Tanoto Scholars 2025, Cahaya (kiri), Lidra (tengah), Nabila (kanan). Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Tanoto Scholars 2025, Cahaya (kiri), Lidra (tengah), Nabila (kanan). Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Rahasia IPK 3,95 Anak Kedokteran Undip: Bukan Cuma Belajar, Tapi Jago 'Lead Self'

Ilham Pratama Putra • 25 Juli 2026 15:10
Ringkasnya gini..
  • Mahasiswa mengaku baru mengenal dirinya setelah rutin melakukan refleksi diri.
  • Materi Johari Window membantu peserta memahami cara pandang orang lain.
  • Refleksi membuat mahasiswa lebih berani menentukan prioritas dan tujuan hidup.
Riau: Saat memasuki bangku kuliah, apa yang pertama kali sering kamu pikirkan? Mengejar prestasi akademik, organisasi, atau mencari berbagai kesempatan pengembangan diri?
 
Hal itu ternyata bisa membuatmu terjebak selama menjalani perkuliahan. Bahkan dalam prosesnya, tidak sedikit mahasiswa yang kehilangan jati dirinya. 
 
Hal ini terjadi justru kareka rendahnya kemampuan mengenal dirinya sendiri. Saat hal itu datang kamu akan mulai kekuatan, merasa lemah hingga tak tahu tujuan hidup yang ingin dicapai.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang coba dijawab melalui program pengembangan kepemimpinan Tanoto Foundation. Lewat fase Lead Self, mahasiswa diajak melakukan refleksi diri secara berkala agar lebih memahami karakter, potensi, dan arah pengembangan dirinya sebelum berkontribusi kepada orang lain.
 
Mahasiswa Statistika dan Sains Data IPB University, Syafirah Nabila Jusman, mengaku baru menyadari bahwa selama ini dirinya belum benar-benar mengenal diri sendiri. Kesadaran itu muncul setelah mengikuti berbagai sesi refleksi selama sekitar satu setengah tahun sebagai Tanoto Scholars 2025. 
 
Baca juga: Pendaftaran Beasiswa Kepemimpinan TELADAN 2027 Dibuka! Ini 10 Pilihan PTN-nya  

 
"Dari awal kami diminta menjelaskan siapa diri kami. Pertanyaannya sederhana, tetapi setelah melihat lagi tulisan saya waktu awal program, ternyata dulu saya tidak sekenal itu dengan diri saya sendiri," kata Nabila saat ditemui di Pangkalan Kerinci, Riau, Sabtu 25 Juli 2026.
 
Ia mengatakan setiap bulan, 240 penerima beasiswa Tanoto di tahun 2025 itu mengikuti pertemuan yang membahas berbagai aspek pengembangan diri. Mulai dari mengenali kekuatan dan kelemahan hingga menerima umpan balik dari orang lain. 
 
Salah satu materi yang paling membekas bagi Nabila adalah metode Johari Window. Metode itu membantu peserta melihat bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain.
 
"Nah dari situ saya jadi tahu ternyata ada hal-hal yang saya sadari, tetapi orang lain tidak tahu. Sebaliknya, ada juga yang orang lain tahu tentang saya, tetapi saya sendiri tidak menyadarinya. Dari situ saya bisa merefleksikan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik," ujarnya.
 
Refleksi tersebut juga mengubah cara Nabila mengambil keputusan selama menjalani perkuliahan. Ia mengaku sebelumnya cenderung menerima semua ajakan organisasi dan kepanitiaan karena tidak enak menolak, meski kemampuan dan waktunya terbatas.
 
"Kalau dulu saya people pleaser. Diajak apa saja saya iya, padahal kapasitas diri sebenarnya tidak sampai. Sekarang saya sudah tahu batas kemampuan saya, jadi bisa bilang tidak kalau memang tidak sesuai dengan tujuan saya," ungkapnya.
 
Pengalaman serupa dirasakan mahasiswa Kedokteran Universitas Diponegoro Muhammad Lidra Abriliansyah. Menurut dia, proses refleksi rutin membuatnya memahami bahwa banyak kebiasaan dan cara berpikir seseorang terbentuk dari lingkungan tempat ia bergaul.
 
"Dari modul Lead Self saya menemukan banyak hal dalam diri saya ternyata dipengaruhi lingkungan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa memilih lingkungan yang tepat itu sangat penting," kata Lidra.
 
Baca Juga: Disebut Bakal Berasrama, Di mana Lokasi Kampus Universitas Republik Indonesia?  

Kesadaran tersebut membuatnya lebih selektif memilih organisasi dan aktivitas di kampus. Ia mulai memprioritaskan lingkungan yang mendukung cita-citanya menjadi dokter spesialis dibanding mengikuti sebanyak mungkin kegiatan.
 
"Kalau tujuan saya ingin menjadi spesialis jantung, berarti saya memilih organisasi yang memang mendukung tujuan itu. Saya memilih lingkungan yang lebih produktif dan punya tujuan yang sama," ujarnya.
 
Selain mengenali diri sendiri, Lidra mengaku terbantu memperbaiki kemampuan mengatur waktu. Sebagai mahasiswa kedokteran dengan jadwal kuliah dan praktikum yang padat, persoalan manajemen waktu menjadi tantangan terbesar yang ia hadapi pada awal perkuliahan.
 
"Dari refleksi bulanan saya menyadari kekurangan saya ada di time management. Kami berdiskusi dengan teman-teman dan tutor, lalu saya mencoba memperbaikinya sedikit demi sedikit," tutur Lidra.
 
Perubahan tersebut berdampak pada capaian akademiknya. Ia menyebut indeks prestasi kumulatifnya kini mencapai 3,95, sekaligus membuatnya lebih percaya diri untuk mencoba pengalaman baru di luar zona nyaman.
 
"Satu tahun lalu mungkin saya akan menolak diwawancarai karena malu. Sekarang saya berpikir harus mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman," katanya.
 
Mahasiswa Jurusan Bahasa Mandarin Universitas Sumatera Utara, Cahaya Ramadhana, juga merasakan perubahan serupa. Ia yang mengaku pemalu kini lebih percaya diri berdiskusi dan bekerja sama setelah bergabung dalam komunitas Tanoto Scholars Association (TSA) di kampusnya.
 
"Awalnya saya gugup karena berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Tapi di TSA saya menemukan teman-teman yang saling mendukung sehingga sekarang lebih berani berdiskusi dan bertukar pikiran," ujar Cahaya.
 
Bagi ketiga mahasiswa tersebut, proses mengenali diri sendiri menjadi bekal penting sebelum melangkah ke tahap pengembangan kepemimpinan. Mereka menilai kemampuan memahami potensi, keterbatasan, hingga tujuan pribadi menjadi fondasi agar dapat mengambil keputusan yang lebih tepat selama kuliah maupun ketika memasuki dunia kerja.
 
Baca juga: Usai KSTI 2026, PTN Tancap Gas Susun Solusi MBG hingga Biaya Kuliah  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan