Oleh karena itu, ajang seperti Trade Expo Indonesia (TEI) tidak hanya menjadi tempat pemaparan produk, tetapi juga membuka pertemuan langsung antara pelaku usaha dan calon pembeli dari berbagai negara.
Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Zelda Mulan Kartika, mengatakan dukungan terhadap UMKM menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia.
“UMKM menjadi tulang punggung ekonomi nasional Indonesia, telah menyumbang sekitar 61 persen PDB di Indonesia dan menyerap 97 persen tenaga kerja,” ujar Zelda dalam Press Conference Trade Expo Indonesia 2026 pada Rabu, 30 September 2026 di ICE BSD, Tanggerang.
Meski kontribusinya besar, akses UMKM ke pasar global masih menjadi tantangan. Hal tersebut terlihat dari hanya 15,7 persen UMKM yang saat ini masuk pasar ekspor, sehingga Trade Expo Indonesia diarahkan menjadi salah satu jembatan agar lebih banyak pelaku usaha Indonesia bisa menemukan mitra di luar negeri.
“Jadi diharapkan dengan TEI ini, UMKM bisa bertemu dengan mitranya. Kalau ada yang cocok, kemudian mereka bisa mengekspor produknya ke luar negeri,” kata Zelda.
Menurutnya, perlu ada strategi dan kolaborasi untuk membantu pelaku UMKM menangkap peluang, tantangan, hingga karakter pasar di negara tujuan.
Pembeli dari Berbagai Negara Dikurasi Sebelum Datang
Upaya membuka akses pasar tersebut dilakukan dengan melibatkan perwakilan RI di berbagai negara. Zelda menjelaskan, perwakilan RI tidak hanya mempromosikan produk UMKM melalui pameran, tetapi juga membantu menjembatani pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra di negara tujuan.
“Perwakilan RI akan datang ke TEI, mereka membawa pembeli yang sudah dikurasi oleh perwakilan RI kemudian akan dipertemukan dengan mitranya di TEI ini,” ujar Zelda.
Artinya, pembeli yang datang diharapkan sudah memiliki kebutuhan dan tujuan bisnis yang jelas, sehingga pelaku usaha tidak sekadar bertemu pengunjung pameran secara acak.
Pembeli tersebut juga akan dipertemukan dengan pelaku usaha yang produknya sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain pertemuan bisnis, sejumlah perwakilan RI menyiapkan kegiatan pendukung seperti kunjungan sampingan, forum bisnis, hingga kunjungan khusus untuk memperkenalkan potensi produk Indonesia.
Asia Pasifik hingga Afrika Jadi Pasar yang Dibidik
Diplomasi ekonomi Indonesia juga diarahkan ke kawasan Asia Pasifik, Afrika, Amerika, dan Eropa yang dinilai memiliki nilai strategis secara ekonomi dan geopolitik.
“Kawasan ini sangat penting sebagai pusat perdagangan utama karena memberikan porsi perdagangan terbesar di Indonesia,” kata Zelda.
Zelda juga menyebut negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, India, Malaysia, dan Singapura sebagai sejumlah mitra penting Indonesia di kawasan Asia.
Sementara itu, kawasan Afrika dinilai mempunyai peluang sebagai pasar baru karena memiliki populasi sekitar 1,4 miliar jiwa. Zelda menyebut beberapa produk Indonesia yang telah masuk ke kawasan tersebut antara lain kelapa sawit, makanan dan minuman, serta produk manufaktur.
Di sisi lain, kawasan Amerika dan Eropa juga memiliki posisi penting sebagai pasar ekspor sekaligus sumber investasi.
“Kawasan Amerop ini sendiri juga bernilai strategis bagi Indonesia karena merupakan pusat pasar ekspor dan perdagangan,” ujar Zelda.
Melalui Trade Expo Indonesia, peluang tersebut ditemukan secara langsung dengan pelaku usaha di dalam negeri. Harapannya, semakin banyak UMKM yang tidak hanya mampu memproduksi barang untuk pasar domestik, tetapi juga siap menemukan pembeli dan memperluas bisnisnya ke pasar global. (Wisa Irena Br Sitepu)