Queens of The Stone Age (Foto: dok. QOTSA)
Queens of The Stone Age (Foto: dok. QOTSA)

EKSKLUSIF: Bagaimana Queens of the Stone Age Melihat Musik Rock di Dunia yang Terbelah

Agustinus Shindu Alpito • 19 Oktober 2026 10:11
Ringkasnya gini..
  • Dean Fertita dari QOTSA berharap musik tetap menjadi ruang bersama bagi orang-orang dengan latar belakang dan pandangan berbeda.
  • Merujuk Bob Marley, Dean Fertita percaya musik masih punya kekuatan menyatukan manusia di tengah konflik dan perpecahan dunia.
  • Queens of the Stone Age dijadwalkan tampil di Singapura pada 2 Desember 2026, menandai debut mereka di negara tersebut.
Jakarta: Ketika perang, konflik politik, dan perbedaan identitas terus memengaruhi kehidupan masyarakat, pertanyaan mengenai fungsi musik terasa semakin mendesak. Apakah musik masih mampu mempertemukan manusia yang berbeda pandangan, atau justru menjadi bagian dari kebisingan yang memperlebar jarak di antara mereka?

Bagi Dean Fertita, gitaris sekaligus kibordis Queens of the Stone Age (QOTSA), harapan itu belum hilang. Dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id, Dean berbicara tentang peran musik rock sebagai ruang tempat orang-orang dari latar belakang berbeda dapat berbagi pengalaman tanpa harus menyelesaikan seluruh perbedaan mereka terlebih dahulu.

Ketika ditanya apakah rock masih dapat menjadi semacam tempat berlindung di tengah masyarakat yang semakin terpecah, Dean menjawab,  “Tepat sekali. Maksud saya, saya berharap begitu.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa kemampuan musik untuk menyatukan orang selalu menjadi tujuan yang ingin dicapai.

“Itu selalu jadi tujuannya, kan? Maksudnya, ada begitu banyak kegaduhan dan perpecahan. Dan jika kamu bisa melupakan itu lalu masuk ke suatu ruangan dan merasakan sesuatu bersama-sama dengan orang-orang yang, kamu tahu lah, kita tidak peduli apa pun sistem kepercayaanmu, kamu tahu apa yang saya maksud, kan?"

"Maksud saya, tentu saja kita punya pendapat tentang berbagai hal, tapi kita suka melihat orang-orang bisa meninggalkannya di luar dan sekadar bersama-sama. Itu adalah salah satu hal yang paling memuaskan dari bermain musik, yaitu ketika kamu melihat hal itu terjadi.”

Pernyataan Dean tidak secara khusus membahas perang tertentu atau menawarkan solusi politik terhadap konflik bersenjata. Ia berbicara tentang kebisingan dan perpecahan secara lebih luas. Namun, gagasannya relevan ketika kekerasan dan polarisasi membuat manusia semakin mudah melihat orang lain hanya melalui identitas, afiliasi, atau keyakinan mereka.

Bagi Dean, pengalaman bersama yang tercipta melalui musik dapat menjadi kesempatan untuk menghentikan sejenak proses tersebut.
 

Ruang Bersama tanpa Harus Sepakat

Musik rock memiliki sejarah panjang sebagai medium ekspresi, pemberontakan, dan penolakan terhadap norma yang mapan. Akan tetapi, tidak semua pengalaman musikal harus bermuara pada pernyataan politik yang eksplisit.

Dalam pandangan Dean, salah satu kekuatan musik justru terletak pada kemampuannya membuat orang berbagi ruang meskipun mereka memiliki pandangan berbeda.
 
Ia tidak mengatakan bahwa orang harus kehilangan pendapat atau mengabaikan persoalan di luar gedung konser. Sebaliknya, ia mengakui bahwa setiap orang memiliki opini. Yang ia harapkan adalah kemampuan untuk sejenak meninggalkan perbedaan tersebut dan mengalami sesuatu bersama.

Pandangan itu menarik karena tidak menuntut musik menyelesaikan konflik yang jauh lebih besar daripada sebuah pertunjukan. Konser tidak dapat menggantikan diplomasi, menghentikan perang dengan sendirinya, atau menghapus ketidakadilan. Namun, konser dapat menciptakan situasi ketika orang-orang yang tidak saling mengenal berdiri dalam ruang yang sama, mendengarkan lagu yang sama, dan merasakan pengalaman yang sama.
 
QOTSA-39--Annx
Queens of The Stone Age (Foto: dok. QOTSA)

Bagi band seperti QOTSA, pengalaman tersebut tidak membutuhkan keseragaman selera atau pandangan hidup. Orang-orang dapat datang dengan alasan berbeda, tetapi tetap menemukan hubungan melalui musik.

Dean kemudian menyebut seorang musisi yang namanya telah lama diasosiasikan dengan gagasan persatuan melalui musik: Bob Marley.

“Saya ingin berpikir bahwa musik masih memiliki, kamu tahu lah, kekuatan seperti yang dimiliki Bob Marley untuk menyatukan orang-orang. Dan ya, kita membutuhkannya. Dunia membutuhkannya lebih dari yang sudah-sudah, menurut saya.”

Marley bukan sekadar ikon reggae. Melalui musik dan penampilan publiknya, ia menjadi figur yang diasosiasikan dengan pesan perdamaian, solidaritas, dan penolakan terhadap perpecahan. Karya-karyanya melampaui batas geografis Jamaika dan menjadi bagian dari percakapan global mengenai kebebasan serta kemanusiaan.

Namun, musik Marley juga menunjukkan bahwa kekuatan menyatukan manusia tidak selalu berarti menghindari persoalan politik. Lagu-lagunya kerap berangkat dari pengalaman ketidakadilan, penindasan, dan konflik sosial. Persatuan yang ia bayangkan bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama, melainkan bahwa manusia tetap dapat menemukan dasar untuk hidup bersama.
 
Ketika Dean menyebut Marley, ia tidak sedang menyamakan musik QOTSA dengan pesan politik sang legenda reggae. Ia menggunakan Marley sebagai rujukan atas keyakinan bahwa musik masih memiliki kemampuan untuk mempertemukan manusia.

Dalam konteks itu, fungsi musik tidak harus dibatasi pada pelarian dari realitas. Musik dapat menjadi ruang untuk mengambil jarak dari kebisingan, tetapi juga mengingatkan pendengarnya bahwa orang-orang di sekeliling mereka memiliki pengalaman, perasaan, dan kerentanan yang sama-sama manusiawi.
 

Rock di Tengah Dunia yang Terpecah

QOTSA sendiri tumbuh dari tradisi rock yang menempatkan kebebasan berekspresi sebagai bagian penting dari identitasnya. Musik mereka menggabungkan hard rock, psikadelia, dan berbagai pendekatan eksperimental yang tidak selalu mengikuti ekspektasi arus utama.

Namun, bagi Dean, kebebasan tersebut tidak hanya berarti memainkan musik sesuai keinginan sendiri. Kebebasan juga dapat ditemukan dalam pengalaman kolektif: kesempatan untuk hadir bersama orang lain tanpa harus terlebih dahulu mengetahui atau menyetujui seluruh pandangan mereka.

Gagasan itu terasa penting di tengah kehidupan publik yang semakin sering dibentuk oleh perdebatan, pertentangan identitas, dan arus informasi yang terus-menerus menuntut reaksi. Dalam situasi seperti itu, musik menawarkan bentuk hubungan yang berbeda. Orang tidak harus memulai dari argumen untuk dapat mengalami sesuatu bersama.

Bagi Dean, dunia justru membutuhkan kemampuan tersebut lebih dari sebelumnya.

“Dan ya, kita membutuhkannya. Dunia membutuhkannya lebih dari yang sudah-sudah, menurut saya.”

Pernyataan itu tidak menawarkan jawaban mudah atas persoalan perang dan konflik. Ia juga tidak menempatkan musisi sebagai penyelamat dunia. Yang disampaikan Dean jauh lebih sederhana: musik masih dapat menciptakan ruang untuk kebersamaan, dan ruang semacam itu tetap dibutuhkan ketika kehidupan di luar panggung terasa semakin terpecah.

Queens of the Stone Age di Singapura dijadwalkan berlangsung pada 2 Desember 2026 di The Star Theatre sebagai bagian dari rangkaian world tour mereka. Penampilan satu malam yang sangat dinantikan ini menandai debut perdana band rock asal Amerika Serikat tersebut di Singapura, membawa energi heavy-hitting riff serta lagu-lagu hits ikonik mereka langsung ke hadapan para penggemar di Asia Tenggara.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA