Heri mengatakan para Guru Besar UI merupakan aset bangsa yang memiliki kompetensi keilmuan di berbagai bidang. Karena itu, mereka perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan yang tengah dihadapi masyarakat dan negara.
"Mereka memiliki kompetensi keilmuan yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Dan mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri," kata Heri dalam Temu Akbar Guru Besar UI, Rabu, 12 Agustus 2026.
| Baca juga: Berapa Gaji Dosen UI Sebenarnya? Rektor Ungkap Bisa Capai Rp45 Juta |
Menurut Heri, setelah mencapai kematangan akademik, Guru Besar tidak seharusnya berhenti pada aktivitas di lingkungan kampus. Mereka perlu memberikan kontribusi berdasarkan keilmuan dan data yang dimiliki.
"Di pertemuan ini juga untuk me-remind kembali fungsi Guru Besar kita di mana di antaranya di Universitas Indonesia itu diposisikan sebagai Guru Bangsa," ujarnya.
Heri menjelaskan posisi Guru Besar sebagai Guru Bangsa membuat mereka perlu memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang berkembang. Ketika satu persoalan berhasil diselesaikan, persoalan baru akan muncul sehingga membutuhkan analisis dan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
"Sudah selayaknya Guru Besar dalam hal ini Guru Besar Universitas Indonesia juga memiliki kepekaan terhadap apa yang dapat dikontribusikan kepada bangsa dan negara berbasis keilmuan dan data," jelasnya.
Menurutnya, Guru Besar dapat memberikan analisis sekaligus menawarkan berbagai alternatif solusi. Kontribusi itu juga tidak terbatas pada satu bidang karena persoalan nasional dapat membutuhkan pendekatan multidisiplin.
"Di sinilah peran Guru Besar untuk memberikan analisis, alternatif solusi yang berbasis keilmuan dan data-data," katanya.
| Baca juga: 3 Pesan Rektor UI ke Mahasiswa Baru: Ilmu, Akhlak dan Fisik Harus Seimbang! |
Ketua Dewan Guru Besar UI Eko Prasojo mengatakan UI saat ini memiliki 478 Guru Besar. Eko mengatakan para Guru Besar juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap perumusan kebijakan pemerintah melalui kajian dan masukan berbasis keilmuan.
"Tujuan kita selain silaturahmi tentu untuk memperkuat kolaborasi riset multidisiplin dan interdisiplin. Kemudian yang kedua juga bagaimana kita berperan berkontribusi untuk kebijakan yang lebih baik bagi pemerintah," pungkas Eko.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda