Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman di konferensi PACIS 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman di konferensi PACIS 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

AI Masuk Peta Jalan Riset Nasional, Kampus Wajib Ajarkan AI Fundamental

Ilham Pratama Putra • 06 Juli 2026 18:04
Ringkasnya gini..
  • AI resmi menjadi fokus dalam Peta Jalan Riset Nasional sebagai teknologi pengungkit lintas sektor.
  • Kampus didorong membekali mahasiswa dengan Fundamental AI dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab.
  • AI dinilai akan mengubah dunia kerja sehingga pendidikan perlu beradaptasi dengan keterampilan baru.
Jakarta: Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) resmi menjadi salah satu fokus dalam penyusunan Peta Jalan Riset Nasional. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan AI sebagai teknologi pengungkit untuk mempercepat pengembangan riset di berbagai sektor strategis.
 
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan AI tidak diposisikan sebagai bidang riset yang berdiri sendiri. Sebaliknya, teknologi tersebut akan diintegrasikan ke berbagai disiplin ilmu agar mampu meningkatkan kualitas dan kecepatan inovasi nasional hingga 2045.
 
"AI sudah masuk dalam Peta Jalan Riset Nasional. Konsepnya bukan berdiri sendiri, tetapi membantu berbagai bidang untuk tumbuh lebih cepat," ujar Fauzan dalam acara Asia Conference on Information Systems (PACIS), Senin, 6 Juli 2026.

Dia menjelaskan pemanfaatan AI akan diperluas ke berbagai sektor, seperti kesehatan, pertanian, energi, transportasi, pendidikan, hingga sosial ekonomi. Kehadiran AI diyakini mampu meningkatkan akurasi riset sekaligus membuat proses penelitian lebih efisien.
 
Di bidang kesehatan, misalnya, AI berpotensi membantu proses diagnosis penyakit, termasuk tuberkulosis, melalui analisis data yang lebih komprehensif sehingga tidak hanya bergantung pada pemeriksaan sinar-X. Teknologi serupa juga dinilai dapat mendukung pengembangan pertanian presisi, eksplorasi energi baru, hingga pengembangan kendaraan otonom yang kini mulai berkembang di sejumlah negara.
 
 
Baca juga: Kuota FK di PTN Bakal Dipangkas, Mendikti: Banyak 'Retaker' Tak Lulus Ujian Dokter  

 
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, perguruan tinggi didorong menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki literasi AI sejak dini. Fauzan menyebut sejumlah kampus telah menjadikan Fundamental AI sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswa tahun pertama.
 
Menurut dia, langkah itu penting agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya mampu menggunakan AI. Tetapi juga memahami prinsip, potensi, serta batasan penggunaannya.
 
"Yang penting bukan hanya bisa menggunakan AI, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab," kata dia.
 
Fauzan menilai perkembangan AI akan mengubah lanskap dunia kerja. Meski sejumlah jenis pekerjaan berpotensi tergantikan oleh otomatisasi, teknologi ini juga diperkirakan melahirkan profesi dan peluang kerja baru yang membutuhkan kompetensi berbeda.
 
Karena itu, sistem pendidikan dinilai perlu beradaptasi dengan memperkuat pembelajaran lebih fleksibel. Seperti pembelajaran dengan micro-credential dan micro-learning, sehingga masyarakat dapat meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan industri yang terus berubah.
 
Baca juga: Mengenal Azka Adziman Peserta CoC, Anak Dirjen Riset Kemendiktisaintek yang Tak Pernah Disuruh Belajar  

 
"AI itu seperti api. Bisa memberikan manfaat besar, tetapi juga bisa menimbulkan dampak buruk jika digunakan tanpa tanggung jawab. Karena itu, kita harus menyiapkan SDM yang mampu memanfaatkannya secara bijak," tutur Fauzan.
 
Asia Conference on Information Systems (PACIS) 2026 berlangsung di Pullman Hotel Thamrin CBD, Jakarta pada 4–8 Juli 2026. Konferensi ini diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI) sebagai host university bekerja sama dengan Telkom University, serta mengusung tema “Leapfrogging the Future with Artificial Intelligence”.
 
Ajang bergengsi tersebut mempertemukan lebih dari 1.500 akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan digital. Peneliti sistem informasi dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University, Profesor Juliana Sutanto, mengatakan PACIS merupakan konferensi utama bidang sistem informasi di kawasan Asia Pasifik. 
 
Menurut dia, terpilihnya Jakarta sebagai tuan rumah menjadi pencapaian besar bagi komunitas akademik Indonesia. “Kami sangat bangga bisa membawa PACIS 2026 ke Jakarta. Dukungan Universitas Indonesia dan Telkom University sangat besar dalam menghadirkan para peneliti sistem informasi terkemuka dari berbagai negara,” ujar Juliana.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA