Elvis Presley (Foto: Instagram/elvis)
Elvis Presley (Foto: Instagram/elvis)

Pemilik Hak Cipta Elvis Presley Gugat Perusahaan AI, Minta Ganti Rugi Rp741 Miliar

Rafi Alvirtyantoro • 26 Oktober 2026 09:19
Ringkasnya gini..
  • Pemilik hak cipta Elvis Presley melayangkan gugatan hukum terhadap perusahaan AI Anthropic atas dugaan penggunaan 274 lagu tanpa izin.
  • Gugatan tersebut menuntut ganti rugi hingga 41 juta dolar AS karena model AI Claude dianggap melanggar hak eksklusif secara masif.
  • Kasus ini menjadi preseden hukum penting bagi perlindungan hak cipta musisi dari pemanfaatan data pelatihan AI tanpa izin.
Jakarta: Pemilik hak cipta lagu-lagu Elvis Presley menggugat perusahaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan Anthropic atas dugaan penggunaan lagu-lagu sang maestro tanpa izin sebagai bahan pelatihan model kecerdasan buatan mereka.

Authentic Brands Group, pemegang lisensi yang menguasai hak cipta musik sekaligus hak komersial citra Elvis Presley, menuduh Anthropic telah melanggar hak cipta atas 274 lagu milik mendiang bintang rock and roll tersebut. Billboard melaporkan bahwa gugatan hukum ini resmi didaftarkan pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Kasus ini tercatat sebagai salah satu gugatan hukum skala besar pertama yang diajukan langsung oleh pihak ahli waris musisi terhadap pengembang kecerdasan buatan. Hasil dari persidangan ini berpotensi menjadi acuan hukum penting terkait batas izin penggunaan katalog musik bagi perusahaan kecerdasan buatan.
 


Dugaan Pelanggaran Hak Cipta Skala Besar


Pengacara Richard Busch menyampaikan bahwa pihak ahli waris Elvis Presley mengambil langkah hukum untuk melindungi hak cipta eksklusif atas lagu-lagu sang legenda dari tindakan tergugat. Menurutnya, perusahaan tersebut telah secara sengaja merancang dan menjalankan seluruh model bisnisnya dengan memanfaatkan karya cipta pihak lain tanpa izin.

"Penggugat dari pihak Elvis mengajukan gugatan ini demi menegakkan hak eksklusif mereka atas tindakan tergugat, yang telah membangun seluruh model bisnisnya berlandaskan pelanggaran hak cipta dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis pengacara utama, Richard Busch, dalam berkas gugatan tersebut, dikutip dari The Guardian, pada Senin, 26 Oktober 2026.

Dalam gugatan tersebut dinyatakan bahwa "sejak awal perkembangannya, model AI milik Anthropic, 'Claude', telah menghasilkan keluaran yang melanggar hak cipta atas hampir semua lagu dari seluruh katalog yang beredar di internet."

Gugatan itu juga memperjelas tuduhan bahwa Anthropic memanfaatkan 274 lagu Elvis Presley untuk melatih model kecerdasan buatan milik mereka. Karya-karya tersebut mencakup tembang populer seperti “Can’t Help Falling in Love,” “All Shook Up,” dan “A Little Less Conversation.”
   

Tuntutan Ganti Rugi Ratusan Miliar


Pihak penggugat menuntut ganti rugi sebesar 150 ribu dolar AS (Rp2,71 miliar) untuk setiap lagu yang dilanggar, atau total sekitar 41 juta dolar AS (sekitar Rp741,6 miliar).

Anthropic dinilai telah melakukan pelanggaran hak cipta secara sengaja dan sadar. Pihak penggugat menegaskan bahwa sistem pembatas yang dipasang Anthropic setelah kasusnya terungkap terbukti tidak efektif menghentikan keluaran yang melanggar hak cipta.

"Bahkan langkah Anthropic yang menerapkan sistem pembatas—meski tidak efektif—untuk membatasi keluaran yang melanggar hak cipta musik setelah tindakan mereka terkuak, beserta kesadaran mereka bahwa sistem tersebut gagal menghentikan pelanggaran, membuktikan bahwa Anthropic secara sadar dan sengaja terus melakukan pelanggaran hak cipta atas karya musik pihak lain," bunyi pernyataan tertulis dalam gugatan itu.

   

Ancaman Industri Musik dan Tindakan Industri


Platform musik berbasis kecerdasan buatan diketahui bekerja dengan cara menganalisis rekaman musik dalam jumlah besar guna mempelajari karakter suara, struktur lagu, dan ekspresi musik. Setelah itu, sistem memungkinkan pengguna untuk menciptakan musik buatan kecerdasan buatan hanya melalui petunjuk teks atau suara.

Para musisi berulang kali menyuarakan kekhawatiran atas penggunaan musik dan karakter suara mereka tanpa izin oleh model-model kecerdasan buatan. Mereka juga mengkhawatirkan maraknya musik generik kecerdasan buatan berkualitas rendah yang berpotensi menggeser karya cipta manusia.

Beberapa bot kecerdasan buatan bahkan terdeteksi mulai meniru identitas musisi aktif di berbagai platform penstriman musik. Pada pekan lalu, platform raksasa Spotify mengumumkan telah menghapus sekitar 50 juta lagu kecerdasan buatan berkualitas rendah dari sistem rekomendasi pengguna sepanjang tahun lalu.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA