Namun, bagi Dean Fertita, perubahan tersebut bukan berarti QOTSA meninggalkan kebebasan yang membentuk identitas mereka. Justru sebaliknya: untuk membicarakan hal-hal yang lebih rentan, mereka membutuhkan kebebasan yang sama besarnya.
“Menurut saya, perbedaan utamanya, jika album ini dibandingkan dengan album-album sebelumnya, terletak pada fokusnya. Sekarang mungkin perhatian kami lebih banyak tertuju pada vokal dan lirik daripada volume gitar. Namun, ada bobot emosional yang berat di sana juga, bukan?” tukas Dean dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id.
Dean juga menanggapi pertanyaan tentang pergeseran perhatian musikal QOTSA, dari dominasi gitar menuju wilayah emosional yang lebih intim. Menurut dia, inti proses kreatif mereka tidak banyak berubah. Yang berubah adalah fokus dan cara mereka mengungkapkan sesuatu.
Baca Juga :
EKSKLUSIF: Queens of the Stone Age Menjawab Pertanyaan Akankah Mereka Konser di Indonesia?
“Jadi, untuk menjawab pertanyaan Anda, saya benar-benar merasa bahwa untuk bisa begitu introspektif seperti sekarang, kami harus bersedia melepaskan semuanya dan merasa sebebas mungkin, bahkan mungkin sebebas yang pernah kami rasakan sepanjang perjalanan ini.”
Pernyataan itu menjadi kunci untuk memahami perkembangan QOTSA. Kebebasan tidak hanya berarti bermain keras, membuat riff yang tidak lazim, atau menolak ekspektasi industri. Kebebasan juga berarti bersedia memperlihatkan sisi diri yang tidak selalu nyaman untuk ditunjukkan kepada orang lain.
Dean telah berada di band tersebut selama sekitar dua dekade. Ia mengatakan bahwa keberlangsungan kelompok musik dengan usia sepanjang itu menuntut para personelnya untuk semakin jujur dan rentan.
“Saya sudah berada di band ini selama 20 tahun, sementara band ini sendiri sudah ada lebih lama daripada itu. Jadi, agar sesuatu bisa bertahan selama itu, menurut saya satu-satunya jalan ke depan adalah benar-benar menjadi diri sendiri yang paling rentan dan jujur dalam situasi ini. Cara kami mengekspresikannya ke depan tentu bisa berubah. Bisa saja nanti kami kembali memainkan gitar yang keras.”
Bagi Dean, pendekatan introspektif bukan formula permanen. QOTSA tetap bisa kembali menempatkan gitar sebagai pusat perhatian. Namun, pada fase ini, ia merasa bahwa kerentanan merupakan cara yang paling tepat untuk mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan.
Bekas Luka sebagai Bagian dari Cerita
Dalam percakapan mengenai album terbaru mereka, Dean juga menanggapi gagasan kintsugi, seni Jepang memperbaiki keramik yang pecah dengan menonjolkan sambungan dan retakannya, alih-alih menyembunyikan kerusakan agar benda itu tampak seperti baru.Penting dicatat, gagasan tersebut diperkenalkan melalui pertanyaan pewawancara. Dean tidak menyatakan bahwa filosofi itu merupakan konsep resmi album. Namun, jawabannya memperlihatkan kedekatan gagasan tersebut dengan pandangannya tentang seni.
“Menurut saya, hal itu memang selalu menjadi salah satu faktor pendorong kami. Rekaman-rekaman favorit kami penuh dengan kesalahan. Jadi, menemukan keindahan di dalamnya adalah bagian dari cara kita menikmati karya seni apa pun. Kalau semuanya sempurna, karya itu justru terasa kurang menarik," jelas Dean soal filosofi kintsugi yang menjadi perspektif dalam album baru mereka.
"Secara pribadi, kami merasa sudah berkali-kali mengalami kehancuran dan disatukan kembali. Lem yang menyatukan bagian-bagian itu justru menceritakan kisahnya. Bekas lukalah bagian yang indah. Musik kami berada di ruang di antara semua itu. Sejak dulu memang begitu.”
Kutipan tersebut mengandung cara pandang yang lebih luas daripada sekadar penerimaan terhadap kesalahan teknis dalam rekaman. Dean berbicara tentang pengalaman manusia yang mengalami kerusakan, diperbaiki, lalu membawa jejak dari apa yang telah terjadi.
Dalam musik, ketidaksempurnaan bisa hadir melalui tekstur suara, keputusan produksi, atau ekspresi vokal yang tidak terasa steril. Dalam kehidupan, ia bisa berupa pengalaman yang mengubah seseorang dan tidak sepenuhnya dapat dihapus.
Bagi Dean, bagian yang menyatukan sesuatu setelah mengalami kerusakan justru menyimpan cerita. Bekas luka bukan gangguan yang harus disingkirkan, melainkan bukti bahwa sesuatu telah melewati pengalaman tertentu.
Ketidaksempurnaan di Tengah Era Kecerdasan Buatan
Pemikiran tersebut menjadi semakin relevan ketika musik dan seni semakin bersinggungan dengan kecerdasan buatan. Teknologi generatif dapat membantu menghasilkan gambar, suara, dan komposisi yang tampak rapi dalam waktu singkat. Namun, pertanyaan tentang apa yang membuat sebuah karya terasa manusiawi tetap terbuka.Dean tidak mengambil posisi yang sepenuhnya menolak AI. Ia mengakui bahwa teknologi tersebut memiliki sisi yang baik, tetapi meragukan apakah ekspresi manusia bisa dipisahkan dari pengalaman hidup yang melahirkannya.
“Sekarang, saya tidak sepenuhnya menentang AI. Saya tidak sepenuhnya anti-AI. Namun, ketika berbicara tentang ekspresi dan sifat manusia, hal-hal itu tidak bisa begitu saja dipalsukan.”
Sebelumnya, ia menggambarkan QOTSA sebagai karya seni dari luar arus utama, sebuah posisi yang menurutnya tidak sepenuhnya cocok dengan era ketika karya dapat dibuat agar terlihat sempurna.
Pandangannya bukan bahwa setiap karya buatan manusia otomatis lebih baik daripada karya berbantuan AI. Ia justru menekankan sesuatu yang lebih spesifik: ekspresi dan sifat manusia tidak bisa begitu saja dipalsukan. Dalam konteks musik QOTSA, pengalaman emosional bukan ornamen yang ditambahkan setelah komposisi selesai, melainkan bagian dari alasan musik itu dibuat.
Dari In Times New Roman... menuju Perfecth
Album studio kedelapan QOTSA, In Times New Roman..., dirilis pada 2023. Album itu memadukan karakter rock band yang kasar dan tajam dengan lirik Josh Homme yang sinis, personal, dan reflektif. Lagu-lagu seperti “Emotion Sickness”, “Carnavoyeur”, dan “Straight Jacket Fitting” memperlihatkan bagaimana kekuatan musikal mereka dapat berjalan beriringan dengan tema yang lebih gelap.Pada 2025, QOTSA juga merilis Alive in the Catacombs, proyek pertunjukan yang merekonstruksi lagu-lagu mereka dalam suasana katakomba Paris. Materi yang sebelumnya dikenal melalui aransemen rock dihadirkan dengan pendekatan lebih minimalis, memperlihatkan bahwa identitas musik band itu tidak bergantung semata-mata pada volume gitar.
Kini, QOTSA bersiap merilis Perfecth, album studio kesembilan mereka, pada 30 Oktober 2026. Album tersebut menjadi konteks terbaru bagi pembicaraan Dean tentang ketidaksempurnaan, kerentanan, dan cara band itu memahami pengalaman manusia.
Meski wawancara ini tidak menjelaskan setiap lagu atau menguraikan keseluruhan konsep album, jawaban Dean memperlihatkan benang merah dalam pendekatan kreatif mereka: musik tidak harus menghapus kerusakan untuk menemukan keindahan.
Simak wawancara eksklusif Dean Fertita dengan Medcom.id di bawah ini: