Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah toxic positivity. Artinya, seseorang dituntut untuk selalu bersikap positif dalam situasi apa pun. Perasaan sedih, kecewa, dan marah dianggap keliru sehingga harus segera dihilangkan.
Sikap ini sering muncul tanpa disadari dalam percakapan sehari-hari. Kalimat penghibur yang tampak sepele ternyata dapat membuat seseorang merasa perasaannya tidak dianggap penting.
Media sosial turut memperkuat tekanan tersebut. Konten yang ceria lebih sering dibagikan sehingga banyak orang merasa harus selalu tampak baik-baik saja.
Lantas, apa sebenarnya toxic positivity, dampaknya, dan contoh kalimatnya? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah kecenderungan memaksa diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir positif. Akibatnya, stres dan emosi negatif tidak diakui. Ciri utamanya adalah ketidakmauan menerima perasaan yang tidak menyenangkan.Mengutip laman psychologytoday.com, istilah ini bukan istilah resmi maupun diagnosis dalam dunia psikologi. Istilah tersebut hanya digunakan untuk menyebut suatu pola perilaku. Sikap optimis dan rasa syukur tetap bermanfaat. Masalah muncul ketika sikap positif digunakan untuk menolak perasaan negatif.
Contoh Kalimat Toxic Positivity
Saat seseorang sedang lelah atau stres
- "Duh, masih untung lu punya kerjaan, di luar sana banyak yang nganggur."
- "Yaelah, gitu aja ngeluh. Kurang-kurangin syukur lu mah."
Saat seseorang sedih atau galau
- "Udah, nggak usah dipikirin, dibawa happy aja!"
- "Pikirannya yang positif-positif dong, biar nggak gampang sedih."
Saat seseorang lagi kena musibah atau kehilangan
- "Semua hal tuh pasti ada hikmahnya, ambil positifnya aja ya."
- "Udah jangan nangis mulu, ikhlasin aja. Berarti belum rezekinya."
Saat membandingkan masalah dengan orang lain
- "Lu mah masih mending, coba liat di luar sana yang hidupnya lebih susah dari lu."
Saat seseorang sedang memendam perasaan sendiri
- "Ah, gue mah baik-baik aja, paling cuma kecapekan dikit."
Saat memaksakan hubungan keluarga yang toxic
- "Namanya juga keluarga, sekesal apa pun ya harus tetap disayang dan dimaafin."
Tanda-Tanda Toxic Positivity
Mengutip laman ukp.psikologi.ugm.ac.id dan verywellmind.com, seseorang dapat dikatakan terlalu positif secara tidak sehat apabila:
- Sering menghindari masalah dan tidak menghadapinya
- Menyembunyikan perasaan asli di balik kutipan penyemangat
- Meremehkan perasaan orang lain karena merasa tidak nyaman
- Menyalahkan orang yang tidak bersikap positif
- Merasa bersalah karena sedih, marah, atau kecewa,
- Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya,
- Memaksa diri untuk tegar dan segera "move on".
Dampak Toxic Positivity
- Menimbulkan rasa malu dan bersalah. Seseorang merasa perasaannya keliru atau tidak pantas
- Mendorong penghindaran emosi. Lama-kelamaan, seseorang terbiasa mengabaikan perasaannya sendiri
- Menghambat perkembangan diri. Emosi sulit sebenarnya dapat memberi pelajaran, tetapi tidak sempat dihadapi
- Merusak hubungan. Orang menjadi enggan terbuka karena merasa tidak dimengerti
- Mengganggu kesehatan mental. Toxic positivity memberi dampak berupa stres, kecemasan, keluhan fisik akibat tekanan pikiran, terlalu banyak berpikir (overthinking), menurunnya rasa percaya diri dan nafsu makan, serta mudah lelah
Contoh Kalimat yang Lebih Menenangkan
Sebagai pengganti ‘pokoknya positif saja’, kalimat berikut dapat digunakan karena menerima perasaan lawan bicara:Saat teman ingin didengar
- "Gue di sini ya, kalau lu mau cerita apa pun silakan."
- "Santai, lu bebas kok mau cerita atau nangis sepuasnya."
Saat mengakui beban atau kesusahan mereka:
- "Duh, berat banget ya, pasti capek ya ngadepin itu semua."
- "Parah sih, kalau jadi lu gue juga bakal stres banget."
Saat meyakinkan bahwa emosi mereka normal:
- "Wajar banget kok kalau lu ngerasa sedih/kesal gitu, nggak usah ditahan."
- "Nggak apa-apa kok ngerasa down, itu manusiawi banget."
Saat menawarkan bantuan secara tulus:
- "Mau ditemenin dulu nggak? Atau ada yang bisa gue bantu sekarang?"
- "Kalau butuh teman ngobrol atau sekadar temen nongkrong tanpa bahas masalahnya, kabarin gue ya."
Cara Menyikapi Toxic Positivity
Unit Konsultasi Psikologi UGM menyarankan realisme emosional, yaitu menerima bahwa emosi negatif merupakan hal wajar dan memang dibutuhkan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:- Mengenali perasaan dengan lebih jelas. The Feelings Wheel dapat membantu membedakan, misalnya, 'kecewa' dan 'kesepian'
- Menuangkan perasaan ke dalam kata-kata. Menulis jurnal atau bercerita kepada orang tepercaya dapat mengurangi intensitas perasaan tidak nyaman
- Menerima bahwa perasaan bisa bercampur. Cemas dan berharap dapat dirasakan bersamaan
- Menanggapi dengan tenang apabila menerima respons yang bersifat toksik, serta menyampaikan keberatan bila situasinya memungkinkan
- Memperhatikan perasaan setelah melihat konten 'positif' di media sosial. Jika justru muncul rasa bersalah, konsumsi konten tersebut sebaiknya dikurangi
- Menemui profesional seperti psikolog apabila mengalami kesulitan mengelola emosi