Kisah di Balik <i>Labbaik Allahumma Labbaik</i>
Ilustrasi: Kakbah dan Kota Mekah/ AFP Photo/Karim Shahib
Jakarta: Labbaik Allahumma labbaik.... labbaika laa syarika laka labbaik... Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu.

Kalimat itu senantiasa bergemuruh di Tanah Suci, Mekah. Setiap insan yang mengucapkan, seakan memendam kerinduan mendalam. Kalimat dengan sebutan talbiyah menjelma penegasan dari jutaan manusia ihwal keimanannya terhadap keesaan Allah swt.


Pekikan talbiyah bukan nihil sejarah. Berbagai teks dan literatur menunjukkan bahwa lafaz tersebut terbilang tua. Ia pertama muncul seiring Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. rampung membangun kakbah.

Seruan berhaji

Nabi Ibrahim dan putranya saling bahu membahu menjalankan perintah Allah swt. Mereka mengangkut bebatuan dari gunung Hira, Lubnan, al Judi, Thurisina, dan Thurzetta sebagai bahan dasar mendirikan kakbah.

Baca: Magnet Kakbah dan Putra-putra Ismail yang Terusir

Perjuangan pun usai. Kakbah berdiri. Namun, kepada kedua manusia suci itu, Allah swt. kembali berfirman;

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dan segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27).
 

Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid atau masyhur dengan nama Imam ath Thabari dalam kitabnya, Tarikh al Umam wa al Muluk mengisahkan, kala mendapatkan wahyu dari Allah swt., ia menjawab:

"Wahai Tuhanku, suaraku tidak mampu memanggil hingga jauh."

"Serulah! Aku yang akan menyampaikan," jawab Allah swt.

Mendapati perintah itu, Nabi Ibrahim pun segera melantangkan suaranya, "Wahai manusia! Sesungguhnya Allah mewajibkan atas kamu haji ke baitullah."

Dan ternyata seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit mendengar seruan itu.

Baca: Angin Penunjuk Kakbah

Jawaban alam

Masih dalam kitabnya, Imam ath Thabari menceritakan bahwa saat Nabi Ibrahim as. menyampaikan seruan haji, ia menghadap ke negeri Yaman. Dari arah itulah lantas terdengar semacam jawaban, "Labbaik Allahumma labbaik...!"

Nabi Ibrahim tak melakukan sekali. Ia berbalik ke arah barat dan melantangkan kembali seruan Tuhan. Dari arah tersebut, muncul pula jawaban yang sama, "Labbaik Allahumma labbaik...!"

Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw., Ibn Abbas, sebagaimana diriwayatkan Ibn Jarir mengatakan, jawaban talbiyah berasal dari bebatuan, pohon, bukit-bukit, debu, atau apa saja yang mendengar seruan tersebut.

Sementara dalam riwayat Ibn Thufail, Ibn Abbas berkata, "Ketika seruan berhaji disampaikan kepada manusia, gunung-gunung merendahkan puncaknya dan desa-desa meninggikan datarannya untuk Nabi Ibrahim."

Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr al Anshari al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkam al Qur’an wa al Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as Sunnah wa Ayi al Furqanmenceritakan, kalimat talbiyah tidak cuma menjadi jawaban alam yang sudah mewujud.

Baca: Dua Menantu di Balik Pembangunan Kakbah

Ia menulis, "Bakal manusia yang masih berada dalam tulang sulbi lelaki dan rahim perempuan pun turut menjawab, 'Labbaik Allahumma labbaik!"





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id