Pertemuan ini menjadi ajang penting bagi kedua negara untuk merumuskan masa depan pendidikan yang lebih inklusif, relevan dengan perkembangan disrupsi teknologi dan Artificial Intelligence (AI). Pertemuan ini sekaligus memperbarui kerja sama bilateral yang telah berjalan baik selama ini.
Jurang Geografis dan Solusi Digitalisasi
Dalam diskusi tersebut, Abdul Mu'ti menyoroti tantangan besar Indonesia yang memiliki lebih dari 50 juta pelajar, di mana banyak di antaranya tinggal di wilayah pelosok. Ia menegaskan bahwa kebijakan Presiden RI, Prabowo Subianto saat ini berfokus pada pendidikan jarak jauh (distance learning) yang lebih fleksibel dengan bantuan teknologi."Dan seperti yang diperkenalkan oleh Malaysia, kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi, termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota di Indonesia, dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri," ujar Abdul Mu'ti dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pendidikan Singapura, Desmond Lee, di sela-sela 14th ASED, di Singapura, Rabu, 22 Juli 2026.

Pembaruan MoU Jelang 60 Tahun Hubungan RI-Singapura
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas terkait tahun depan yang akan menjadi momentum penting peringatan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Singapura. Memanfaatkan momentum ini, Desmond Lee menginisiasi pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan yang terakhir disepakati pada 2017 silam."Sejak 2017, banyak yang telah berubah. Teknologi, AI, fokus kita terhadap masalah di seluruh dunia, sehingga secara domestik, kita mengambil peluang, memperbaiki MoU-nya, menyesuaikan, dan membuatnya berorientasi ke masa depan, untuk kolaborasi Indonesia-Singapura," kata Desmond Lee.
Menyambut hal itu, Mu'ti juga membuka peluang kemitraan dengan entitas Singapura, seperti Temasek atau perusahaan lain yang beroperasi di Indonesia, untuk membantu pelajar di wilayah terdekat dengan Singapura seperti Sumatra. Khususnya bagi anak-anak yang terdampak masalah learning loss dalam pendidikan.
AI Punya Batas, Tak Punya 'Sense Humor'
Meski sepakat bahwa AI adalah masa depan, Abdul Mu'ti memberikan catatan kritis. Menurutnya, penggunaan AI yang berlebihan dapat memicu kelemahan pada budaya literasi dan kemampuan berpikir mendalam pada pelajar."Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi, jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak," tegas Mu'ti.
Sebagai bukti bahwa teknologi tak bisa sepenuhnya menggantikan manusia, Mu'ti membagikan pengalaman lucunya saat mencoba menggunakan AI untuk hal yang berkaitan dengan budaya lokal Indonesia yang memiliki 729 bahasa daerah.
"Suatu hari, saya meminta AI untuk mempersiapkan paparan presentasi dalam bahasa Jawa. Dan AI menjawab, maaf, saya tidak bisa melakukannya. Mereka tidak bisa menggantikan manusia. Jadi AI itu bukan manusia, AI tidak mempunyai sense of humor," seloroh Mu'ti yang mengundang tawa seisi ruangan.
Sekolah Indonesia di Singapura
Selain soal teknologi, Mendikdasmen juga memperjuangkan isu-isu esensial bagi warga negara Indonesia di Singapura. Mu'ti mengangkat pembahasan mengenai nasib Sekolah Indonesia di Singapura yang dikabarkan akan berakhir masa tempatnya pada April 2027.Ia meminta adanya konsesi atau solusi bersama terkait hal ini, termasuk membahas peningkatan kompetensi bagi tenaga pendidik dan pekerja migran Indonesia agar semakin profesional selama bekerja di Singapura.

Pertemuan bilateral yang hangat antara Mendikdasmen, Abdul Mu'ti dengan Menteri Pendidikan Singapura, Desmond Lee. Foto: Medcom/Citra Larasati
Pertemuan yang berjalan sangat hangat ini ditutup dengan diplomasi budaya. Keduanya saling bertukar apresiasi mengenai angklung, batik megamendung khas Cirebon, corak Batik Peranakan, hingga ditutup dengan candaan soal buah Durian.
"Jadi durian menyatukan kita," canda Mu'ti yang disetujui oleh Desmond Lee, mencerminkan kuatnya kedekatan kultural di antara kedua negara tetangga ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda