"Semua orang suka membicarakan apa yang bisa dilakukan AI, tetapi penting bagi kita untuk berfokus pada apa yang tidak bisa dilakukannya, bahkan jika AI menjadi seribu kali lebih cerdas. Salah satu jawaban yang terus muncul adalah akuntabilitas," kata Founder LintLabs.org dan noverseinc.com, Vasanth Sreeram, dalam Opening Fireside Chat QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali, Selasa, 3 November 2026.
Vasanth menekankan akuntabilitas adalah salah satu hal utama yang tidak dapat diotomatisasi dan tetap harus dipikul manusia. Apabila berfokus pada hal ini, menjadi lebih jelas hal-hal yang perlu dilatih kepada mahasiswa, yaitu berlatih akuntabilitas.
Caranya, memberi mereka skenario dan studi kasus agar mereka dapat berlatih memegang kepemilikan dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. "Hal ini kemudian membuat mereka lebih mampu mengambil keputusan penting dalam kehidupan nyata," kata mahasiswa Nanyang Technological University itu.
Universitas didorong mulai meninggalkan penilaian terhadap tugas-tugas repetitif dan administratif yang mudah diselesaikan oleh AI. Vasanth mengatakan tugas-tugas semacam ini sering kali dipaksakan dan tidak dianggap penting oleh mahasiswa yang cuma menjadi sumber stres.
"Jika pekerjaan semacam itu dihilangkan, para dosen akan lebih leluasa berfokus pada tugas yang jauh lebih besar," ujar dia.
Dia mengatakan dengan pendelegasian tugas-tugas teknis ke AI, universitas memiliki ruang dan waktu lebih besar untuk melatih mahasiswa dalam hal-hal esensial. Vasanth mengatakan untuk melatih akuntabilitas, universitas perlu memberikan skenario dan studi kasus dunia nyata kepada mahasiswa.
Vasanth Sreeram dalam Opening Fireside Chat QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026. Medcom.id/Renatha Swasty
Vasanth mencontohkan ada kasus di MIT ketika seorang profesor memberi tantangan yang sangat berat, yakni sekitar lima sampai enam kelompok ditugaskan membangun mesin jet dalam satu bulan, dengan izin menggunakan sistem AI apa pun.
Ini masalah sulit yang bahkan bagi para profesornya sendiri nyaris mustahil. Ketika menghadapi tantangan yang mustahil, ke arah mana pun mahasiswa melangkah, ada ruang bebas untuk belajar.
"Masalah yang sangat sulit memaksa mereka menemukan solusi kreatif, sebagaimana seharusnya dilakukan para pemimpin masa depan dunia," tutur dia.
Fokus penilaian, kata dia, harus bergeser pada bagaimana mahasiswa memegang kendali atas keputusan yang mereka ambil. Vasanth yakin kehadiran AI tidak akan mengencerkan kurikulum jika universitas meresponsnya dengan tepat.
Sebelum ada AI, semua orang berfokus pada konsep ditambah perangkat lunak untuk berinteraksi. Dengan AI, satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah dasar-dasar inti, seperti matematika dan sains untuk bidang STEM.
Untuk komunikasi dan bidang sejenisnya, hal itu tidak akan pernah usang. Sebab, sebagai manusia tetap harus berkomunikasi dengan manusia.
"Sebagai manusia kita tetap harus menyampaikan gagasan sendiri serta memegang kendali atas keputusan yang kita ambil. Karena itu, menurut saya pesan utamanya ajarkan lebih banyak fundamental dan fokuslah pada prinsip dasar dari setiap konsep dalam silabus," tutur dia.