Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Wamendiktisaintek Stella Christie. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Efek Kebanyakan TikTok-an, Anak Muda Kini Tak Tahan Nonton Film Berdurasi Panjang

Ilham Pratama Putra • 23 Juli 2026 18:03
Ringkasnya gini..
  • Stella menilai attention economy menggerus kemampuan fokus generasi muda.
  • Kebiasaan scroll media sosial membuat konsentrasi semakin pendek.
  • Kampus diminta menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.
Riau: Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Tetapi juga memengaruhi kemampuan generasi muda dalam mempertahankan fokus. 
 
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menilai fenomena ini menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian, terutama di lingkungan pendidikan. Menurut Stella, derasnya arus informasi melalui media sosial membuat perhatian (attention) menjadi komoditas yang diperebutkan. 
 
Akibatnya, generasi muda semakin terbiasa mengonsumsi informasi secara singkat. Akibatnya, generasi saat ini kesulitan memberikan perhatian penuh terhadap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku hingga menonton film.

"Kalau kita lagi acara biasanya pada lihat HP sendiri. Ini zaman yang dalam riset disebut attention economy, kemampuan kita memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu semakin sedikit," ujar Stella dalam acara Tanoto Scholars Gathering 2026, di Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis 23 Juli 2026.
 
Baca juga: Gak Cuma Pinter, Ini Skill Biar Gak Diganti AI!  

 
Ia menjelaskan dampak fenomena tersebut kini mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, banyak riset menunjukkan generasi muda tidak hanya semakin sulit menyelesaikan bacaan panjang, tetapi juga mulai kehilangan ketahanan untuk menikmati film berdurasi lebih dari satu jam.
 
"Bahkan banyak riset memperlihatkan sekarang nonton film itu susah buat generasi muda. Karena biasa scroll TikTok tiga detik, begitu nonton film satu setengah jam rasanya kepanjangan," katanya.
 
Stella menilai perubahan pola konsumsi informasi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Menurut dia, kemampuan memberikan perhatian secara mendalam merupakan fondasi penting dalam proses belajar, berpikir kritis, hingga menghasilkan gagasan baru yang dibutuhkan di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
 
Karena itu, ia mengingatkan perguruan tinggi tidak cukup hanya beradaptasi dengan perkembangan AI. Tetapi juga harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat mahasiswa kembali tertarik untuk memperhatikan, berdiskusi, dan berpikir secara mendalam. 
 
Stella menilai tanpa kemampuan tersebut, kualitas pembelajaran akan terus tergerus meski teknologi pendidikan semakin maju. Dalam paparannya, Stella juga menyinggung tingginya penggunaan perangkat digital di Indonesia yang mencapai sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari. 
 
Lebih lanjut, menurut dia, perguruan tinggi harus mampu menjawab mengapa mahasiswa masih perlu datang ke kelas untuk belajar. Menurut dia berbagai disrupsi yang ada saat ini saling berkaitan.
 
"Kalau universitas tidak bisa menjawab pertanyaan ini, jangan-jangan bukan AI yang menggantikan universitas, tetapi HP yang lebih dulu menggantikannya," ujar Stella.
 
Ia menegaskan perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Penguatan kualitas pembelajaran bukan justru membuat manusia kehilangan kemampuan memberi perhatian secara utuh. 
 
"Kemampuan fokus akan menjadi salah satu keterampilan yang semakin bernilai ketika AI mampu mengambil alih berbagai pekerjaan rutin," pungkasnya. 
 
Baca juga: AI Masuk Peta Jalan Riset Nasional, Kampus Wajib Ajarkan AI Fundamental  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan