Head of Payment Ecosystem Risk, Asia Pacific Visa, Wanjing Ji
Head of Payment Ecosystem Risk, Asia Pacific Visa, Wanjing Ji

AI Bikin Scam Makin Canggih, Visa Temukan 500 Situs Penipuan

Fatha Annisa • 24 September 2026 18:07
Ringkasnya gini..
  • AI membuat penipuan digital semakin cepat, meyakinkan, personal, dan berskala besar.
  • Visa menemukan lebih dari 500 situs penipuan yang memanfaatkan AI, dengan potensi fraud lebih dari USD25 juta.
  • Pelaku juga memanfaatkan social engineering dan celah pada proses, organisasi, serta manusia untuk menipu korban.
Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mengubah lanskap penipuan digital. Teknologi ini membuat pelaku kejahatan siber dapat menjalankan serangan secara lebih cepat, meyakinkan, personal, dan dalam skala yang lebih besar.
 
Head of Payment Ecosystem Risk, Asia Pacific Visa, Wanjing Ji, mengatakan ancaman terhadap ekosistem pembayaran kini tidak hanya berasal dari fraud tradisional. Penipuan yang melibatkan manipulasi pengguna atau scam justru semakin berkembang dan menjadi perhatian.
 
“AI memungkinkan serangan terjadi di berbagai pasar, bahasa, dan saluran,” ujar Wanjing Ji dalam Media Roundtable Visa Indonesia Risk Forum 2026, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
 
Menurutnya, pelaku kini memanfaatkan celah yang tidak hanya berasal dari sistem teknologi, tetapi juga proses, organisasi, manusia, hingga berbagai pihak dalam ekosistem pembayaran.
 
“Para penipu mengalihkan fokus mereka. Jadi, di tempat-tempat di mana pertahanannya telah diperkuat, jika boleh dikatakan begitu, mereka berusaha mencari celah. Mereka beralih ke proses, organisasi, dan orang-orang yang lebih rentan,” kata Wanjing.
 
 
Wanjing mengatakan perkembangan penipuan juga membuat scam semakin terarah dengan memanfaatkan informasi mengenai korban. Salah satu metode yang berkembang adalah social engineering, yakni memanipulasi pengguna agar secara sadar memberikan informasi atau melakukan transaksi yang sebenarnya tidak sah.
 
“Penipuan telah menjadi sumber utama kerugian bagi konsumen. Jadi, seiring dengan semakin canggihnya teknologi otentikasi daring, ini bukan sekadar soal mencuri kredensial tersebut, bukan? Melainkan memanfaatkan informasi yang mereka miliki untuk menargetkan orang-orang, guna memengaruhi mereka,” katanya.
 
“Manipulasi perilaku dan rekayasa sosial ini pada dasarnya bertujuan agar orang-orang yang sah dan jujur menyerahkan data mereka untuk melakukan transaksi yang tidak sah,” lanjutnya.
 


Visa Temukan 500 Situs Penipuan

Perkembangan AI juga membuat serangan siber dapat berlangsung jauh lebih cepat. Wanjing mencontohkan, penggunaan perangkat berbasis AI dapat memangkas waktu yang dibutuhkan untuk melakukan serangan ransomware dari sekitar dua hari menjadi hanya 25 menit.
 
Selain itu, AI dimanfaatkan untuk membuat modus penipuan terlihat semakin meyakinkan. Visa menemukan jaringan situs penipuan yang menyamar sebagai merek fesyen dan gaya hidup dengan menggunakan gambar yang dibuat AI, template situs yang digunakan berulang kali, serta strategi optimasi mesin pencari dan media sosial untuk menjangkau korban.
 
“Kami mengungkap lebih dari 500 situs web penipuan. Dan hanya dari sampel yang sangat kecil, yang berhasil kami tangani bersama klien dan penegak hukum untuk menonaktifkannya, kami mengidentifikasi nilai penipuan sebesar lebih dari USD25 juta,” ungkapnya.
   
Wanjing melanjutkan bahwa perubahan modus tersebut menunjukkan bahwa penipuan kini semakin menyerupai sebuah operasi bisnis. Pelaku bahkan mulai menggunakan pola kerja terdistribusi, termasuk merekrut orang melalui tawaran pekerjaan palsu untuk menjalankan aktivitas penipuan dari jarak jauh.
 
Ia menilai perkembangan tersebut membuat kolaborasi berbagai pihak dalam ekosistem pembayaran menjadi semakin penting, mulai dari lembaga keuangan, perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, platform media sosial, hingga konsumen.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA