Dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id, Dean mengakui Indonesia masih menjadi salah satu tujuan yang belum berhasil mereka kunjungi. Ia bahkan menyebut keinginan tersebut telah berulang kali dibicarakan di lingkungan band.
“Kamu tahu betapa kami sangat ingin melakukan itu. Kami belum punya rencana untuk melakukannya, tapi kami terus meminta untuk bisa datang ke dua tempat yang belum pernah kami kunjungi. Dan saya tahu band-band lain memang datang dan menggelar pertunjukan di area-area tersebut," kata Dean dalam wawancara dengan Medcom.id
Dean tidak menjanjikan tanggal ataupun memastikan bahwa konser akan segera terlaksana. Menurut dia, persoalannya adalah bagaimana mengatur perjalanan tur agar Indonesia bisa masuk ke dalam rute pertunjukan mereka.
“Jadi kami hanya harus mencari cara agar itu bisa terwujud. Saya tahu itu selalu jadi bahan diskusi, jadi ini seperti terserah agen booking dan semua orang lainnya untuk mencari tahu apakah kami bisa mengatur rute perjalanan itu dan membawa kami ke sana. Tapi ini bukan karena kami kurang berusaha. Kami ingin melakukannya.”
Pernyataan itu memberikan jawaban yang cukup jelas bagi penggemar Indonesia: QOTSA ingin datang, tetapi keinginan tersebut belum menjadi pengumuman konser resmi. Dean juga menegaskan bahwa belum terwujudnya rencana itu bukan karena mereka tidak berusaha.
Indonesia Masih Menjadi Tujuan yang Belum Tercapai
Indonesia memiliki basis pendengar rock dan musik alternatif yang tumbuh melalui berbagai generasi. Lagu-lagu QOTSA seperti "No One Knows," "Go with the Flow," "Little Sister," dan "3's & 7's" menjadi bagian dari katalog rock modern yang dikenal luas di kalangan penggemar musik gitar.Dibentuk di Palm Desert, California, pada 1996, QOTSA membangun karakter musik melalui perpaduan riff gitar yang repetitif, ritme yang berat, psikadelia, dan pendekatan penulisan lagu yang tidak selalu mengikuti struktur rock konvensional. Dipimpin vokalis sekaligus gitaris Josh Homme, band ini berkembang dari akar desert rock menjadi salah satu nama penting dalam musik rock alternatif.
Kehadiran Dean, yang bergabung pada 2007, turut memperluas palet suara band. Selain memainkan gitar dan kibor, ia membawa pengalaman dari berbagai proyek musik lain ke dalam proses kreatif QOTSA.
Karena itu, pertanyaan mengenai kemungkinan konser di Indonesia bukan hanya persoalan satu pertunjukan. Bagi penggemar, kesempatan melihat QOTSA secara langsung juga berarti menyaksikan bagaimana musik yang selama ini mereka dengarkan melalui rekaman diterjemahkan ke panggung.
Singapura Menjadi Pintu Masuk Asia Tenggara
QOTSA dijadwalkan tampil di The Star Theatre, Singapura, pada 2 Desember 2026. Pertunjukan tersebut diumumkan sebagai konser pertama mereka di negara itu. Informasi resmi penyelenggara menyebut konser tersebut akan menghadirkan materi dari perjalanan karier band, termasuk lagu-lagu yang telah menjadi bagian penting katalog mereka. (Ticketmaster Singapore)Konser Singapura itu memperlihatkan bahwa Asia Tenggara masuk dalam jangkauan perjalanan mereka. Namun, keberadaan jadwal di negara tetangga tidak otomatis berarti Indonesia akan menjadi bagian dari rute yang sama.
Dean justru menggarisbawahi bahwa persoalan tur melibatkan banyak pihak, termasuk agen pemesanan dan penyelenggara. Ketersediaan waktu, logistik, dan kemungkinan menghubungkan satu kota dengan kota lain menjadi bagian dari perhitungan yang harus diselesaikan sebelum sebuah konser dapat diumumkan.
Dengan kata lain, keinginan artis dan kepastian jadwal merupakan dua hal berbeda. Pernyataan Dean memberi alasan bagi penggemar untuk berharap, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pertunjukan di Indonesia sedang dalam tahap finalisasi.
Simak wawancara Dean Fertita selengkapnya di bawah ini: