Dua Menantu di Balik Pembangunan Kakbah
ILUSTRASI: Ribuan umat Islam sedang bertawaf mengelilingi kakbah/ANTARA/Prasetyo Utomo
Jakarta: Setelah Nabi Ismail kian tumbuh dewasa, ia mesti rela kehilangan Siti Hajar, sang ibunda.

Hajar wafat pada usia 90 tahun. Ismail pun sudah berumah tangga, ia menikahi salah satu putri dari elite kabilah Jurhum, al Juda binti Sa'd.


Al Mas'udi dalam Muruj adz Dzahab wa Maadin al Jauhar menceritakan, kala itu, Nabi Ibrahim as. tinggal di wilayah Palestina. Menetap bersama Siti Sarah, sang ayah lama-lama memendam kerinduan yang amat sangat kepada putranya.

Sekali waktu, muncul di benak Ibrahim untuk bertandang ke rumah Ismail di Mekah.

Baca: Angin Penunjuk Kakbah

Penyambutan

Rasa kangen tak lagi terbendung. Kepada Sarah, Nabi Ibrahim meminta izin menembus panasnya gurun jazirah. 

Perjalanan cukup berat dilalui Ibrahim. Tak sempat beristirahat, ia mulai menghampiri kediaman putranya di jantung kota Mekah.

"Di mana suamimu?" tanya Nabi Ibrahim, kepada al Juda.

"Dia sedang tidak ada di rumah. Ismail sedang pergi berburu," jawab sang menantu.

"Baiklah. Tapi, adakah yang bisa kau hidangkan untuk menghormati seorang tamu?" tanya Nabi Ibrahim.

"Tidak ada seorang pun di sini," jawab al Juda, setengah cuek. 

Nabi Ibrahim sedikit menghela napas. Beliau dimunculi perasaan kurang nyaman atas penyambutan sang menantu yang dingin. Tak ada pilihan, Nabi Ibrahim langsung mohon diri dan meminta sang menantu menyampaikan salam kepada putranya.

Beda sikap

Hari sudah mulai petang. Nabi Ismail merasa cukup dalam perburuan dan berniat pulang ke kediaman. Namun, ketika memasuki pintu Mekah, dia mendengar orang-orang membicarakan cara penyambutan al Junda terhadap sang ayah.

Para tetangga mengeluh, sikap dingin al Juda tak layak ditiru.

Menerima kabar burung itu, Nabi Ismail mencoba mengkonfirmasi pelan-pelan kepada istrinya. Akan tetapi, al Juda kekeh tak merasa bersalah. Sikap sopan santun, dibilangnya tak perlu disajikan kepada tamu, termasuk ke hadapan mertuanya sendiri.

Atas perbedaan prinsip yang mencolok ini, akhirnya Nabi Ismail bermaksud berpisah dengan al Juda. Nabi Ismail kecewa, padahal ia pun memendam kerinduan serupa kepada sang ayah.

Baca: Magnet Kakbah dan Putra-putra Ismail yang Terusir

Imam ath Thabari dalam Tarikh al Umam wa al Muluk mengisahkan, setelah bercerai dengan al Juda, beberapa tahun kemudian Nabi Ismail menikahi perempuan bernama Samah binti Muhalhil. 

Samah, sebenarnya juga berasal dari keturunan kabilah yang sama. Namun, Ismail menilai, perempuan ini punya sikap lebih lembut dan penuh kesopanan.

"Ketika Samah menerima Nabi Ibrahim yang kembali berkunjung, ia lekas menyuguhinya roti dan susu. Melihat penyambutan yang hangat, Nabi Ibrahim pun mendoakan untuk kesejahteraan kota Mekah," tulis ath Thabari. 

Setelah bersantap, Nabi Ibrahim as. mengungkapkan maksud kedatangannya. Selain lantaran rindu, Ibrahim juga menceritakan bahwa sebuah wahyu telah datang kepadanya. Yakni, perintah Allah swt. agar ia mengajak putranya membangun kakbah. 

Mendengar kabar itu, orang-orang Jurhum lainnya memohon agar rumah-rumah mereka turut disinggahi Sang Nabi. Mereka memohon agar turut didoakan dan mendapat berkah. 





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id