Keliru Metode Belajar, Matematika Sukses Jadi Momok
Pengamat pendidikan Abad 21 dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, Medcom.id/Citra Larasati.
Jakarta:  Rendahnya kompetensi matematika siswa Indonesia perlu disikapi serius.  Salah satu yang terpenting adalah mengubah metode belajar matematika, yang selama ini hanya mengajarkan teori, namun luput pada penerapan yang konstektual.

Pengamat pendidikan Abad 21 dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji mengatakan, banyak guru dan orangtua yang keliru dalam menerapkan metode belajar matematika pada anak.  Sebagian besar pendidik hanya mengajarkan matematika sebatas hapalan rumus, dan hitungan angka.


"Guru harusnya bukan lagi mengajarkan materinya, tapi skill bermatematika.  Hilangkan mengejar angka dan nilai semata, yang membuat anak datang ke sekolah tapi sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa," kata Indra di Jakarta, Selasa, 13 November 2018.

Baca: Selamatkan Generasi Emas Indonesia dari Buta Matematika

Matematika harus diajarkan dengan menggunakan pendekatan yang kontekstual, dan dekat dengan keseharian.  Siswa seringkali hanya menghapal rumus, namun mengalami kebingungan ketika diberikan soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

"Jadi setelah menguasai berhitungnya, harus pula digunakan di kehidupan sehari-hari.  Misal saya ke kantin beli dua buah roti ditambah empat gelas minuman, terus anak bingung padahal itu kan rumus yang kontekstual," terangnya.

Matematika konstektuallah yang sebenarnya banyak diperkenalkan dalam konsep Sains Technology, Engineering, and Mathematic (STEM) saat ini.  Bahkan di sejumlah olimpiade-olimpiade matematika dan sains sudah sejak lama mengujikan soal yang menuntut siswa melatih kemampuan matematika kontekstualnya atau soal Higher Order Thinking Skill (HOTS). 

"Sudah tidak zamannya lagi hanya matematika teori," tegas Indra.

Hal ini pula yang menjadi tantangan terbesar dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.  Selain metode belajar yang kuno, juga kondisi guru yang tidak ditingkatkan skill 
mengajarnya, membuat matematika hanya dipahami sebatas teori, bahkan sukses membuat matematika menjadi momok.

"Ditambah lagi sejumlah kepala daerah juga masih berpandangan kuno, mereka menganggap mengejar nilai Ujian Nasional (UN) misalnya, adalah segalanya.  Jadi yang dikejar sebatas angka, nilai ujian," sesalnya. 

Baca: Indonesia Gawat Darurat Matematika

Dalam penelitian yang dilakukan RISE (Research on Improvement of System Education), kata Indra, pertanyaan 1/3 dikurang 1/6 anak ketika ditanyakan kepada anak usia 8 tahun, yang mampu menjawab hanya 2,9%.  Soal yang sama ditanyakan kepada anak usia 18 tahun, yang bisa menjawab hanya 8,9% dan usia 28 tahun hanya 6,8%. 

"Jadi soal hitungan matematika dasar saja itu sudah parah banget," tutup Indra.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id