Kelompok Penolak Wukuf
ILUSTRASI: Jutaan jemaah haji melakukan wukuf di sekitar Jabal Rahmah di Padang Arafah/MI/Adam Dwi.
Jakarta: Di bawah kendali kabilah Quraisy, kota yang sebelumnya hanya lembah tandus itu makin ramai dikunjungi orang-orang. Mekah, kini memiliki dua daya tawar yang menggiurkan para kafilah dagang. Kakbah yang megah, serta zamzam yang memancar dikenal amat segar.

Ali Husni al Kharbuthli dalam Tarikh Ka'bah menggambarkan sepak terjang suku Quraisy dalam memasyhurkan nama Mekah di kawasan jazirah.


Baca: Suku Quraisy yang Demokratis

Mekah, kata dia, dari sebutan kota tertutup disulap menjadi kawasan strategis yang memberi ruang kepada kelompok dan suku-suku lain untuk hidup berdampingan.

"Bahkan, selain suku Quraisy dan suku-suku asli Mekah, ada juga warga asing yang tinggal di sana. Mereka adalah kaum Yahudi, Nasrani, orang-orang Suriah, Mesir, Ethiopia, Romawi, dan Persia," tulis al Kharbuthli.

Kedatangan bangsa lain ke Mekah juga dilandasi beragam faktor. Selain untuk berhaji, mereka juga berduyun-duyun memasuki Kota Suci itu untuk berniaga.

"Kala itu, Mekah juga diberlakukan sebagai tempat suaka ternyaman bagi orang-orang tertindas," tulis dia, masih dalam buku yang sama.

Sebagai kota terbuka, suku Quraisy tak membatasi kelompok pendatang untuk membangun rumah dengan jarak yang cukup dekat dengan kakbah. Padahal, sebelumnya hal itu tidak diperbolehkan kecuali bagi penduduk asli Tanah Haram.

Baca: Para Pengagum Kakbah Sebelum Islam

Mekah pun kian padat dan beragam. Guna melindungi kepentingannya sebagai pribumi dan pewaris sah Kota Mekah, sebagian golongan dari penduduk asli menggelari dirinya dengan nama Al Humus.

Kelompok ini merasa berpantangan untuk mengagungkan apapun yang berada di luar Tanah Haram.

"Oleh karena itu kaum Al Humus merasa tidak perlu wukuf di Arafah karena ia berada di luar kota Mekah," tulis al Kharbuthli.

Al Humus lebih memilih wukuf di Muzdalifah. Meski begitu, kaum Al Humus tetap mengakui bahwa wukuf di Arafah merupakan bagian dari manasik haji masa itu.

Hingga berratus tahun, Al Humus tetap mempertahankan keyakinannya. Eksistensi kelompok ini baru terhenti ketika mereka jumpai Nabi Muhammad saw. yang merupakan keturunan asli Tanah Haram namun tetap melaksanakan wukuf di Arafah.





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id