Direktur Wadhwani Entrepreneurship Network (WEN) Indonesia, Dion Dewa Barata. Foto: Wadhwani.
Direktur Wadhwani Entrepreneurship Network (WEN) Indonesia, Dion Dewa Barata. Foto: Wadhwani.

Gen Z Kerap Dicap Lembek Sama HRD? Patahkan dengan 5 Skill Ini!

Ilham Pratama Putra • 22 September 2026 17:28
Ringkasnya gini..
  • Gen Z dinilai sebagian pemberi kerja belum cukup tangguh menghadapi dunia kerja.
  • Kampus perlu memperkuat problem solving, adaptability, continuous learning, kolaborasi, dan keberanian belajar dari kesalahan.
  • Kesiapan kerja bukan hanya tanggung jawab mahasiswa, tetapi juga membutuhkan perubahan pendekatan pendidikan dan pendampingan di kampus.
Jakarta: Anggapan bahwa generasi Z kurang tangguh ketika memasuki dunia kerja menjadi catatan bagi perguruan tinggi. Kampus dinilai tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik, tetapi juga perlu menyiapkan keterampilan yang membuat lulusan mampu beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan yang terus berubah.

Direktur Wadhwani Entrepreneurship Network (WEN) Indonesia, Dion Dewa Barata mengatakan terdapat kesenjangan antara persepsi pemberi kerja dengan pandangan lulusan baru mengenai kesiapan mereka memasuki dunia kerja. Sebagian kalangan Human Resources (HR) menilai lulusan muda belum cukup tangguh, sementara para lulusan merasa memiliki kemampuan tetapi menghadapi kondisi dunia kerja yang berbeda.

"Kadang kala teman-teman dari HR itu melihat anak zaman sekarang itu kurang tangguh. Tapi di satu sisi mahasiswa atau lulusan itu merasa, 'Enggak kok, kita sebenarnya tangguh kok.' Jadi ada gap di situ," ujar Dion dalam keterangannya, Selasa 22 September 2026. 
Menurut dia, kesenjangan tersebut perlu dijawab melalui pembekalan yang lebih relevan sebelum mahasiswa benar-benar meninggalkan bangku kuliah. Pendidikan perlu memperkuat sejumlah keterampilan yang dapat membantu lulusan menghadapi persoalan nyata di tempat kerja.

Lantas apa saja yang perlu dilakukan kampus demi membentuk lulusan yang siap kerja? Berikut penjelasannya: 


5 Skill Wajib untuk Freshgraduate


1. Problem solving

Kemampuan memecahkan masalah menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu diperkuat mahasiswa. Dion mengatakan lulusan perguruan tinggi seharusnya tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu memberikan solusi ketika masuk ke dunia profesional.

"Mahasiswa harus menjadi problem solver. Jika dia memilih untuk tidak bekerja, maka buatlah pekerjaan yang bisa memecahkan masalah. Jika dia bekerja, jadilah pekerja yang berkontribusi," kata Dion.

Kemampuan tersebut juga semakin penting ketika dunia kerja menghadapi perubahan teknologi. Lulusan tidak cukup hanya mampu mengerjakan tugas rutin, tetapi perlu memahami persoalan dan menentukan solusi yang tepat.

2. Adaptability

Perubahan teknologi membuat kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Dion mengatakan mahasiswa perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan teknologi maupun kebutuhan dunia kerja yang dapat berubah dengan cepat.

"Adaptability, menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi. Pastinya kita harus menyiapkan para peserta supaya mereka bisa lebih adaptif," ujarnya.

Menurut Dion, pembelajaran juga perlu terus diperbarui. Agar materi yang diterima mahasiswa tidak tertinggal dari perkembangan kebutuhan industri.

3. Continuous learning

Lulus kuliah bukan berarti proses belajar selesai. Kemauan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan menjadi kemampuan yang dibutuhkan sepanjang perjalanan karier.

Dion mengatakan mahasiswa perlu memiliki pola pikir sebagai pembelajar sepanjang hayat. Keterampilan yang diperoleh ketika kuliah perlu terus dikembangkan setelah mereka memasuki dunia profesional.

"Continuous learning, kemauan untuk terus belajar sepanjang karier," katanya.

Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi dan jenis pekerjaan terus berkembang. Lulusan perlu siap mempelajari hal baru ketika tuntutan pekerjaannya berubah.

4. Kolaborasi dan komunikasi

Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan bekerja bersama orang lain. Kolaborasi menjadi bagian dari keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja karena penyelesaian persoalan profesional umumnya melibatkan lebih dari satu orang atau bidang.

Dion menyebut kolaborasi sebagai salah satu soft skill yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan dunia kerja. Keterampilan tersebut perlu dibangun sejak mahasiswa masih berada di lingkungan pendidikan.

5. Koneksi 

Sementara itu, VP & Country Director, Wadhwani Foundation Indonesia, Herdian Mohammad menyoroti pentingnya membangun jaringan sejak masa pendidikan. Menurut dia, relasi yang dibangun ketika seseorang masih sekolah atau kuliah dapat memberikan manfaat ketika memasuki dunia profesional.

"Setelah sudah selesai kuliah, baru kita merasakan bahwa our network is our net worth. Artinya kalau kita pandai bergaul saat kita sekolah, ini manfaatnya nanti," kata Herdian. Di samping itu, Kampus juga perlu membantu mahasiswa membangun keberanian untuk mencoba. Herdian mengatakan fresh graduate terkadang kurang percaya diri karena terbiasa dengan lingkungan pendidikan yang sangat memperhatikan hasil dan nilai.

Padahal, dunia kerja memberikan ruang bagi seseorang untuk melakukan kesalahan selama mampu belajar dan memperbaikinya. Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kesalahan tidak selalu berarti kegagalan.

"Making mistakes is okay. Semakin kita banyak bikin kesalahan, kita semakin cepat buat belajar," ujar Herdian.

Menurut dia, mahasiswa perlu didorong untuk mengenali kekurangan dan memperbaikinya dengan cepat. Sikap tersebut dapat membantu mereka berkembang ketika menghadapi persoalan yang belum pernah ditemui sebelumnya.

"Kalau kita bisa tunjukkan, 'Kamu kalau bisa belajar teori ini, bisa pakai buat bikin ini,' akan lebih relate dengan apa yang sekarang dan itu bisa membawa mereka untuk lebih cepat ke industri ke dunia kerja," tutupnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan