Rhenald menggambarkan fenomena tersebut melalui kebiasaan berkomentar, berdebat, menyalahkan orang lain, hingga memberikan penilaian buruk secara impulsif. Menurut dia, perkembangan teknologi seperti artificial intelligent (AI) dan kebiasaan menggunakan smartphone turut memengaruhi pola perilaku tersebut.
“Generasi tantrum itu komentarnya banyak, berdebat, kemudian menyalahkan orang lain, kasih bintang satu, kemudian viral,” ujar Rhenald melalui unggahannya di Instagram @rhenald.kasali dikutip Selasa 29 September 2026. Menurut Rhenald, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan cara seseorang berkomunikasi di ruang digital. Lebih jauh, ia menyoroti kemampuan manusia dalam mengendalikan dirinya ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan.
Rhenald mengatakan teknologi pada dasarnya dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun, ketergantungan yang berlebihan justru dapat membuat manusia menyerahkan semakin banyak proses kepada teknologi.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai cognitive offloading. Yakni ketika manusia menyerahkan sebagian proses berpikir kepada perangkat atau teknologi.
Jika sebelumnya manusia mengandalkan kalkulator untuk membantu menghitung, kini teknologi berkembang dengan hadirnya smartphone dan AI yang dapat membantu mencari informasi hingga mengerjakan berbagai tugas. Menurut Rhenald, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan manusia untuk tetap mengendalikan dirinya.
“Self-control ini adalah modal manusia. Jadi kehilangan hal ini tentu mengkhawatirkan,” katanya.
Ia menilai manusia yang tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri akan lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan maupun teknologi yang digunakannya. Masifnya penggunaan teknologi kata dia dapat memperparah kontrol tersebut.
“Manusia tanpa kemampuan mengendalikan dirinya akan dikendalikan oleh orang lain, dikendalikan teknologi, dan akhirnya mudah tantrum,” tegas Rhenald.
Ilustrasi anak. Foto: Pexels
Rhenald juga menyoroti kebiasaan orang tua memberikan smartphone kepada anak ketika menghadapi situasi yang sulit. Anak kemudian dialihkan dengan YouTube, video, gim, atau berbagai konten digital lainnya.
Menurut dia, cara tersebut memang dapat membuat anak berhenti dari perilaku tertentu untuk sementara. Namun, persoalan yang lebih penting adalah bagaimana anak belajar mengelola emosi dan mengendalikan dirinya tanpa selalu bergantung pada perangkat.
Di sinilah kemampuan self-control menjadi penting. Anak perlu memiliki kemampuan menghadapi rasa bosan, kecewa, atau keinginan yang tidak terpenuhi tanpa selalu mencari pelarian melalui perangkat digital.
Fenomena generasi tantrum yang disoroti Rhenald pada akhirnya bukan sekadar persoalan anak yang mudah marah. Ia mengingatkan bahwa kemampuan mengendalikan diri menjadi semakin penting ketika manusia hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin mampu memenuhi berbagai kebutuhan secara instan.
"Penting bagi generasi muda untuk tetap mampu mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya," pungkas dia.