YOUR FASHION
200 Desainer Pamer Koleksi Berbasis Warisan Budaya di Moscow Fashion Week
Elang Riki Yanuar
Rabu 08 April 2026 / 10:00
- Moscow Fashion Week 2026 digelar hingga 19 Maret, menghadirkan 200+ desainer dunia dan jadi ajang fashion musim semi paling disorot.
- Runway Moscow Fashion Week menampilkan tren kuat: desain modern berbasis tradisi, dari Rusia hingga Armenia, Tiongkok, dan Spanyol.
- Ali Charisma soroti potensi desainer muda Rusia mengolah folklor dan tekstil tradisional jadi karya modern yang khas dan bernilai global.
Jakarta: Moscow Fashion Week kembali menjadi sorotan dunia setelah digelar di ibu kota Rusia dengan skala yang semakin besar. Ajang mode internasional ini berlangsung hingga 19 Maret dan masuk dalam daftar perhelatan fashion paling diperhatikan pada musim semi tahun ini.
Tahun ini, Moscow Fashion Week menghadirkan lebih dari 200 desainer dari berbagai negara. Nama-nama dari Rusia, Tiongkok, Turki, Spanyol, Armenia, hingga negara lainnya tampil membawa identitas masing-masing, menjadikan acara ini semakin berwarna dan penuh perspektif multikultural.
Panggung Moscow Fashion Week juga menjadi gambaran perubahan besar yang sedang terjadi dalam industri fashion Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, brand lokal mulai bergerak lebih percaya diri dengan mengeksplorasi kekayaan budaya mereka sendiri dan menghadirkannya dalam bentuk desain modern.
Perubahan ini terlihat jelas dari koleksi-koleksi yang tampil di runway. Banyak brand independen mulai menemukan titik temu antara gaya tradisional yang kuat dan kebutuhan pasar global yang terus berkembang.
Fenomena tersebut juga dinilai memiliki kesamaan dengan perkembangan fashion di Indonesia. Dunia mode Tanah Air kini tidak lagi sekadar dikenal sebagai basis manufaktur, tetapi mulai berkembang sebagai pusat kreativitas yang menawarkan ide segar berbasis tradisi dan kerajinan lokal.
Sejak awal kemunculannya, Moscow Fashion Week memang dikenal sebagai ruang terbuka bagi desainer yang menjadikan otentisitas sebagai kekuatan utama. Musim ini, dukungan terhadap talenta baru dan label yang sedang berkembang terasa semakin kuat, terlihat dari ragam koleksi yang membawa identitas budaya secara berani.
Salah satu koleksi yang mencuri perhatian datang dari Sovushkas Bag. Brand ini memadukan karpet antik Armenia dengan denim dan kulit, menciptakan karya yang menonjolkan warisan budaya dalam balutan estetika modern.
Sementara itu, Stas Lopatkin tampil dengan koleksi yang menggabungkan seni dekoratif Timur, motif folklor, serta teknik tailoring Eropa. Koleksi ini menampilkan bordir rumit dan elemen simbolik yang memperlihatkan perpaduan antara tradisi dan inovasi.
Desainer Sasha Barabakov juga menghadirkan nuansa berbeda lewat koleksi yang terinspirasi dari nostalgia masa kecil. Detail fringe, patch, serta rok dan gaun renda semi-transparan menjadi ciri khas koleksinya yang terasa personal dan emosional.
Kehadiran Moscow Fashion Week turut menarik perhatian pelaku fashion dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu tamu tetap acara ini adalah Ali Charisma yang juga menjabat sebagai Advisory Board & Event Director Indonesian Fashion Chamber.
“Rusia memiliki warisan budaya yang sangat kaya, mulai dari folklor, tekstil tradisional, hingga teknik craftsmanship dan siluet historis. Terutama di kalangan desainer muda, terdapat potensi besar untuk menafsirkan kembali elemen-elemen tradisional ini secara modern dan menciptakan sesuatu yang benar-benar khas,” ujar Ali Charisma.
Selain Rusia, brand internasional juga tampil memikat. Label asal Tiongkok, Xuaujin, menghadirkan koleksi yang berakar pada penghormatan terhadap komunitas adat seperti Miao dan Buyi, dengan penggunaan tekstil tradisional Xiangyunsha, tea silk, serta pewarna alami berbasis tanaman.
Dari Spanyol, Madame & Mister Sibarita menghadirkan koleksi yang terinspirasi alam. Mereka menampilkan siluet mengalir dengan palet warna organik yang lembut, serta pendekatan inovasi berkelanjutan. Koleksi ini disebut menghadirkan busana yang terasa seperti “kulit kedua” dengan sentuhan elegan, sekaligus memberi penghormatan pada craftsmanship Timur melalui motif India yang rumit.
Secara keseluruhan, Moscow Fashion Week menegaskan satu tren besar yang kini terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia dan Rusia. Dunia fashion semakin bergerak menuju desain kontemporer yang tetap berakar pada identitas budaya. Melalui ajang ini, tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diterjemahkan ulang menjadi bahasa visual modern yang relevan di panggung global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Tahun ini, Moscow Fashion Week menghadirkan lebih dari 200 desainer dari berbagai negara. Nama-nama dari Rusia, Tiongkok, Turki, Spanyol, Armenia, hingga negara lainnya tampil membawa identitas masing-masing, menjadikan acara ini semakin berwarna dan penuh perspektif multikultural.
Panggung Moscow Fashion Week juga menjadi gambaran perubahan besar yang sedang terjadi dalam industri fashion Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, brand lokal mulai bergerak lebih percaya diri dengan mengeksplorasi kekayaan budaya mereka sendiri dan menghadirkannya dalam bentuk desain modern.
Perubahan ini terlihat jelas dari koleksi-koleksi yang tampil di runway. Banyak brand independen mulai menemukan titik temu antara gaya tradisional yang kuat dan kebutuhan pasar global yang terus berkembang.
Fenomena tersebut juga dinilai memiliki kesamaan dengan perkembangan fashion di Indonesia. Dunia mode Tanah Air kini tidak lagi sekadar dikenal sebagai basis manufaktur, tetapi mulai berkembang sebagai pusat kreativitas yang menawarkan ide segar berbasis tradisi dan kerajinan lokal.
Sejak awal kemunculannya, Moscow Fashion Week memang dikenal sebagai ruang terbuka bagi desainer yang menjadikan otentisitas sebagai kekuatan utama. Musim ini, dukungan terhadap talenta baru dan label yang sedang berkembang terasa semakin kuat, terlihat dari ragam koleksi yang membawa identitas budaya secara berani.
Salah satu koleksi yang mencuri perhatian datang dari Sovushkas Bag. Brand ini memadukan karpet antik Armenia dengan denim dan kulit, menciptakan karya yang menonjolkan warisan budaya dalam balutan estetika modern.
Sementara itu, Stas Lopatkin tampil dengan koleksi yang menggabungkan seni dekoratif Timur, motif folklor, serta teknik tailoring Eropa. Koleksi ini menampilkan bordir rumit dan elemen simbolik yang memperlihatkan perpaduan antara tradisi dan inovasi.
Desainer Sasha Barabakov juga menghadirkan nuansa berbeda lewat koleksi yang terinspirasi dari nostalgia masa kecil. Detail fringe, patch, serta rok dan gaun renda semi-transparan menjadi ciri khas koleksinya yang terasa personal dan emosional.
Kehadiran Moscow Fashion Week turut menarik perhatian pelaku fashion dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu tamu tetap acara ini adalah Ali Charisma yang juga menjabat sebagai Advisory Board & Event Director Indonesian Fashion Chamber.
“Rusia memiliki warisan budaya yang sangat kaya, mulai dari folklor, tekstil tradisional, hingga teknik craftsmanship dan siluet historis. Terutama di kalangan desainer muda, terdapat potensi besar untuk menafsirkan kembali elemen-elemen tradisional ini secara modern dan menciptakan sesuatu yang benar-benar khas,” ujar Ali Charisma.
Selain Rusia, brand internasional juga tampil memikat. Label asal Tiongkok, Xuaujin, menghadirkan koleksi yang berakar pada penghormatan terhadap komunitas adat seperti Miao dan Buyi, dengan penggunaan tekstil tradisional Xiangyunsha, tea silk, serta pewarna alami berbasis tanaman.
Dari Spanyol, Madame & Mister Sibarita menghadirkan koleksi yang terinspirasi alam. Mereka menampilkan siluet mengalir dengan palet warna organik yang lembut, serta pendekatan inovasi berkelanjutan. Koleksi ini disebut menghadirkan busana yang terasa seperti “kulit kedua” dengan sentuhan elegan, sekaligus memberi penghormatan pada craftsmanship Timur melalui motif India yang rumit.
Secara keseluruhan, Moscow Fashion Week menegaskan satu tren besar yang kini terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia dan Rusia. Dunia fashion semakin bergerak menuju desain kontemporer yang tetap berakar pada identitas budaya. Melalui ajang ini, tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diterjemahkan ulang menjadi bahasa visual modern yang relevan di panggung global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)