Di tengah derasnya investasi teknologi dan semakin luasnya penggunaan AI di dunia usaha, banyak perusahaan dinilai belum memiliki kesiapan sumber daya manusia yang memadai untuk mendukung transformasi tersebut.
Laporan terbaru dari Lark yang melibatkan lebih dari 900 perusahaan dan 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi kesenjangan digital yang cukup lebar. Meski sembilan dari sepuluh perusahaan mengaku telah mendorong budaya kerja yang lebih terbuka terhadap teknologi, hanya sekitar 19 persen organisasi yang merasa telah mencapai tingkat kematangan digital.
Lebih dari separuh perusahaan masih berada pada tahap awal dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju ekonomi digital yang lebih produktif masih membutuhkan pembenahan mendasar, terutama dari sisi kualitas tenaga kerja.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa pengembangan ekonomi digital tidak cukup hanya mengandalkan investasi pada teknologi. Keberhasilan transformasi juga ditentukan oleh kemampuan perusahaan membangun budaya kerja digital, meningkatkan kompetensi karyawan, serta menciptakan lingkungan kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Transformasi Digital Belum Menyentuh Faktor Manusia
Laporan tersebut menyoroti bahwa banyak organisasi masih memandang transformasi digital sebagai proyek pengadaan teknologi. Investasi lebih banyak diarahkan pada perangkat lunak, otomatisasi, maupun infrastruktur digital, sementara peningkatan pengalaman kerja dan kemampuan karyawan belum menjadi prioritas utama.Akibatnya, perusahaan justru menghadapi berbagai persoalan operasional, mulai dari sistem kerja yang terfragmentasi, koordinasi lintas tim yang kurang efektif, hingga munculnya kesenjangan antara strategi digital yang dirancang manajemen dan praktik sehari-hari di lapangan.
Dalam konteks ekonomi digital, kondisi tersebut berpotensi mengurangi manfaat investasi teknologi. AI yang seharusnya meningkatkan efisiensi justru dapat menambah kompleksitas pekerjaan apabila tidak dibarengi penyederhanaan proses bisnis dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Empat Hambatan Pengembangan Ekonomi Digital
Riset tersebut mengidentifikasi empat persoalan utama yang masih menghambat optimalisasi AI di perusahaan Indonesia.Pertama, digitalisasi masih terkonsentrasi pada fungsi yang berorientasi efisiensi biaya seperti teknologi informasi, keuangan, dan pemasaran. Sementara itu, fungsi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia justru berkembang lebih lambat.
Kedua, bertambahnya jumlah aplikasi digital belum otomatis meningkatkan produktivitas. Banyak pekerja mengaku kehilangan waktu setiap minggu karena harus berpindah-pindah platform untuk berkomunikasi maupun menyelesaikan pekerjaan. Fragmentasi sistem ini menjadi salah satu penghambat efisiensi dalam ekonomi digital.
Ketiga, masih terdapat kesenjangan antara komitmen perusahaan terhadap inovasi dengan pengalaman yang dirasakan karyawan. Walaupun sebagian besar organisasi mengklaim mendukung budaya inovatif, tidak semua pekerja merasa memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan ataupun menentukan perangkat kerja yang paling sesuai.
Keempat, kesiapan menggunakan AI masih didominasi oleh kalangan manajemen. Para pimpinan umumnya memperoleh pelatihan lebih intensif, sedangkan sebagian besar karyawan masih membutuhkan peningkatan kompetensi, terutama dalam pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas dan memahami aspek keamanan siber.
Selain persoalan kompetensi, transparansi dalam penerapan AI juga menjadi tantangan
tersendiri. Banyak pekerja mengaku belum memperoleh penjelasan yang memadai mengenai bagaimana AI digunakan dalam operasional perusahaan maupun dampaknya terhadap pekerjaan mereka. Ketidakjelasan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran manusia.
Di sisi lain, kepercayaan terhadap proses kerja konvensional juga mulai menurun. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang dapat menghambat proses transformasi digital apabila perusahaan tidak membangun komunikasi yang lebih terbuka mengenai tujuan, manfaat, serta batas penggunaan AI.
SDM Menjadi Penentu Daya Saing Ekonomi Digital
Di tengah berbagai tantangan tersebut, minat pekerja untuk memanfaatkan AI tetap tinggi. Mayoritas responden berharap teknologi tersebut mampu mengambil alih pekerjaan administratif dan aktivitas rutin sehingga mereka dapat lebih fokus pada pekerjaan yang menghasilkan nilai tambah.Oleh karena itu, investasi pada pengembangan kompetensi digital dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia. Pelatihan mengenai literasi AI, keamanan siber, kolaborasi digital, hingga pengelolaan dokumentasi kerja menjadi fondasi agar transformasi teknologi mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan yang berhasil mengintegrasikan berbagai aplikasi kerja ke dalam satu platform memperoleh manfaat berupa efisiensi operasional, komunikasi yang lebih cepat, serta penghematan biaya.
General Manager Asia Pacific Lark, Olivier Adam, mengatakan keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, tetapi juga pada kemampuan organisasi mempersiapkan seluruh tenaga kerja untuk beradaptasi.
Menurutnya, AI akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar apabila perusahaan mampu membangun kepercayaan, meningkatkan kompetensi karyawan, serta memastikan teknologi digunakan untuk mendukung produktivitas manusia, bukan menambah beban kerja.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang diadopsi perusahaan, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Tanpa fondasi SDM yang kuat, investasi AI berisiko belum mampu menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang maksimal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda