"Berdasarkan pemantauan terkini, El Nino saat ini masih bertahan dan telah mencapai level sangat kuat," tulis informasi dalam unggahan akun Instagram @infobmkg dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.
Hasil pemantauan Indeks Nino 3.4 menunjukkan nilai di atas 2, yang masuk kategori sangat kuat. Akibatnya, potensi kekeringan masih akan berlanjut hingga Oktober, khususnya di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lalu, kapan hujan diprediksi mulai turun dan langkah mitigasi apa yang perlu segera dilakukan? Berikut rangkuman informasi lengkap dari BMKG yang perlu diketahui masyarakat.
El Nino Diprediksi Berakhir pada 2027
BMKG memprediksi El Nino akan berakhir pada akhir catur wulan I tahun 2027. Namun, dampak kekeringan yang ditimbulkannya akan berakhir seiring mulainya musim hujan.Karena musim hujan datang terlambat, masyarakat diminta mewaspadai potensi kekeringan yang berlanjut hingga Oktober. Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
BMKG juga menegaskan akan terus memperbarui prediksi seiring perkembangan kondisi iklim jika diperlukan. Masyarakat diimbau selalu mengecek informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG.
Jadwal Awal Musim Hujan 2026/2027
BMKG merilis catatan jadwal awal musim hujan 2026/2027 yang dibagi dalam tiga bulan, yaitu:1. Oktober
Sebagian Sumatera, sebagian Jawa Barat, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi Barat, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian Maluku Utara, sebagian Papua Barat Daya, sebagian Papua Barat, sebagian Papua, sebagian Papua Pegunungan, dan Papua Tengah bagian timur.2. November
Sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.3. Desember
Sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.Dari jadwal tersebut terlihat bahwa wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT, yang paling rentan terhadap kekeringan, baru memasuki musim hujan secara luas pada November hingga Desember.
Rekomendasi Mitigasi untuk Lima Sektor
Untuk menghadapi dampak El Nino, BMKG menyampaikan rekomendasi bagi lima sektor.
1. Sektor pangan
Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) juga perlu dilakukan.2. Sumber daya air
Masyarakat dan pengelola diminta memanfaatkan air hujan, mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan.3. Energi
Pengelola diminta mengatur inflow dan elevasi waduk serta melakukan pelepasan air secara proporsional untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).4. Kesehatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi perlu dilakukan. Fasilitas kesehatan juga harus disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) dan penyakit akibat genangan pascahujan atau banjir.5. Kebencanaan
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada Oktober akibat mundurnya awal musim hujan. Bencana banjir dan longsor juga perlu diantisipasi pada awal dan puncak musim hujan.BMKG mengimbau masyarakat selalu merujuk pada informasi resmi, karena prediksi dapat diperbarui sesuai perkembangan kondisi iklim. Informasi lengkap tersedia di www.bmkg.go.id serta akun media sosial @InfoBMKG.
Sobat Medcom, itulah informasi mengenai perkembangan El Nino dan dampaknya di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)