Model pembelajaran "laboratorium nyata" itulah yang diterapkan Fakultas Kedokteran Universitas Gunadarma (UG) melalui kegiatan bakti sosial kesehatan. Bakti sosial ini melibatkan sivitas akademika untuk melayani masyarakat secara langsung.
Melalui program Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UG Berdampak, Fakultas Kedokteran Universitas Gunadarma menggelar khitanan massal bagi 35 anak serta pemeriksaan kesehatan bagi 100 warga dan sivitas akademika. Bagi Fakultas Kedokteran Gunadarma, kegiatan tersebut bukan sekadar pengabdian kepada masyarakat.
"Pelayanan kesehatan secara langsung menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial," kata Tim Medis Fakultas Kedokteran Gunadarma, dr. Miftah dalam keterangannya, Selasa 7 Juli 2026.
| Baca juga: Sering Diminta Tanda Tangan Sebelum Berobat? Ini Arti Penting Informed Consent bagi Pasien |
Miftah mengatakan seluruh pelayanan tetap dilakukan dengan standar yang sama seperti di rumah sakit. Mulai dari tindakan khitan hingga pemeriksaan kesehatan, seluruh proses menerapkan standar operasional prosedur (SOP) klinis dan sterilitas.
"Meskipun ini adalah kegiatan sosial, kami menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) klinis dan sterilitas layaknya di rumah sakit. Ini adalah cerminan dari ekosistem belajar di Kedokteran Gunadarma," kata Miftah.
Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bekal penting bagi calon dokter. Selain dituntut presisi dalam ilmu kedokteran, lulusan juga harus mampu berkomunikasi dengan baik, memberikan rasa aman kepada pasien, dan memahami kebutuhan masyarakat dari berbagai latar belakang.
"Lulusan dituntut untuk tidak hanya presisi secara teori medis, tetapi juga harus humanis, komunikatif, dan mampu memberikan rasa aman bagi warga dari berbagai latar belakang," ujarnya.
Direktur Pelaksana Harian UPZ Universitas Gunadarma sekaligus Ketua Panitia, Mega Oktaviany, mengatakan kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan, pengabdian masyarakat, dan pengelolaan dana filantropi dapat berjalan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Menurut Mega, dana zakat yang dikelola UPZ tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan, tetapi juga menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk menerapkan kompetensinya secara langsung kepada masyarakat.
"Kegiatan ini memperlihatkan bahwa Gunadarma memiliki ekosistem yang utuh dan terpadu. Dana filantropi umat yang kami kelola di UPZ dieksekusi secara profesional oleh tenaga medis dari Fakultas Kedokteran kami sendiri," ujarnya.
Model kolaborasi tersebut turut mendapat apresiasi dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI. Perwakilan BAZNAS menilai integrasi antara pengelolaan zakat dan kekuatan akademik kampus menjadi pendekatan yang masih jarang diterapkan di perguruan tinggi.
Tidak banyak instansi yang bisa langsung mengeksekusi program kesehatan secara mandiri dengan memberdayakan fakultas kedokterannya sendiri. Baksi sosial model ini menjadi contoh pengelolaan zakat terpadu yang sangat efisien, tepat sasaran, dan patut menjadi percontohan nasional.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Gunadarma ingin menunjukkan bahwa proses pendidikan dokter tidak berhenti pada penguasaan teori. "Kampus juga berupaya membentuk lulusan yang siap mengabdikan ilmunya kepada masyarakat melalui pengalaman belajar yang nyata sejak di bangku kuliah," pungkasnya.
| Baca juga: Kuota FK di PTN Bakal Dipangkas, Mendikti: Banyak 'Retaker' Tak Lulus Ujian Dokter |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda