Peluncuran ini dikemas dalam sesi bincang-bincang di Redwhite Jazz Lounge yang diinisiasi oleh Shoemaker Studios bersama Synchronize. Acara tersebut turut dihadiri sejumlah personel Transs, yakni Fariz RM, Djundi Karjadi, Dandung Sadewa, Eddy Harris, Erwin Gutawa, dan Hafil Perdanakusumah.
Di tengah kemeriahan hari terakhir Synchronize Fest yang menghadirkan musisi dari berbagai genre, Medcom.id berkesempatan menyimak kembali perjalanan Transs, grup yang hanya menghasilkan satu album studio sepanjang kiprahnya.
Perjalanan mereka terbilang singkat karena sejumlah personel, seperti Erwin Gutawa, Djundi Karjadi, dan Eddy Harris, memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sementara itu, Fariz RM melanjutkan perjalanan bermusik bersama grup lain setelah menyelesaikan pendidikan SMA.
Dalam sesi tersebut, Fariz RM turut mengenang proses kreatif di balik album Hotel San Vicente yang pertama kali dirilis pada 1981 melalui Akurama Records. Ia mengungkapkan bahwa Transs sejak awal memiliki semangat untuk menghadirkan warna musik, karakter, dan gaya yang berbeda dari arus utama saat itu.
"Kita semangatnya itu adalah regenerasi dalam warna, personalitas, dan gaya. Jadi kita juga mencari, mencari suatu keberanian-keberanian yang sensasionalnya tinggi," ungkap Fariz RM.
Asal-usul Nama Hotel San Vicente
Fariz kemudian menceritakan bagaimana nama Hotel San Vicente muncul dari sebuah obrolan sederhana di antara para personel. Ide tersebut bermula ketika Hafil Perdanakusumah pulang dari liburannya di Spanyol dan menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah kota bernama San Vicente."Kebetulan nama Hotel San Vicente itu ceritanya waktu itu Hafil berlibur ke Spanyol, kota yang namanya San Vicente. Nah ketika pulang dia cerita tentang San Vicente. Terus aku nyeletuk, 'Asik tuh kalau dijadiin judul Hotel San Vicente'. Karena berani bertaruh saat itu nggak ada yang bikin judul seperti itu kan di jalur pop Indonesia," lanjutnya.
Tak hanya nama album, artwork Hotel San Vicente juga menjadi salah satu elemen yang melekat kuat dalam ingatan pendengar. Sampul album tersebut menampilkan seorang perempuan berbalut handuk merah yang mencolok, sebuah konsep visual yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian calon pembeli di toko kaset.
Fariz menjelaskan, pemilihan visual tersebut berangkat dari kebutuhan untuk membuat album Transs mudah dikenali di antara banyaknya rilisan fisik yang berjejer di rak toko.
"Waktu itu ketika membicarakan artwork atau judul, kita diskusi bagaimana merepresentasikan judul itu agar sensasional. Nah terus aku bilang, 'Biasanya nama hotel kan suka ada di handuk tuh.' Buktinya sukses dong. Sukses nyolong mata orang," tutur Fariz.
Ia juga mengungkapkan bahwa identitas perempuan yang tampil dalam sampul album tersebut masih menjadi misteri hingga sekarang. Pernyataan itu disampaikan Fariz dengan nada bercanda yang disambut tawa para peserta acara.
"Dan yang paling sukses adalah yang tidak bisa kami buka sampai hari ini adalah siapakah perempuan itu? Hahahaha. Yang pasti anak Suara Mahardika, hahaha," tutur Fariz seraya tertawa lepas.
Diskusi album Hotel San Vicente bersama TRANSS di Synchronize Fest 2026
Wanita Berhanduk Merah yang Sengaja Mencuri Perhatian
Lebih lanjut, Fariz menjelaskan bahwa warna merah yang mencolok pada handuk dalam artwork tersebut merupakan bagian dari strategi visual mereka. Pada masa ketika kaset masih menjadi salah satu format utama untuk menikmati musik, tampilan sampul menjadi faktor penting untuk menarik perhatian pembeli."Kenapa handuknya merah mentereng banget di kaset itu? Karena dulu kami punya kesulitan waktu zaman masih kaset ya. Kami punya kesulitan untuk eye-catching. Bagaimana seseorang pembeli datang ke toko kaset terus bisa terambil pandangannya gitu. Nah itulah sebetulnya yang kami pikirkan representasinya harus begitu menonjol dan berbeda dan sensasional. Karena ketika dilihat dari rak yang berisi ratusan kaset, syut sebuah tubuh yang bagus dengan handuk merah 'Apa itu?'," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, David Tarigan selaku moderator turut menggali gagasan di balik pemilihan konsep sampul yang terbilang berani tersebut.
Menanggapi pertanyaan itu, Fariz kembali melontarkan jawaban jenaka yang mengundang gelak tawa audiens.
"Yang jelas bukan otak yang sadar!" tutur Fariz disambut tawa audiens.
Meski demikian, Fariz menegaskan bahwa konsep visual album tetap dirancang dengan mempertimbangkan keterkaitan antara sampul, judul, dan musik di dalamnya. Menurutnya, setiap elemen harus saling terhubung untuk membangun imajinasi pendengar sebelum mereka menikmati isi album.
"Yang jelas waktu itu kita membuang foto cover-nya kan ada foto grup gitu di belakang kan. Cuma kayaknya kalau foto grup biasa aja kayaknya enggak connect sama artwork depannya," ujar Fariz RM.
"Segala sesuatu tuh harus terkoneksi dalam membangun imajinasi pembeli atau penikmat musik. Jadi mempersiapkan juga untuk orang mendengar isinya tuh juga apa secara referensi juga pasti akan boom gitu. Maksudnya karena 'Nggak ada nih musik kayak gitu saat itu' gitu kan. Dan kami memang alhamdulillahnya memang nekat, kami tuh nekat yang kami perhitungkan gitu ya," tutupnya.