Pentagon sebut Tiongkok ingin membangun pangkalan militer di wilayah Indonesia. Foto: AFP
Pentagon sebut Tiongkok ingin membangun pangkalan militer di wilayah Indonesia. Foto: AFP

Tiongkok Ingin Bangun Pangkalan, RI Harus Hati-hati Sikapi Tuduhan AS

Internasional militer tiongkok tiongkok indonesia-tiongkok
Fajar Nugraha • 04 September 2020 06:42
Jakarta: Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan laporan mengenai kekuatan militer Tiongkok yang terus meningkat. Salah satu isi laporan juga menyebutkan Tiongkok bermaksud membangun pangkalan militer di Indonesia.
 
Pada laporan yang berjudul "Military and Security Developments Involving the People's Republic of China 2020” itu menunjukkan rencana Negeri Tirai Bambu untuk meningkatkan hulu ledak nuklirnya. Tidak hanya itu, disebutkan juga Tiongkok bermaksud membangun beberapa pangkalan militer di negara Asia dan Afrika.
 
Baca: Kemenlu: Tiongkok Tidak Bisa Bangun Pangkalan Militer di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menyoroti laporan ini. AS dalam laporannya menyebutkan Tiongkok sedang mempertimbangkan secara kuat lokasi bagi fasilitas logistik militer Tiongkok di Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, Uni Emirat Arab, Kenya, Seychelles, Tanzania, Angola, dan Tajikistan.
 
“Bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara yang disebut harus waspada dengan penyebutan ini. Hal ini mengingat Indonesia memiliki kebijakan luar negeri yang bebas aktif,” tegas Hikmahanto, kepada Medcom.id, Jumat 4 September 2020.
 
“Indonesia tidak seharusnya menyediakan wilayah kedaulatannya untuk apapun penempatan tentara asing dari manapun. Ketergantungan ekonomi Indonesia ke suatu negara tidak boleh menggoyahkan politik luar negeri bebas aktif dan kokohnya kedaulatan Indonesia,” ucap akademisi yang juga Rektor Universitas Jenderal A Yani itu.
 
Namun menurut Hikmahanto, Indonesia juga harus berhati-hati dalam menyikapi laporan Pentagon. Berdasarkan pengamatannya, pada saat ini AS sedang membutuhkan legitimasi dari banyak negara untuk berhadapan dengan militer Tiongkok di Laut China Selatan. Indonesia tidak seharusnya terjebak untuk mendukung AS dalam rivalitasnya dengan Tiongkok.
 
“Ada kemungkinan penyebutan Indonesia dalam laporan tersebut agar Indonesia menaruh curiga yang berlebihan terhadap Tiongkok. Ini dilakukan karena AS memiliki pengamatan Indonesia terlalu dekat bahkan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap Tiongkok,” imbuh Hikmahanto.
 
Hikmahanto menambahkan, disinilah pentingnya Indonesia menjaga jarak antar negara besar yang berseteru dengan kebijakan luar negeri yang bebas aktif. Bila pengambil kebijakan berat sebelah ke salah satu negara maka rakyat akan menilai dan mereka akan memastikan untuk tidak memilih partainya dalam pemilu mendatang.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif