Muslim Prancis berdoa untuk korban serangan di Basilika Notre Dame, Nice. Foto: AFP
Muslim Prancis berdoa untuk korban serangan di Basilika Notre Dame, Nice. Foto: AFP

Terimbas Stigma Usai Serangan, Muslim Prancis Merasa Tertekan

Internasional prancis Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron Pembunuhan di Nice
Fajar Nugraha • 03 November 2020 13:08
Paris: Dalam waktu berdekatan, dua serangan teror melanda Prancis dan Islam yang menjadi objek kesalahan. Hal ini membuat tekanan terhadap Muslim di Prancis merasa tertekan.
 
Sorotan kecurigaan kembali diarahkan pada mereka bahkan sebelum aksi kekerasan ekstremis terbaru, termasuk dua pemenggalan kepala. Presiden Emmanuel Macron terus maju dengan upayanya untuk membersihkan Islam di Prancis dari para ekstremis. Ini merupakaan bagian dari proyek yang dia beri label ‘separatisme’ sebuah istilah yang membuat Muslim meringis.
 
Baca: Total Enam Orang Ditangkap Terkait Serangan di Gereja Nice.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di tengah meningkatnya retorika dan serangan baru oleh orang luar, termasuk pembunuhan tiga orang padaKamis di sebuah gereja Katolik di Nice, Muslim di Prancis tetap menundukkan kepala dan dagu. Namun jauh di lubuk hati, beberapa menggeliat, merasa mereka dianggap bertanggung jawab.
 
"Ini mengkhawatirkan bagi umat Islam," kata Hicham Benaissa, sosiolog yang mengkhususkan diri pada Islam di tempat kerja.
 
“Dalam komunitas, beberapa orang berbicara tentang meninggalkan Prancis. Situasinya tegang. Ada ketakutan,” ujar Benaissa, seperti dikutip AFP, Selasa 3 November 2020.
 
Islam adalah agama kedua yang paling banyak dianut di Prancis, yang memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa Barat. Tetapi diperkirakan 5 juta Muslim di negara itu telah menjalani jalur yang rumit untuk mencari penerimaan penuh atas apa yang bagi banyak orang adalah negara kelahiran mereka.
 
Diskriminasi membayangi beberapa orang dan merupakan penghalang langsung untuk mengarusutamakan kehidupan bagi orang lain.
 
Nilai sekularisme Prancis yang dijunjung tinggi, yang dimaksudkan untuk menjamin kebebasan beragama, dalam beberapa tahun terakhir telah digunakan oleh negara untuk mengatur adat istiadat yang dipraktikkan oleh sebagian Muslim.
 
Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memicu protes marah dan seruan untuk boikot produk Prancis minggu lalu dari Asia Selatan ke Timur Tengah.
 
Baca: Pelaku Teror Nice Datang untuk Membunuh.
 
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif