Kerusuhan yang terjadi di Kepulauan Solomon. Foto: AFP
Kerusuhan yang terjadi di Kepulauan Solomon. Foto: AFP

Kepulauan Solomon Diwarnai Kerusuhan, Perdana Menteri Didesak Mundur

Fajar Nugraha • 25 November 2021 11:47
Honiora: Kerusuhan baru pecah di ibu Kepulauan Solomon, Honiara, Kamis 25 November 2021 ketika Perdana Menteri Manasseh Sogavare menyerukan diakhirinya ketegangan antar pulau. Ketegangan telah menjerumuskan negara Pasifik itu ke dalam krisis.
 
Para pengunjuk rasa menentang penguncian pemerintah yang diberlakukan setelah kekacauan yang meluas di ibu kota pada Rabu. Para demonstran berusaha menyerbu parlemen dan menggulingkan Sogavare.
 
Perdana menteri mengatakan pemerintahnya masih memegang kendali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hari ini saya berdiri di hadapan Anda untuk memberi tahu Anda semua bahwa negara kita aman. Pemerintah Anda ada dan terus memimpin negara kita," kata Sogavare, seperti dikutip AFP.
 
“Mereka yang bertanggung jawab (atas kerusuhan) akan menghadapi beban hukum sepenuhnya,” tegasnya.
 
Seorang penduduk setempat kepada AFP, para perusuh berkumpul kembali dan sekali lagi menargetkan daerah Pecinan Honiara dan mengobrak-abrik sebuah kantor polisi.
 
Pria itu, yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, polisi telah memasang penghalang jalan tetapi kerusuhan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
 
"Ada massa yang bergerak, sangat tegang," kata warga, ketika media lokal melaporkan penjarahan dan polisi menggunakan gas air mata.
 

 
Saksi lain memposting gambar di media sosial asap mengepul dari ibu kota dan mengatakan bisnis milik Tiongkok menjadi sasaran.
 
Sebagian besar pengunjuk rasa di Honiara dilaporkan berasal dari pulau tetangga Malaita, di mana orang telah lama mengeluhkan pengabaian oleh pemerintah pusat.
 
Pemerintah lokal pulau itu juga sangat menentang keputusan Kepulauan Solomon untuk mengalihkan kesetiaan diplomatik dari Taiwan ke Tiongkok pada 2019. Ini merupakan sebuah langkah yang direkayasa oleh Sogavare yang menurut para kritikus terlalu dekat dengan Beijing.

Kemarahan terpendam

Pemimpin oposisi Matthew Wale meminta perdana menteri untuk mengundurkan diri. Dia mengatakan, frustrasi atas keputusan kontroversial yang dibuat selama masa jabatannya telah menyebabkan kekerasan.
 
"Sayangnya, frustrasi dan kemarahan rakyat yang terpendam terhadap perdana menteri tumpah tak terkendali ke jalan-jalan, di mana oportunis telah mengambil keuntungan dari situasi yang sudah serius dan memburuk," ucap Wale dalam sebuah pernyataan.
 

 
Persaingan antar pulau serupa menyebabkan pengerahan pasukan penjaga perdamaian yang dipimpin Australia di Solomon dari tahun 2003 hingga 2017 dan situasi yang sedang berlangsung akan dipantau secara ketat di Canberra dan Wellington.
 
Kementerian Luar Negeri Selandia Baru mengatakan pada Kamis bahwa pihaknya belum didekati oleh pemerintah Solomon untuk meminta bantuan. Pejabat Australia juga telah didekati untuk dimintai komentar.
 
Terjadi kerusuhan setelah pemilihan umum tahun 2006, dengan sebagian besar Pecinan Honiara diratakan di tengah desas-desus bahwa bisnis yang memiliki hubungan dengan Beijing telah mencurangi pemungutan suara. Sogavare mengatakan mereka yang terlibat dalam kerusuhan terbaru telah "tersesat" oleh orang-orang yang tidak bermoral.
 
"Sejujurnya saya berpikir bahwa kita telah melewati hari-hari tergelap dalam sejarah negara kita. Namun peristiwa adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kita masih harus menempuh jalan yang panjang," katanya.
 
"Ratusan warga mengambil tindakan hukum ke tangan mereka sendiri hari ini. Mereka berniat menghancurkan bangsa kita dan kepercayaan yang perlahan-lahan dibangun di antara rakyat kita," tambah perdana menteri.
 
"Tidak ada seorang pun di atas hukum orang-orang ini akan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka," pungkasnya.

 
(FJR)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif