YOUR FASHION
Busana China dan Turki Curi Perhatian di Moscow Fashion Week 2026
Elang Riki Yanuar
Senin 20 April 2026 / 14:00
- Moscow Fashion Week kembali digelar pertengahan Maret dengan 300+ brand internasional, menegaskan posisinya sebagai panggung fashion global.
- Ajang ini menyorot desainer Rusia lewat 80+ peragaan, menampilkan karya berbasis artisan, slow fashion, hingga pemanfaatan kain sisa produksi.
- Brand China dan Turki ikut mencuri perhatian di Moscow Fashion Week, membawa koleksi berakar budaya dan konsep modern berorientasi sustainability.
Jakarta: Moscow Fashion Week kembali digelar pada pertengahan Maret dan sukses memperkuat reputasinya sebagai salah satu panggung mode paling berpengaruh di dunia. Ajang ini tidak hanya menampilkan deretan koleksi runway yang atraktif, tetapi juga membawa pesan kuat tentang masa depan industri fashion yang lebih inklusif, berakar pada tradisi, dan berpihak pada keberlanjutan.
Dalam gelaran tahun ini, Runway Moscow dipenuhi energi baru dengan partisipasi lebih dari 300 brand. Deretan label tersebut datang dari berbagai negara, mulai dari Rusia sebagai tuan rumah hingga Turki, Tiongkok, Spanyol, dan Armenia. Kehadiran banyak nama internasional membuat Moscow Fashion Week semakin dipandang sebagai ajang global yang mampu menyatukan ragam identitas budaya dalam satu ruang kreatif.
Agenda utama Moscow Fashion Week juga semakin padat dengan lebih dari 80 peragaan busana yang berlangsung selama rangkaian acara. Mayoritas runway menampilkan karya desainer Rusia yang sedang naik daun, menunjukkan bahwa industri mode lokal di negara tersebut terus berkembang dengan arah yang semakin modern dan berani.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Masterpeace. Brand ini dikenal karena keterlibatannya dalam mendukung artisan dari kota kecil dan desa-desa di Rusia. Melalui kolaborasi dekoratif yang kuat, Masterpeace menghadirkan koleksi teatrikal yang tetap memiliki nilai fungsional, sekaligus mematahkan anggapan bahwa rok bervolume hanya cocok untuk acara formal atau korset hanya pantas dipakai pada momen tertentu.
Sementara itu, Atelier Argear menawarkan perspektif yang lebih reflektif. Koleksinya memotret kerapuhan dunia modern dan mengemasnya dalam desain yang penuh makna. Brand ini juga menegaskan komitmen terhadap praktik berkelanjutan dengan memanfaatkan sisa kain produksi sebagai material utama, sehingga setiap busana memiliki karakter unik sekaligus menekan limbah tekstil.
Di sisi lain, Esve memanfaatkan momentum Moscow Fashion Week untuk merayakan ulang tahun ke-10 mereka. Koleksi terbaru Esve tampil seperti sebuah manifesto tentang feminitas yang diekspresikan lewat material ringan, siluet rok penuh, serta detail handcrafted yang presisi. Tidak hanya menonjolkan estetika, Esve juga menempatkan perhatian tinggi pada detail sebagai kekuatan utama desain mereka.
Komitmen terhadap filosofi slow fashion juga ditunjukkan oleh brand Unke. Koleksi yang mereka bawa menekankan gagasan busana jangka panjang yang tidak terikat tren musiman. Warna-warna pastel seperti krem, dusty pink, biru langit, hingga pistachio mendominasi tampilan runway, diperkuat dengan permainan drapery, motif samar, dan aksen ikatan dekoratif sebagai pusat perhatian.
Pendekatan serupa turut diperlihatkan oleh desainer Zlata Peczkowska. Ia mengeksplorasi material daur ulang dan teknik recycling, lalu menggabungkannya dengan craftsmanship manual yang detail. Dalam koleksi terbarunya, Zlata menghadirkan motif floral yang dipadukan dengan referensi bordir historis dan konstruksi busana folklor, menghasilkan koleksi yang terasa klasik namun tetap relevan dengan kebutuhan mode masa kini.
Salah satu penampilan paling mencuri perhatian datang dari brand asal Tiongkok, Xuaujin. Koleksi yang mereka tampilkan terinspirasi dari warisan budaya masyarakat Buyi, dengan ciri khas potongan asimetris dan siluet berlapis. Xuaujin memadukan teknik bordir tangan khas Miao serta pewarnaan indigo dengan material kontemporer seperti sutra dan denim, menciptakan kombinasi tradisional-modern yang kuat di runway.
Sorotan internasional lainnya hadir lewat desainer asal Turki, Emre Erdemoğlu. Ia membawa koleksi yang menampilkan kontras menarik antara tailoring bergaya arsitektural dan tekstur yang lebih ekspresif. Trench coat dengan potongan pinggang rendah menjadi salah satu item yang mencolok, disusul jaket minimalis bernuansa Japandi yang diberi sentuhan detail biker dan aksen metalik.
Emre menegaskan bahwa Moscow Fashion Week menjadi wadah penting untuk memperkenalkan identitas budaya Turki ke audiens global.
“Partisipasi dalam Moscow Fashion Week menyoroti perspektif desain, tekstil, dan warisan budaya unik dari Türkiye. Menampilkan elemen-elemen ini di platform internasional yang prestisius tidak hanya memperkuat identitas fashion negara, tetapi juga mendorong apresiasi global terhadap budaya dan kreativitasnya,” ujar Emre Erdemoğlu.
Dengan rangkaian acara yang semakin besar dan beragam, Moscow Fashion Week tahun ini kembali membuktikan bahwa industri fashion dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi. Ajang ini juga memperlihatkan bagaimana panggung internasional mampu mendorong desainer muda, memperkuat nilai budaya lokal, sekaligus mempromosikan masa depan mode yang lebih bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Dalam gelaran tahun ini, Runway Moscow dipenuhi energi baru dengan partisipasi lebih dari 300 brand. Deretan label tersebut datang dari berbagai negara, mulai dari Rusia sebagai tuan rumah hingga Turki, Tiongkok, Spanyol, dan Armenia. Kehadiran banyak nama internasional membuat Moscow Fashion Week semakin dipandang sebagai ajang global yang mampu menyatukan ragam identitas budaya dalam satu ruang kreatif.
Agenda utama Moscow Fashion Week juga semakin padat dengan lebih dari 80 peragaan busana yang berlangsung selama rangkaian acara. Mayoritas runway menampilkan karya desainer Rusia yang sedang naik daun, menunjukkan bahwa industri mode lokal di negara tersebut terus berkembang dengan arah yang semakin modern dan berani.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Masterpeace. Brand ini dikenal karena keterlibatannya dalam mendukung artisan dari kota kecil dan desa-desa di Rusia. Melalui kolaborasi dekoratif yang kuat, Masterpeace menghadirkan koleksi teatrikal yang tetap memiliki nilai fungsional, sekaligus mematahkan anggapan bahwa rok bervolume hanya cocok untuk acara formal atau korset hanya pantas dipakai pada momen tertentu.
Sementara itu, Atelier Argear menawarkan perspektif yang lebih reflektif. Koleksinya memotret kerapuhan dunia modern dan mengemasnya dalam desain yang penuh makna. Brand ini juga menegaskan komitmen terhadap praktik berkelanjutan dengan memanfaatkan sisa kain produksi sebagai material utama, sehingga setiap busana memiliki karakter unik sekaligus menekan limbah tekstil.
Di sisi lain, Esve memanfaatkan momentum Moscow Fashion Week untuk merayakan ulang tahun ke-10 mereka. Koleksi terbaru Esve tampil seperti sebuah manifesto tentang feminitas yang diekspresikan lewat material ringan, siluet rok penuh, serta detail handcrafted yang presisi. Tidak hanya menonjolkan estetika, Esve juga menempatkan perhatian tinggi pada detail sebagai kekuatan utama desain mereka.
Komitmen terhadap filosofi slow fashion juga ditunjukkan oleh brand Unke. Koleksi yang mereka bawa menekankan gagasan busana jangka panjang yang tidak terikat tren musiman. Warna-warna pastel seperti krem, dusty pink, biru langit, hingga pistachio mendominasi tampilan runway, diperkuat dengan permainan drapery, motif samar, dan aksen ikatan dekoratif sebagai pusat perhatian.
Pendekatan serupa turut diperlihatkan oleh desainer Zlata Peczkowska. Ia mengeksplorasi material daur ulang dan teknik recycling, lalu menggabungkannya dengan craftsmanship manual yang detail. Dalam koleksi terbarunya, Zlata menghadirkan motif floral yang dipadukan dengan referensi bordir historis dan konstruksi busana folklor, menghasilkan koleksi yang terasa klasik namun tetap relevan dengan kebutuhan mode masa kini.
Salah satu penampilan paling mencuri perhatian datang dari brand asal Tiongkok, Xuaujin. Koleksi yang mereka tampilkan terinspirasi dari warisan budaya masyarakat Buyi, dengan ciri khas potongan asimetris dan siluet berlapis. Xuaujin memadukan teknik bordir tangan khas Miao serta pewarnaan indigo dengan material kontemporer seperti sutra dan denim, menciptakan kombinasi tradisional-modern yang kuat di runway.
Sorotan internasional lainnya hadir lewat desainer asal Turki, Emre Erdemoğlu. Ia membawa koleksi yang menampilkan kontras menarik antara tailoring bergaya arsitektural dan tekstur yang lebih ekspresif. Trench coat dengan potongan pinggang rendah menjadi salah satu item yang mencolok, disusul jaket minimalis bernuansa Japandi yang diberi sentuhan detail biker dan aksen metalik.
Emre menegaskan bahwa Moscow Fashion Week menjadi wadah penting untuk memperkenalkan identitas budaya Turki ke audiens global.
“Partisipasi dalam Moscow Fashion Week menyoroti perspektif desain, tekstil, dan warisan budaya unik dari Türkiye. Menampilkan elemen-elemen ini di platform internasional yang prestisius tidak hanya memperkuat identitas fashion negara, tetapi juga mendorong apresiasi global terhadap budaya dan kreativitasnya,” ujar Emre Erdemoğlu.
Dengan rangkaian acara yang semakin besar dan beragam, Moscow Fashion Week tahun ini kembali membuktikan bahwa industri fashion dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi. Ajang ini juga memperlihatkan bagaimana panggung internasional mampu mendorong desainer muda, memperkuat nilai budaya lokal, sekaligus mempromosikan masa depan mode yang lebih bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)