Direktur Pendayagunaan SDM Kesehatan Kemenkes, Jeffri Ardiyanto. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Direktur Pendayagunaan SDM Kesehatan Kemenkes, Jeffri Ardiyanto. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Dua Dokter Muda Meninggal, Kemenkes Janji Evaluasi Menyeluruh Program Internship

Ilham Pratama Putra • 07 Agustus 2026 19:05
Ringkasnya gini..
  • Meninggalnya dua dokter internship di Lampung dan Jakarta memicu kekhawatiran publik serta evaluasi nasional program internship dokter.
  • Kemenkes menyiapkan mitigasi berupa skrining kesehatan jiwa, sistem peringatan dini, dan penguatan pendampingan peserta internship.
  • Pakar kedokteran menegaskan evaluasi harus berfokus pada perbaikan sistem dan lingkungan belajar, bukan menyalahkan peserta didik.
Jakarta: Dua kabar duka yang datang berdekatan mengguncang dunia kedokteran Indonesia. Seorang dokter peserta program internship meninggal dunia di Lampung, lalu sepekan kemudian dokter internship lainnya ditemukan meninggal di Apartemen Kalibata, Jakarta Selatan.
 
Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan dokter muda, Fakultas Kedokteran, hingga masyarakat. Program yang sejatinya dirancang untuk memahirkan kompetensi dokter setelah lulus pendidikan itu kini menjadi sorotan dan mendorong evaluasi nasional.
 
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui dua kasus tersebut menjadi alarm penting untuk memperbaiki pelaksanaan internship dokter. Sejumlah langkah mitigasi disiapkan, mulai dari skrining kesehatan jiwa, sistem peringatan dini, hingga penguatan komunikasi dengan peserta dan keluarga.
 
Baca juga: 
 
 

Direktur Pendayagunaan SDM Kesehatan Kemenkes, Jeffri Ardiyanto, mengungkapkan kejadian tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali pelaksanaan program internship secara menyeluruh. Menurut dia, evaluasi tidak hanya menyangkut peserta, tetapi juga sistem pendampingan, komunikasi, dan kesiapan wahana pelayanan kesehatan.

"Nah, ini yang harus kita perbaiki menurut saya," ujar Jeffri di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.
 
Jeffri berharap berbagai perbaikan tersebut membuat program internship tetap menjadi proses pembelajaran yang aman dan bermanfaat. Menurut dia, internship penting untuk mempersiapkan dokter menghadapi dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.
 
"Kita ingin meningkatkan persentase yang baik itu supaya program internship ini bisa berjalan dengan nyaman, orang tua tidak khawatir lagi, anak-anak juga bisa menjalani programnya," kata Jeffri. 
 
Pandangan serupa disampaikan Ketua Bagian atau Kepala Divisi Fisiologi di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Djauhari Widjajakusumah. Menurut dia, ketika terjadi masalah dalam proses pendidikan, yang pertama kali dievaluasi semestinya adalah sistem, bukan peserta didik.
 
Baca juga: Belajar Jadi Dokter Tak Cukup di Kelas, Gunadarma Bikin 'Laboratorium Nyata'  

 
"Konsep pendekatan pendidikan adalah teacher blame approach and not the student blame approach. Jangan salahkan anak, salahkan diri kita sendiri, salahkan sistem," kata Djauhari. 
 
Djauhari menjelaskan internship merupakan bagian dari proses pendidikan dokter yang bertujuan mematangkan kompetensi menjadi kemahiran praktik. Program ini juga diterapkan di banyak negara untuk memastikan dokter siap menghadapi kondisi nyata di lapangan. 
 
Ia menegaskan internship harus menjadi proses pembelajaran bermutu, aman, dan berkesinambungan. Karena itu, semua pihak perlu duduk bersama memperbaiki sistem, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga organisasi profesi. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan