Tim tunggal putra bulu tangkis Indonesia berlatih dengan tim Jepang (dok. PSSI)
Tim tunggal putra bulu tangkis Indonesia berlatih dengan tim Jepang (dok. PSSI)

Atlet Wajib Tahu! Jangan Nunggu Pensiun Buat Rintis Bisnis

Ilham Pratama Putra • 18 September 2026 16:09
Ringkasnya gini..
  • Atlet perlu menyiapkan pilihan karier sebelum masa kompetitif berakhir.
  • Disiplin, pengalaman, jejaring, dan kemampuan kerja tim dapat menjadi modal mengembangkan karier atau usaha.
  • Atlet dapat mulai menguji ide bisnis dari skala kecil sambil tetap menjalani karier olahraga.
Jakarta: Menjadi juara sudah jadi target utama seorang atlet saat masih aktif berkompetisi. Namun, masa kompetitif tidak berlangsung seumur hidup, sehingga atlet perlu menyiapkan pilihan karier setelah pensiun.

Persiapan itu dapat dilakukan dengan membangun keterampilan baru, mengenali peluang, hingga mengembangkan pengalaman selama berkarier di dunia olahraga. Atlet harus pintar mencari modal untuk menjalani profesi atau usaha berikutnya.

Associate Professor dan Dosen Entrepreneurship, Marketing, dan Personal Branding PPM School of Management, Aprihatiningrum Hidayati mengatakan persiapan tersebut tidak harus menunggu atlet pensiun atau berhenti bertanding. Namun pengembangan dan persiapan diri justru dapat dilakukan saat masih aktif berkompetisi.

“Kita terbiasa menyiapkan pertandingan berikutnya. Hari ini kita menyiapkan pilihan karier berikutnya,” ujar Apri dalam keterangannya, dikutip Jumat 18 September 2026. 
Menurut Apri, atlet sebenarnya telah memiliki sejumlah modal yang relevan untuk dikembangkan menjadi bekal karier. Disiplin, daya juang, persistensi, kemampuan bekerja dalam tim, hingga keberanian menghadapi risiko secara terukur merupakan karakter yang terbentuk dari pengalaman olahraga.

Namun, karakter tersebut perlu dilengkapi dengan keterampilan lain agar dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi di dunia usaha. Salah satunya melalui kemampuan memahami kebutuhan pelanggan, mengelola biaya, menentukan harga, hingga menjaga kualitas layanan.

Apri menjelaskan pengalaman atlet di arena dapat menjadi titik awal untuk mengenali peluang usaha. Seorang atlet, misalnya, memiliki pemahaman mengenai kebutuhan perlengkapan, latihan, maupun pengalaman pengguna dalam cabang olahraga tertentu.

Sementara itu, pelatih memiliki pengalaman menyusun program latihan, memberikan umpan balik, serta memahami kebutuhan peserta didik. Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi layanan atau usaha yang sesuai dengan keahlian masing-masing.

Meski demikian, pengalaman dan reputasi di dunia olahraga bukan jaminan sebuah bisnis akan berhasil. Produk atau layanan tetap harus menjawab kebutuhan pelanggan dan dikelola dengan perhitungan yang tepat.

Karena itu, atlet maupun pelatih tidak harus langsung membangun usaha dalam skala besar. Ide bisnis dapat diuji terlebih dahulu melalui percobaan kecil dengan batas waktu dan biaya yang terukur.

Bagi atlet yang masih aktif bertanding, langkah awal dapat berupa usaha kecil yang disesuaikan dengan jadwal latihan dan kompetisi. Dengan begitu, proses membangun pengalaman di luar arena dapat berjalan tanpa harus menunggu karier olahraga berakhir.

Kebiasaan yang diperoleh dari olahraga juga dapat diterapkan dalam menjalankan usaha. Disiplin latihan, misalnya, dapat digunakan untuk membangun kebiasaan mencatat transaksi dan biaya.

Evaluasi setelah pertandingan juga dapat diterapkan untuk melihat kinerja produk atau layanan. Sementara kemampuan bekerja dalam tim dapat membantu pembagian tanggung jawab ketika menjalankan usaha.

Apri juga memperkenalkan kerangka BRIGHT, yakni Business Oriented, Realistic, Innovative, Genuine, Honest, dan Timely. Kerangka tersebut digunakan untuk membantu peserta membawa sebuah gagasan dari tahap ide menuju konsep bisnis, rencana bisnis, hingga start-up.

Peserta kemudian diarahkan membuat rencana selama 30 hari. Pada pekan pertama, peserta memilih satu kebutuhan pelanggan dan satu ide yang sesuai dengan kemampuan.

Pekan kedua digunakan untuk berbicara dengan sedikitnya lima calon pelanggan guna memahami masalah dan kebutuhan mereka. Selanjutnya, peserta menguji satu penawaran kecil pada pekan ketiga.

Pada pekan keempat, hasil percobaan dievaluasi berdasarkan pelanggan, pengalaman, pendapatan, dan biaya. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan apakah ide akan dilanjutkan, diperbaiki, atau dihentikan.
Di samping itu, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Marciano Norman mengatakan perhatian terhadap atlet tidak semestinya berhenti pada upaya mencetak prestasi. “Selain pembinaan tim/atlet menjadi juara, kita juga harus mendukung kegiatan pasca menjadi atlet,” kata Marciano.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar yang digelar PPM School of Management bersama KONI Pusat. Kegiatan tersebut diikuti hampir 1.000 atlet, pelatih, dan pengurus olahraga dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 300 peserta mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting, sedangkan lebih dari 650 audiens menyaksikan siaran langsung melalui kanal YouTube KONI Pusat. Melalui kegiatan tersebut, atlet dan pelatih didorong untuk melihat pengalaman di dunia olahraga bukan hanya sebagai jalan menuju prestasi, tetapi juga sebagai bekal untuk membangun pilihan karier setelah masa kompetitif berakhir.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan