Petugas tengah menyelidiki zat radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangsel, Banten. Foto: MI/Ferdian Ananda Majdi
Petugas tengah menyelidiki zat radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangsel, Banten. Foto: MI/Ferdian Ananda Majdi

Gunung Es di Balik Jejak Radioaktif di Serpong

Nasional nuklir Rangkuman Nasional
Yogi Bayu Aji • 27 Februari 2020 16:21
Jakarta: Zat radioaktif sesium (Cs-137) mencemari lahan kosong di Perumahan Batan Indah, Setum Tangerang Selatan, Banten. Sisa-sisa zat radioaktif itu disinyalir bersumber dari salah satu rumah di Blok A 22, Kompleks Batan Indah.
 
"Ini merupakan titik terang atas kasus ditemukannya limbah radioaktif sesium 137 pada akhir Januari 2020 di lahan kosong, bagian depan perumahan Batan Indah," kata Kepala Biro Hukum Humas dan Kerjasama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Indra Gunawan, Senin, 24 Februari 2020.
 
Bapeten memastikan zat radioaktif salah satu rumah di Blok A itu ilegal. Temuan baru titik kontaminasi Cs-137 di Blok A dan Blok M Kompleks Batan Indah diserahkan ke polisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penemuan ini membuka beberapa masalah yang selama ini luput dari perhatian. Pasalnya, bahan radioaktif ini dimiliki pengawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) SM.

1. Zat radioaktif dimiliki pegawai Batan

Polisi menyebut SM, pemilik rumah di Perumahan Batan Indah yang diduga menyimpan Cs-137, ialah pegawai Batan. Dia sedang diperiksa atas kepemilikan zat ini.
 
"(SM) akan memasuki masa purnabakti pada Mei (2020)," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Komisaris Besar (Kombes) Asep Adi Saputra, di Gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim), Jakarta Selatan, Rabu, 26 Februari 2020.
 
Menurut dia, SM masih menyandang status saksi. Nasibnya ditentukan setelah diketahui secara jelas tujuannya menyimpan zat radioaktif Cs-137 secara ilegal.
 
Selengkapnya baca di sini.

2. Diduga buka jasa di Kaskus

SM diduga menawarkan jasa dekontaminasi dan servis peralatan yang berkaitan dengan radioaktif melalui forum jual beli Kaskus. Dalam iklan yang ditayangkan, penyedia jasa mengeklaim dekontaminasi ini tersertifikasi Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Batan.
 
Pada akhir iklan, si pemilik jasa juga menyematkan nama lengkap berikut nomor ponsel yang bisa dihubungi pelanggan. Namun, Batan enggan banyak berkomentar.
 
"Nanti saya cek, tapi kalau namanya sama ya mungkin memang dia," kata Kepala Hukum Humas dan Kerja Sama Batan, Heru Umbara, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Selengkapnya bacadi sini.
 
Gunung Es di Balik Jejak Radioaktif di Serpong
Aktivitas pembersihan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Selasa 18 Februari 2020. Foto: Medcom.id/Farhan

3. Evaluasi Batan dan Bapeten

Presiden Joko Widodo diminta membentuk tim untuk memeriksa Bapeten dan Batan. Kasus penemuan limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah dianggap perkara serius.
 
"Presiden perlu memerintahkan adanya investigasi independen terhadap kinerja kedua institusi," kata pengamat energi dari Institute for Essential Services Fabby (IESF) Fabby Tumiwa di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Fabby menduga ada motif tertentu di balik limbah radioaktif Cs-137 di salah satu rumah pegawai Batan. Bahan kimia berbahaya ini tak sembarang bisa disimpan.
 
Investigasi harus menelusuri proses pengawasan penggunaan, peredaran, pemanfaatan limbah nuklir, budaya keselamatan di Batan, dan proses pengelolaan limbah. Tata kelola perangkat dan alat Batan juga harus dicek.
 
Selengkapnya bacadi sini.

4. Gunung es

Penemuan radioaktif Cs-137 di Perumahan Batan Indah dianggap bagian kecil dari perkara besar. Masalah ini terkait kelalaian Bapeten dalam menjaga Batan.
 
"Ini puncak gunung es terhadap pengawasan dan pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia," kata pengamat energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, Kamis, 27 Februari 2020.
 
Menurut dia, tugas Bapeten mengawasi Batan diatur Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Kasus di Serpong mengindikasikan kemampuan Bapetan mengawasi limbah radioaktif masih kurang.
 
Fabby juga mengkritisi respons Bapetan dan Batan soal penemuan limbah radioaktif di Serpong. Pada Senin, 13 Januari 2020, Batan mengecek keberadaan radioaktif, tetapi kasus baru disampaikan Jumat, 14 Februari 2020.
 
"Mereka ke mana saja dalam dua minggu? Apakah tidur?" ujar dia.
 
Selengkapnya bacadi sini.
 

(OGI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif