Rasa tidak nyaman akibat suhu lingkungan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Kondisi ini dapat meningkatkan stres dan berdampak pada cara seseorang merespons orang di sekitarnya.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan beban stimulus yang diterima tubuh ketika menghadapi lingkungan yang tidak nyaman.
Lantas, bagaimana cuaca panas bisa memicu emosi, dan apa yang bisa dilakukan agar tidak mudah marah? Berikut penjelasannya.
Beban Stimulus Picu Hormon Stres
Menurut Alifah, tubuh punya batas kapasitas dalam menerima stimulus dari lingkungan. Ketika stimulus yang diterima melebihi batas normal, tubuh akan merespons dengan meningkatkan hormon kortisol.“Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” jelas Alifah dikutip dari laman umm.ac.id, Senin, 12 Oktober 2026.
Peningkatan stres akibat kondisi lingkungan inilah yang dapat memengaruhi respons emosional seseorang. Suhu panas membuat tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi, sehingga rasa lelah dan tidak nyaman ikut meningkat.
Mengapa Jadi Lebih Sensitif?
Kondisi tersebut juga dapat membuat proses berpikir tidak berjalan optimal. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih sensitif ketika menangkap perkataan maupun tindakan orang lain.Hal-hal yang sebenarnya bersifat netral dapat lebih mudah dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif. Alifah memberi contoh bagaimana persepsi itu bisa bergeser.
“Hal-hal yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, 'kok nyolot', atau bercanda tapi kok kayaknya kasar,” ungkap Alifah.
Dehidrasi dan Kurang Tidur Memperburuk Keadaan
Selain suhu lingkungan, kondisi tubuh juga berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Dehidrasi dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi fisik sekaligus memengaruhi keadaan psikologis.Karena itu, menjaga kondisi tubuh menjadi hal penting ketika menghadapi cuaca panas. Salah satunya dengan memperhatikan kualitas tidur.
Alifah menegaskan tidur yang baik tidak hanya berkaitan dengan lamanya seseorang tidur, tetapi juga kualitas istirahat yang diperoleh tubuh dan otak.
“Tidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tutur Alifah.
Tidur yang sering terbangun atau tidak nyenyak belum tentu memberikan pemulihan secara optimal. Sebaliknya, tidur berkualitas membantu tubuh dan pikiran beristirahat sehingga seseorang lebih siap menjalani aktivitas.
Langkah Sederhana Saat Mulai Mudah Tersulut
Ketika mulai merasa mudah tersulut emosi akibat cuaca panas, Alifah menyarankan untuk mengurangi stimulus yang membuat tubuh semakin tidak nyaman. Berteduh, minum, atau mencuci muka dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan."Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh. Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu nggak masalah sebenarnya," ungkap Alifah.
Alifah juga mengajak masyarakat mengenali emosi dan strategi pribadi dalam menghadapi stres. Menurutnya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengelola tekanan, sehingga penting untuk memahami kondisi diri sendiri.
“Yang pertama itu simple, kita kenal emosi kita. Kita tahu hal-hal apa yang bisa membuat kita senang sama membuat kita bete,” ujar dia.
Dengan mengenali kondisi tubuh, menjaga kualitas tidur, memenuhi kebutuhan cairan, serta mengurangi paparan panas ketika mulai merasa tidak nyaman, seseorang dapat lebih siap mengendalikan respons emosional di tengah cuaca panas. (Talitha Islamey)