran Pelajar Singapura, kementerian tidak memaksakan satu alat seragam untuk semua. Sebaliknya, mereka memberikan otonomi bagi guru dan sekolah untuk memilih, merakit, atau mengadopsi alat AI (baik sentral maupun off the shelf) yang paling sesuai dengan kebutuhan kelas.
 
Pada akhirnya, apa yang dibangun Singapura bukanlah sebuah sistem kontrol yang kaku, melainkan sebuah ruang aman untuk eksplorasi. Ruang di mana guru dan siswa tidak takut mengambil risiko, saling membantu saat tersandung, dan memecahkan tantangan baru yang datang tak terduga. Sebuah pendekatan elegan untuk sebuah disrupsi besar di dunia pendidikan.

Baca Juga :

Momen Hangat Mendikdasmen dengan Menteri Pendidikan Singapura, Bahas MoU, AI hingga Durian


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan