Amanda Brownies. Foto: Istimewa.
Amanda Brownies. Foto: Istimewa.

Cara Bisnis Kuliner Amanda Brownies dan Suweger Menjangkau Lintas Generasi

Arif Wicaksono • 17 Oktober 2026 14:51
Ringkasnya gini..
  • Perubahan kebiasaan konsumen dalam mencari makanan dan minuman mendorong pelaku usaha kuliner untuk terus beradaptasi.
  • Selain mengandalkan kualitas produk dan rekomendasi dari mulut ke mulut, pelaku usaha kini perlu memahami tren yang berkembang di kalangan konsumen, terutama generasi muda.
Jakarta: Perubahan kebiasaan konsumen dalam mencari makanan dan minuman mendorong pelaku usaha kuliner untuk terus beradaptasi. Selain mengandalkan kualitas produk dan rekomendasi dari mulut ke mulut, pelaku usaha kini perlu memahami tren yang berkembang di kalangan konsumen, terutama generasi muda.

Bagi Amanda Brownies dan Suweger, perubahan tersebut menjadi peluang untuk memperluas pasar sekaligus mengembangkan bisnis. Meski memiliki latar belakang dan karakter produk yang berbeda, keduanya berupaya menjaga kedekatan dengan konsumen melalui konsistensi rasa, inovasi menu, serta pendekatan pemasaran yang mengikuti perkembangan zaman.
 
Amanda Brownies mempertahankan cita rasa yang telah dikenal selama lebih dari dua dekade, sedangkan Suweger tumbuh dengan menawarkan minuman terjangkau yang dekat dengan keseharian anak muda. Perjalanan keduanya menunjukkan bagaimana bisnis kuliner dapat mempertahankan identitas sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan baru.

Amanda Brownies, Menjaga Cita Rasa dari Generasi ke Generasi

Amanda Brownies memulai perjalanan bisnisnya sebagai usaha keluarga di Bandung pada 1999. Lebih dari dua dekade kemudian, merek ini telah berkembang menjadi jaringan dengan 150 outlet yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Konsistensi menjadi salah satu faktor yang dijaga perusahaan dalam mempertahankan kedekatan dengan pelanggan. Produk Amanda Brownies tidak hanya dikenal sebagai pilihan camilan, tetapi juga kerap hadir dalam momen kebersamaan keluarga.

"Dulu ibu saya yang menyuguhkan Amanda untuk saya, sekarang saya yang membelikan untuk anak saya," ujar Hilda Nathania, Manager Marketing Amanda Brownies.

Meski memiliki basis pelanggan yang telah mengenal produknya selama bertahun-tahun, Amanda Brownies tetap berupaya menjangkau konsumen yang lebih muda. Sejak 2020, perusahaan mulai aktif mengembangkan konten di TikTok dan bekerja sama dengan kreator makanan maupun gaya hidup untuk memperkenalkan produknya kepada audiens yang lebih luas.

Menurut data internal perusahaan, lebih dari 40.000 video organik yang dibuat pengguna telah menampilkan produk Amanda Brownies, dengan total tayangan melampaui 500 juta kali. Capaian tersebut menggambarkan tingginya perhatian konsumen terhadap merek ini di platform digital.

Upaya memperluas jangkauan juga dilakukan melalui berbagai kampanye. Dalam perayaan ulang tahun ke-25 pada November 2024, misalnya, Amanda Brownies menggelar promosi beli dua gratis satu yang melibatkan staf di 150 outlet di seluruh Indonesia.

Para staf turut membuat konten untuk memperkenalkan promosi tersebut kepada konsumen di sekitar gerai masing-masing. Menurut Hilda, kampanye ini mendapat respons positif. Sejumlah outlet bahkan mulai dipadati antrean sejak pagi dan kehabisan stok sebelum tengah hari.

Bagi Amanda Brownies, respons tersebut memperlihatkan bahwa pengenalan produk melalui kanal digital dapat mendorong konsumen untuk datang dan membeli secara langsung. Perusahaan kemudian memperluas pendekatan pemasaran tersebut dengan memanfaatkan TikTok GO by Tokopedia sejak Juli 2026, termasuk melalui penawaran voucher yang dapat digunakan di outlet.

Hilda mengatakan, konsumen yang tertarik pada penawaran dalam konten terkadang berkunjung pada hari yang sama atau keesokan harinya. Selain membeli produk yang ditawarkan, mereka juga berkesempatan mengenal varian lain, seperti Choco Marble dan Sarikaya Pandan.

Berdasarkan data internal Amanda Brownies, penjualan voucher online meningkat lebih dari 80% pada dua bulan pertama setelah bergabung dengan layanan tersebut, yakni Agustus hingga September 2026.

Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan skala operasional perusahaan yang kini didukung sembilan pabrik dan lebih dari 2.000 karyawan di seluruh Indonesia. Bagi Amanda Brownies, tantangannya bukan sekadar mempertahankan pelanggan lama, melainkan memastikan produknya tetap dikenal dan diminati oleh generasi berikutnya.

Suweger, Bertumbuh Bersama Selera Anak Muda

Berbeda dengan Amanda Brownies yang telah memiliki perjalanan bisnis panjang, Suweger tumbuh dari kebutuhan sederhana di lingkungan mahasiswa. Merek minuman asal Surabaya ini didirikan pada 2019 oleh tiga mahasiswa tingkat akhir yang ingin menghadirkan minuman segar dengan harga terjangkau bagi kalangan mereka.

Berawal dari satu outlet di kawasan Sukolilo, Suweger kini mengoperasikan sekitar 14 outlet di Surabaya dan Sidoarjo. Pilihan minumannya mencakup berbagai varian berbasis teh, cokelat, dan susu yang menyasar konsumen muda.

Kedekatan dengan segmen tersebut turut memengaruhi cara Suweger mengembangkan produk dan berkomunikasi dengan pelanggan. Sejak 2021, perusahaan aktif membuat konten di TikTok dengan pendekatan komedi dan hiburan untuk membangun interaksi dengan audiens.

Namun, bagi Suweger, komunikasi dengan konsumen tidak berhenti pada upaya meningkatkan popularitas merek. Respons audiens juga menjadi masukan untuk memahami minat pasar dan mengevaluasi produk yang ditawarkan.

"Melalui TikTok GO by Tokopedia, kami tidak hanya melihat apakah konten kami ramai atau banyak ditonton. Kami juga ingin tahu apakah setelah melihat konten, orang menjadi tertarik dengan produknya dan akhirnya mencoba. Karena itu, kami terus belajar format seperti apa yang paling relevan untuk audiens Suweger," ujar Muhammad Ghiyats Humam, Chief Marketing Officer Suweger.

Pada 2026, Suweger mulai mengeksplorasi TikTok GO by Tokopedia melalui sejumlah pendekatan pemasaran, termasuk kolaborasi kreator, program afiliasi, promosi, dan siaran langsung. Langkah ini memperluas cara perusahaan memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan.

Salah satu contoh pengembangan produk yang mendapat respons positif adalah Thai Tea Jelly Boba. Produk tersebut dikembangkan dari kategori minuman terlaris Suweger dan diluncurkan melalui TikTok GO by Tokopedia.

Berdasarkan data internal perusahaan, dalam waktu sekitar satu bulan setelah peluncuran, Thai Tea Jelly Boba berhasil masuk lima besar produk terlaris dan sempat menempati posisi kedua.

Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana respons konsumen dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan menu. Bagi bisnis kuliner yang menyasar anak muda, memahami selera pasar menjadi penting agar inovasi produk tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan.

Suweger juga mulai memperluas bisnis ke kategori makanan ringan. Memasuki tahun ketujuh, perusahaan mengembangkan pilihan camilan, termasuk dimsum dengan beragam rasa dan pelengkap yang disesuaikan dengan selera konsumen muda. Beberapa variasinya memadukan dimsum dengan kuah keju, bubuk cabai, dan bakso aci.

Produk-produk baru tersebut diperkenalkan melalui berbagai kanal pemasaran, termasuk konten digital. Salah satu produk camilan yang masih dipantau perkembangannya telah terjual hampir 1.000 unit per pekan, berdasarkan data internal Suweger.

Dari sisi kinerja bisnis, Suweger mencatat pertumbuhan penjualan voucher online hingga 20% selama Mei hingga September 2026. Ghiyats juga menyebut TikTok GO by Tokopedia berkontribusi terhadap lebih dari 50% kunjungan langsung konsumen ke outlet perusahaan.

Saat ini, operasional sekitar 14 outlet Suweger melibatkan kurang lebih 60 tenaga kerja, banyak di antaranya merupakan anak muda yang tinggal di sekitar gerai.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis Suweger tidak hanya berkaitan dengan penambahan produk dan jangkauan pemasaran, tetapi juga dengan kemampuan membaca kebutuhan konsumen serta memperluas kegiatan usaha secara bertahap.

Menjaga Identitas di Tengah Perubahan Pasar

Perjalanan Amanda Brownies dan Suweger memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen. Amanda Brownies bertumpu pada konsistensi cita rasa yang telah dikenal lintas generasi, sementara Suweger mengandalkan kedekatan dengan anak muda untuk mengembangkan produk dan memperluas pasar.

Meski demikian, keduanya memiliki kesamaan, yakni menempatkan pemahaman terhadap konsumen sebagai bagian penting dari strategi bisnis. Perubahan tren dan perkembangan kanal digital dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, membangun interaksi, serta melihat peluang pertumbuhan.

Bagi Amanda Brownies, upaya tersebut membantu mempertemukan pelanggan lama dengan generasi konsumen baru. Sementara itu, bagi Suweger, masukan pasar menjadi salah satu pertimbangan dalam menghadirkan menu yang sesuai dengan selera pelanggan.

Pemanfaatan kanal digital, termasuk TikTok GO by Tokopedia, menjadi bagian dari upaya kedua merek dalam memperluas jangkauan dan mendorong kunjungan ke outlet. Namun, keberlanjutan bisnis tetap bergantung pada kemampuan menjaga kualitas, memahami kebutuhan konsumen, dan menawarkan produk yang memiliki daya tarik.

Pada akhirnya, menjangkau lintas generasi bukan semata-mata soal mengikuti tren. Bagi pelaku usaha kuliner, tantangan yang lebih besar adalah mempertahankan karakter produk sambil terus menemukan cara agar tetap relevan bagi konsumen yang terus berubah.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan