ILUSTRASI: Slogan Pemilu Berkualitas KPU RI/Antara/Akbar Nugroho Gumay.
ILUSTRASI: Slogan Pemilu Berkualitas KPU RI/Antara/Akbar Nugroho Gumay. (Sobih AW Adnan)

Mengharap Debat Hebat

Oase debat capres cawapres pilpres 2019
Sobih AW Adnan • 11 Januari 2019 21:23
Jakarta: Entah kenapa, hari Kamis, 17 Januari dianggap waktu yang pas untuk memulai serangkaian acara debat pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI di Pemilu 2019. Atau barangkali, waktu-waktu akhir pekan memang dihindari agar masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya tersulut kalah-menang sosok yang mereka idam-idamkan.
 
Persoalannya, pagelaran debat pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI juga merupakan bagian penting dari proses konsolidasi demokrasi, sekaligus sebabak pencerahan politik bagi masyarakat. Bahkan, acara ini sepenuhnya demi mendidik calon pemilih untuk kian rasional.
 
Jangan lagi ada istilah; bak membeli kucing dalam karung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Alhasil, apapun dan kapan pun waktu yang ditentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, debat calon Presiden dan Wakil Presiden ini tetap penting untuk disaksikan bersama. Belum lagi, masyarakat juga harus bersama-sama memastikan bahwa kualitas debat Pemilu 2019 ini kian baik. Tidak sekadar menyeret warga Indonesia untuk makin terbelah ke dalam dua kelompok berseberangan hanya karena berbeda pilihan. No SARA
 
Debat berkualitas dicirikan atas beberapa aspek. Debat bukan sekadar bisa berlangsung secara panas dan meriah, akan tetapi aspek pendidikan politik ke tengah masyarakat jauh lebih perlu.
 
Moderator debat perdana Pilpres 2019 Ira Koesno pun menggaris-bawahi istilah panas yang berkualitas dalam sebuah debat. Katanya, perbincangan isu yang berlangsung diharap bisa memberikan pencerahan kepada publik dalam menentukan pilihan.
 
"Tapi, ya panasnya harus terkontrol, jangan meledak," kata Ira di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis, 10 Januari 2019.
 
Berikutnya, debat harus menempatkan data dan fakta sebagai dasar. Debat, tidak boleh dilakukan dengan menyasar pada sisi emosional belaka.
 
Maka, sudahlah tepat, jika Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) mengantisipasi benar penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam debat publik Pilpres 2019. Bawaslu ingin debat membawa suasana kegembiraan.
 
"Pertama menjadi sangat penting untuk tidak melakukan sesuatu yang dilarang undang-undang (UU). Yang paling jelas di Pasal 280 (UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu) ya bagaimana mengkapitalisasi dan memakai isu SARA untuk keterpilihan," kata Anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis, 10 Januari 2019.
 
Mengharap Debat Hebat
Jadwal debat Pilpres 2019/Medcom.ID/M.Rizal
 
Mengkapitalisasi isu SARA yang dimaksud Afif adalah membuat fitnah dan ujaran kebencian yang berbasis pada SARA. Bawaslu juga bakal mengawasi penggunaan isu-isu yang menyoalkan bentuk negara.
 
Baca: Isu SARA Diharamkan dalam Debat Pilpres
 
Tidak normatif
 
Semua sepakat, tujuan politik dan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat. Masalahnya, masih banyak elite politik yang belum mampu menerjemahkan tekad tersebut melalui program-program dengan teknis membumi.
 
Nada yang terdengar, hampir kebanyakan bersifat normatif. Aktor politik jarang ada yang bisa menyajikan kebutuhan masyarakat melalui program yang eksplisit dengan narasi yang cukup bersifat teknis.
 
Pakar marketing politik Firmanzah dalam Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2007) menjelaskan, debat politik sebenarnya sudah dilakukan sejak Pemilu 1997 dan ditayangkan di televisi sekaligus banyak dimuat di media cetak. Namun harus diakui, suasana debat masih lebih menitik-beratkan pada aspek kemasan dibandingkan substansi.
 
"Program kerja kurang begitu melihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Kontestan atau partai politik seringkali memposisikan masyarakat sebagai pihak yang awam," tulis Firmanzah.
 
Firmanzah menyebut, debat politik seharusnya bisa menyajikan manfaat bagi banyak pihak. Tidak cuma bagi calon pemilih, namun juga bagi para kontestan sendiri. Syaratnya, debat harus mengarah pada tema-tema penting dengan narasi yang mudah dipahami.
 
"Proses pertukaran informasi membuat masing-masing aktor politik dapat lebih mudah memahami hal-hal yang diinginkan pihak lain," tulis dia.
 
Sekali lagi, debat politik menjadi bagian penting yang tidak boleh alpa dalam alam demokrasi. Namun yang jauh lebih penting, debat harus dimaknai sebagai media pertukaran informasi dengan tujuan saling mengisi gagasan dalam mendorong kemajuan bangsa dan negara.
 
Jika bisa begitu, barulah debat Pilpres 2019 layak dicap sebagai debat yang hebat.
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif