Spotify mengeluarkan 50 juta lagu dari rekomendasi pada 2026 dan memperkuat deteksi spam AI, label artis virtual, serta perlindungan musisi.
Spotify mengeluarkan 50 juta lagu dari rekomendasi pada 2026 dan memperkuat deteksi spam AI, label artis virtual, serta perlindungan musisi.

Spotify Hapus 50 Juta Lagu dari Rekomendasi AI

Lufthi Anggraeni • 21 Oktober 2026 16:09
Ringkasnya gini..
  • Spotify mengeluarkan lebih dari 50 juta lagu yang dikategorikan sebagai slop dan spam dari rekomendasi sepanjang tahun 2026.
  • Spotify mengandalkan interaksi pendengar, metadata, pola unggahan, dan alat deteksi AI untuk mengidentifikasi konten bermasalah.
  • Spotify memperkuat AI Credits, label AI Persona, dan verifikasi artis, tetapi belum menyediakan opsi untuk memblokir seluruh musik AI.
Jakarta: Spotify menghapus lebih dari 50 juta lagu yang dikategorikan sebagai konten berkualitas rendah atau spam dari sistem rekomendasinya sepanjang tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk melindungi musisi dan pendengar dari penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI).

Langkah ini juga dilakukan Spotify sebagai bentuk perlindungan dari produksi musik massal yang berpotensi mengganggu pengalaman mendengarkan. Dalam pembaruannya, Spotify menyatakan telah memperbarui sistem rekomendasi selama enam bulan terakhir agar lebih mengutamakan musik dari musisi manusia.

Mengutip Engadget, Spotify juga menegaskan perusahaannya telah memastikan bahwa konten yang teridentifikasi sebagai slop atau spam tidak dimasukkan ke dalam playlist pilihan editor. Namun, langkah tersebut belum berarti seluruh lagu yang masuk kategori itu telah dihapus dari platform. 

Spotify membedakan konten yang dikeluarkan dari rekomendasi dengan konten yang dihapus secara permanen akibat pelanggaran serius atau berulang terhadap aturan layanan. Sejumlah pihak menilai pendekatan Spotify belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pendengar yang ingin memiliki kendali lebih besar terhadap musik buatan AI yang mereka temui di platform.

Persoalan ini semakin penting seiring berkembangnya teknologi generatif yang memungkinkan pembuatan musik dalam jumlah besar dengan biaya dan waktu relatif rendah. Bagi layanan streaming, kondisi tersebut menghadirkan tantangan dalam membedakan karya kreatif yang sah dari konten yang sengaja diproduksi untuk memanipulasi rekomendasi, pencarian, atau distribusi royalti.
 
Melodies of the Future Workspace
 

Spotify Perbarui Sistem Rekomendasi Musik

Spotify mengungkapkan bahwa pihaknya menganalisis lagu yang sering dilewati, diabaikan, atau ditolak pendengar. Dari analisis tersebut, Spotify menemukan pola bahwa banyak lagu yang ditolak pengguna juga teridentifikasi sebagai konten slop atau spam.

Temuan itu kemudian menjadi salah satu dasar untuk memperbarui sistem rekomendasi. Spotify menggabungkan sejumlah sinyal, termasuk interaksi pendengar, umpan balik pengguna, pola unggahan, metadata, dan informasi dari perangkat pendeteksi AI pihak ketiga.

Selain itu, Spotify menyatakan tidak ada satu indikator yang dapat mengidentifikasi seluruh konten bermasalah secara akurat. Karena itu, berbagai sinyal perlu dianalisis secara bersamaan untuk meningkatkan ketepatan identifikasi.

Spotify juga memantau sejumlah pola penyalahgunaan, seperti pengunggahan lagu dalam jumlah besar, duplikasi konten, manipulasi optimasi mesin pencari (SEO), jaringan playlist spam, dan lagu dengan durasi yang sengaja dibuat sangat pendek.

Pola-pola tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan visibilitas konten secara tidak wajar atau mengeksploitasi mekanisme distribusi layanan streaming. Dengan memperbarui sistem secara berkala, Spotify berupaya menyesuaikan perlindungannya terhadap taktik baru yang digunakan pengunggah spam.

Meski demikian, Spotify mengakui bahwa teknologi pendeteksi AI memiliki keterbatasan. Perkembangan model generatif berpotensi membuat konten buatan AI semakin sulit dibedakan dari karya manusia hanya melalui analisis otomatis.

Spotify menyatakan akan terus memperbarui sistem deteksi seiring perubahan metode penyalahgunaan. Perusahaan asal Swedia ini juga melaporkan adanya penurunan keluhan pendengar terkait kemunculan konten slop dan spam dalam rekomendasi setelah perubahan sistem dilakukan.

Lebih dari 75 Juta Lagu Spam Telah Dihapus

Selain mengeluarkan lebih dari 50 juta lagu dari rekomendasi sepanjang tahun 2026, Spotify menyebut telah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam dari platform karena pelanggaran serius atau berulang terhadap aturan layanan. 

Angka tersebut merupakan jumlah yang sebelumnya diumumkan pada bulan September 2025. Dalam pembaruan terbarunya, Spotify tidak memberikan angka kumulatif baru untuk penghapusan permanen. Dengan demikian, kedua angka tersebut memiliki cakupan berbeda. 

Lebih dari 50 juta lagu dikeluarkan dari rekomendasi pada tahun 2026, sedangkan lebih dari 75 juta lagu spam telah dihapus dari platform berdasarkan laporan sebelumnya. Angka tersebut tidak dapat dijumlahkan begitu saja karena Spotify belum menjelaskan kemungkinan tumpang tindih antara kedua kelompok konten.

Namun sebagian lagu yang tidak lagi direkomendasikan masih dapat tersedia di Spotify. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar kendali yang diberikan kepada pendengar untuk menghindari konten buatan AI atau musik yang dianggap berkualitas rendah.

Spotify menyatakan bahwa fokus kebijakannya adalah menangani penggunaan AI yang merugikan, seperti spam, peniruan identitas, dan penipuan, alih-alih melarang musik hanya karena dibuat menggunakan teknologi AI. Pendekatan ini memungkinkan musisi memanfaatkan AI sebagai alat kreatif selama penggunaannya tidak melanggar aturan platform.

Perbedaan pendekatan tersebut penting karena penggunaan AI tidak selalu identik dengan spam. Musisi dapat menggunakan teknologi generatif untuk membantu proses produksi, sedangkan pihak lain dapat memanfaatkannya untuk mengunggah ribuan lagu secara otomatis demi mengejar jumlah pemutaran atau memanipulasi sistem royalti.
   

Spotify Perkuat Label AI dan Verifikasi Artis

Spotify juga mengembangkan sejumlah fitur untuk meningkatkan transparansi dan melindungi identitas musisi. Salah satunya adalah AI Credits, yang memungkinkan artis mengungkapkan peran teknologi AI dalam proses pembuatan lagu. 

Informasi tersebut dapat dilihat melalui bagian kredit lagu pada tampilan Now Playing di aplikasi seluler. Menurut pembaruan perusahaan teknologi tersebut, artis mengirimkan puluhan ribu informasi AI Credits setiap hari. 

Spotify juga berencana memperluas cara pengguna melihat pengungkapan penggunaan AI agar informasi tersebut lebih mudah ditemukan. Selain itu, Spotify memperkenalkan label AI Persona untuk profil artis dengan identitas yang dihasilkan AI. 

Ribuan AI Persona telah diberi label tersebut. Secara default, mereka tidak dimasukkan ke rekomendasi algoritmik maupun playlist editorial, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti saat pengguna mengikuti profil tersebut.

Tidak hanya itu, Spotify juga melaporkan bahwa lebih dari 300.000 artis telah terverifikasi melalui Verified by Spotify. Menurut data perusahaan, jumlah tersebut mencakup lebih dari 99% artis yang dicari pendengar di platform, dan lebih dari 70% artis terverifikasi tersebut merupakan musisi independen.

Fitur lain yang dikembangkan Spotify adalah Artist Profile Protection. Melalui fitur ini, musisi dapat meninjau rilisan yang mencantumkan nama mereka sebelum konten tersebut ditampilkan pada profil artis. Spotify menyatakan akan menyediakan fitur tersebut bagi seluruh artis pada akhir tahun  2026.

Perlindungan ini ditujukan untuk mengurangi risiko musik yang tidak terkait dengan seorang artis muncul di profilnya akibat kesalahan atribusi atau penyalahgunaan identitas.
 

Kebijakan AI Spotify Masih Jadi Perdebatan

Di tengah upaya membatasi spam, Spotify tetap mengembangkan fitur berbasis AI untuk mendukung pengalaman mendengarkan dan proses kreatif. Kondisi ini dinilai sejumlah pihak belum memberikan pilihan cukup luas bagi pendengar untuk menghindari musik buatan AI.

Spotify, misalnya, memungkinkan pengguna memanfaatkan alat AI untuk membuat remix dan cover lagu. Pada saat yang sama, perusahaan berupaya menekan distribusi konten AI yang dianggap spam atau menyesatkan.

Sejumlah pihak menilai Spotify seharusnya mempertimbangkan opsi yang memungkinkan pengguna memblokir lagu yang teridentifikasi sebagai spam atau menyaring musik yang secara terbuka mengungkapkan penggunaan AI. Namun, perusahaan belum mengumumkan fitur pemblokiran menyeluruh semacam itu.

Spotify juga mengandalkan ambang minimum 1.000 pemutaran sebelum sebuah lagu memenuhi syarat mendapatkan royalti, kebijakan yang berlaku sejak tahun 2024. Menurut perusahaan ini, lagu dengan indikator kuat sebagai konten buatan AI memiliki peluang sepuluh kali lebih besar untuk berada di bawah ambang tersebut. 

Mekanisme ini dinilai dapat mengurangi insentif bagi pihak yang mencoba mengeksploitasi sistem pembayaran dengan memproduksi musik secara massal. Meski demikian, kebijakan tersebut tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan musik AI. Tantangannya mencakup identifikasi konten, transparansi kepada pendengar, perlindungan identitas musisi, dan pembagian royalti yang adil.

Spotify menegaskan bahwa pendekatannya akan terus berkembang mengikuti perubahan teknologi serta pola penyalahgunaan. Bagi perusahaan, tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan antara membuka ruang inovasi AI dan memastikan musik dari artis manusia tetap dapat ditemukan oleh pendengar.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA