KULINER
5 Makanan Fermentasi Paling Terkenal di Dunia, Ada dari Indonesia!
Muhammad Syahrul Ramadhan
Kamis 29 Oktober 2026 / 14:14
- Makanan fermentasi tak hanya menjadi produk kuliner biasa namun juga mengangkat tradisi suatu negara.
- Berbagai negara memiliki makanan fermentasi yang khas dengan cita rasa yang unik dan berbeda.
- Mulai dari kimchi dan sauerkraut yang asam dengan bahan dasar sayuran, hingga tempe dan yoghurt yang lebih nyaman dimakan.
Jakarta: Proses fermentasi memanfaatkan mikroorganisme, seperti bakteri, ragi, atau kapang, untuk mengubah bahan makanan sehingga menghasilkan cita rasa, aroma, dan tekstur yang khas hingga menjadi tradisi kuliner berbagai negara.
Selain digunakan untuk mengawetkan bahan makanan, fermentasi juga membantu membentuk karakter rasa yang sulit diperoleh melalui proses memasak biasa. Contohnya dapat ditemukan pada kimchi dari Korea Selatan hingga miso dari Jepang.
Menariknya, Indonesia juga memiliki makanan fermentasi yang dikenal di berbagai negara, yaitu tempe. Intip lima makanan fermentasi paling terkenal di dunia di bawah ini.
Kimchi merupakan makanan tradisional Korea Selatan yang dibuat melalui fermentasi sayuran, terutama sawi putih dan lobak. Sayuran tersebut biasanya dicampur dengan garam, cabai, bawang putih, jahe, dan berbagai bumbu lainnya.
Proses fermentasi menghasilkan rasa asam, pedas, dan gurih yang menjadi ciri khas kimchi. Makanan ini umumnya disajikan sebagai hidangan pendamping atau banchan bersama nasi, sup, dan berbagai hidangan Korea lainnya.
Kimchi memiliki banyak variasi berdasarkan bahan dan cara pembuatannya. Ada kimchi yang menggunakan banyak bubuk cabai sehingga berwarna merah, tetapi ada pula variasi yang tidak pedas.
Selain menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Korea, kimchi juga dikenal secara internasional seiring meningkatnya popularitas makanan Korea di berbagai negara.
Sauerkraut merupakan makanan fermentasi berbahan dasar irisan tipis kubis yang dicampur dengan garam. Campuran tersebut dibiarkan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan cita rasa asam yang khas.
Nama sauerkraut berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berkaitan dengan kubis asam. Makanan ini dikenal luas dalam tradisi kuliner Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Sauerkraut biasanya disajikan sebagai pendamping sosis, daging panggang, kentang, atau hidangan lainnya. Teksturnya cenderung renyah dengan perpaduan rasa asam dan sedikit asin.
Fermentasi sauerkraut melibatkan bakteri asam laktat yang membantu mengubah gula alami dalam kubis menjadi asam. Proses tersebut turut membentuk rasa khas sekaligus membantu mengawetkan sayuran.
Miso adalah pasta fermentasi khas Jepang yang umumnya dibuat dari kedelai, garam, dan koji. Koji merupakan bahan fermentasi yang menggunakan kapang Aspergillus oryzae dan berperan penting dalam pembentukan rasa miso.
Miso memiliki cita rasa gurih atau umami yang kuat dengan warna dan rasa bervariasi, mulai dari miso berwarna terang dengan rasa relatif ringan hingga miso gelap yang cenderung lebih intens.
Salah satu penggunaan miso yang paling dikenal adalah sebagai bahan utama sup miso. Selain itu, pasta ini dapat digunakan untuk membuat saus, bumbu marinasi, dan berbagai hidangan Jepang lainnya.
Lamanya fermentasi, komposisi bahan, serta teknik produksi dapat memengaruhi karakter akhir miso. Karena itu, setiap jenis miso bisa memberikan rasa yang berbeda pada makanan.
Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang dibuat melalui fermentasi kedelai menggunakan kapang, terutama dari kelompok Rhizopus.
Dalam proses pembuatannya, kedelai yang telah disiapkan difermentasi hingga biji-bijinya menyatu membentuk lapisan padat berwarna putih dan menghasilkan balok tempe dengan tekstur yang kokoh dan cita rasa khas.
Tempe dapat diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari tempe goreng dan orek tempe hingga tumisan, pepes, serta hidangan berbumbu lainnya. Bahan makanan ini juga menjadi sumber protein nabati yang populer.
Tempe menarik karena proses fermentasi membantu mengubah karakteristik kedelai, termasuk memengaruhi komponen gizinya. Produk ini telah lama menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia dan semakin dikenal dalam pembahasan kuliner dunia.
Sebagai makanan fermentasi berbahan kedelai, tempe menunjukkan bahwa tradisi fermentasi tidak hanya berkembang di Asia Timur dan Eropa, tetapi juga memiliki sejarah penting di Asia Tenggara.
Yoghurt merupakan produk fermentasi susu yang populer di berbagai belahan dunia. Pembuatannya melibatkan kultur bakteri tertentu yang mengubah sebagian laktosa atau gula alami dalam susu menjadi asam laktat.
Proses tersebut menghasilkan tekstur yang lebih kental serta rasa asam yang khas. Jenis susu, kultur bakteri, dan metode produksi dapat memengaruhi kekentalan serta cita rasa yoghurt.
Yoghurt dapat dinikmati secara langsung, dicampur dengan buah, atau digunakan sebagai bahan saus dan berbagai hidangan. Di sejumlah negara, produk ini juga menjadi bagian dari tradisi kuliner yang telah berlangsung lama.
Selain rasanya yang menyegarkan, yoghurt menyediakan protein dan kalsium. Beberapa jenis yoghurt juga mengandung mikroorganisme hidup, bergantung pada kultur yang digunakan serta proses pengolahan dan penyimpanannya.
Proses fermentasi tidak selalu menghasilkan karakter makanan yang sama. Bahan dasar, jenis mikroorganisme, suhu, dan lamanya fermentasi dapat memengaruhi rasa, aroma, tekstur, serta komposisi produk akhir.
Meski beberapa makanan fermentasi dapat mengandung mikroorganisme hidup, tidak semua produk fermentasi otomatis merupakan sumber probiotik.
Hal ini bergantung pada mikroorganisme yang digunakan dan apakah mikroorganisme tersebut masih hidup ketika produk dikonsumsi.
(Vira Farhatul Maula)
(RUL)
Selain digunakan untuk mengawetkan bahan makanan, fermentasi juga membantu membentuk karakter rasa yang sulit diperoleh melalui proses memasak biasa. Contohnya dapat ditemukan pada kimchi dari Korea Selatan hingga miso dari Jepang.
Menariknya, Indonesia juga memiliki makanan fermentasi yang dikenal di berbagai negara, yaitu tempe. Intip lima makanan fermentasi paling terkenal di dunia di bawah ini.
Kimchi (Korea Selatan)
Kimchi. Foto: Magnific
Kimchi merupakan makanan tradisional Korea Selatan yang dibuat melalui fermentasi sayuran, terutama sawi putih dan lobak. Sayuran tersebut biasanya dicampur dengan garam, cabai, bawang putih, jahe, dan berbagai bumbu lainnya.
Proses fermentasi menghasilkan rasa asam, pedas, dan gurih yang menjadi ciri khas kimchi. Makanan ini umumnya disajikan sebagai hidangan pendamping atau banchan bersama nasi, sup, dan berbagai hidangan Korea lainnya.
Kimchi memiliki banyak variasi berdasarkan bahan dan cara pembuatannya. Ada kimchi yang menggunakan banyak bubuk cabai sehingga berwarna merah, tetapi ada pula variasi yang tidak pedas.
Selain menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Korea, kimchi juga dikenal secara internasional seiring meningkatnya popularitas makanan Korea di berbagai negara.
Sauerkraut (Jerman)
Sauerkraut
Sauerkraut merupakan makanan fermentasi berbahan dasar irisan tipis kubis yang dicampur dengan garam. Campuran tersebut dibiarkan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan cita rasa asam yang khas.
Nama sauerkraut berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berkaitan dengan kubis asam. Makanan ini dikenal luas dalam tradisi kuliner Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Sauerkraut biasanya disajikan sebagai pendamping sosis, daging panggang, kentang, atau hidangan lainnya. Teksturnya cenderung renyah dengan perpaduan rasa asam dan sedikit asin.
Fermentasi sauerkraut melibatkan bakteri asam laktat yang membantu mengubah gula alami dalam kubis menjadi asam. Proses tersebut turut membentuk rasa khas sekaligus membantu mengawetkan sayuran.
Miso (Jepang)
Pasta Miso
Miso adalah pasta fermentasi khas Jepang yang umumnya dibuat dari kedelai, garam, dan koji. Koji merupakan bahan fermentasi yang menggunakan kapang Aspergillus oryzae dan berperan penting dalam pembentukan rasa miso.
Miso memiliki cita rasa gurih atau umami yang kuat dengan warna dan rasa bervariasi, mulai dari miso berwarna terang dengan rasa relatif ringan hingga miso gelap yang cenderung lebih intens.
Salah satu penggunaan miso yang paling dikenal adalah sebagai bahan utama sup miso. Selain itu, pasta ini dapat digunakan untuk membuat saus, bumbu marinasi, dan berbagai hidangan Jepang lainnya.
Lamanya fermentasi, komposisi bahan, serta teknik produksi dapat memengaruhi karakter akhir miso. Karena itu, setiap jenis miso bisa memberikan rasa yang berbeda pada makanan.
Tempe (Indonesia)
Tempe
Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang dibuat melalui fermentasi kedelai menggunakan kapang, terutama dari kelompok Rhizopus.
Dalam proses pembuatannya, kedelai yang telah disiapkan difermentasi hingga biji-bijinya menyatu membentuk lapisan padat berwarna putih dan menghasilkan balok tempe dengan tekstur yang kokoh dan cita rasa khas.
Tempe dapat diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari tempe goreng dan orek tempe hingga tumisan, pepes, serta hidangan berbumbu lainnya. Bahan makanan ini juga menjadi sumber protein nabati yang populer.
Tempe menarik karena proses fermentasi membantu mengubah karakteristik kedelai, termasuk memengaruhi komponen gizinya. Produk ini telah lama menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia dan semakin dikenal dalam pembahasan kuliner dunia.
Sebagai makanan fermentasi berbahan kedelai, tempe menunjukkan bahwa tradisi fermentasi tidak hanya berkembang di Asia Timur dan Eropa, tetapi juga memiliki sejarah penting di Asia Tenggara.
Yoghurt (Asia Barat dan Eropa Tenggara)
Yoghurt
Yoghurt merupakan produk fermentasi susu yang populer di berbagai belahan dunia. Pembuatannya melibatkan kultur bakteri tertentu yang mengubah sebagian laktosa atau gula alami dalam susu menjadi asam laktat.
Proses tersebut menghasilkan tekstur yang lebih kental serta rasa asam yang khas. Jenis susu, kultur bakteri, dan metode produksi dapat memengaruhi kekentalan serta cita rasa yoghurt.
Yoghurt dapat dinikmati secara langsung, dicampur dengan buah, atau digunakan sebagai bahan saus dan berbagai hidangan. Di sejumlah negara, produk ini juga menjadi bagian dari tradisi kuliner yang telah berlangsung lama.
Selain rasanya yang menyegarkan, yoghurt menyediakan protein dan kalsium. Beberapa jenis yoghurt juga mengandung mikroorganisme hidup, bergantung pada kultur yang digunakan serta proses pengolahan dan penyimpanannya.
Fermentasi pada Makanan
Proses fermentasi tidak selalu menghasilkan karakter makanan yang sama. Bahan dasar, jenis mikroorganisme, suhu, dan lamanya fermentasi dapat memengaruhi rasa, aroma, tekstur, serta komposisi produk akhir.
Meski beberapa makanan fermentasi dapat mengandung mikroorganisme hidup, tidak semua produk fermentasi otomatis merupakan sumber probiotik.
Hal ini bergantung pada mikroorganisme yang digunakan dan apakah mikroorganisme tersebut masih hidup ketika produk dikonsumsi.
(Vira Farhatul Maula)
(RUL)