UMKM sering menghadapi masalah kombinasi perencanaan yang kurang matang serta kelebihan stok, sementara di sisi lain, pembeli juga cenderung mencari toko lain atau batal membeli ketika barang yang diinginkan tidak tersedia.
Oleh karena itu, UMKM yang ingin memulai omnichannel ecommerce perlu menjaga keseimbangan antara stok nihil dan stok menumpuk. Peran software inventory untuk UMKM sangat membantu dalam mengelola hal ini. Salah satu alternatif omnichannel ecommerce yang terjangkau adalah Mekari Desty.
Memulai dengan stok terbatas bukan soal menambah modal, tapi soal menentukan prioritas. Berikut tujuh cara yang bisa diterapkan UMKM secara bertahap untuk membangun omnichannel ecommerce dengan stok terbatas.
1. Mulai dari Dua channel yang Paling Relevan
Mengelola banyak channel penjualan sekaligus bisa membagi stok kecil ke terlalu banyak etalase. Risiko yang muncul adalah pesanan melebihi stok yang tersedia, sehingga pembatalan pesanan sering terjadi di awal perjalanan toko.
Sebaiknya channel pertama yang dibuka adalah dua tempat pembeli sasaran paling sering berbelanja. Setelah pengelolaan di dua channel ini berjalan stabil dengan catatan yang rapi, barulah channel ketiga atau lebih mulai ditambahkan.
2. Seragamkan Data Produk dan SKU Sejak Awal
Masalah umum ketika membuka beberapa channel adalah produk yang sama memiliki nama dan kode berbeda di tiap etalase. Akibatnya, penjualan di satu channel tidak mengurangi stok di channel lain, sehingga menimbulkan kekacauan stok. Solusi yang tepat adalah menetapkan satu kode induk per varian produk sebagai acuan semua channel. Kode ini sebaiknya memuat informasi kategori, varian, dan ukuran dalam urutan yang konsisten, sehingga data stok dan penjualan dapat terpantau dengan baik.
3. Prioritaskan Produk Penyumbang Omzet Terbesar
Tidak semua produk memberikan kontribusi yang sama terhadap penjualan. Dengan modal terbatas, UMKM perlu mengacu pada nilai kontribusi tiap produk terhadap omzet.
Analisis ABC bisa digunakan untuk mengelompokkan produk berdasarkan nilai kontribusi penjualan. Kelompok produk teratas mendapat kedalaman stok paling besar, sementara produk dengan kontribusi paling rendah cukup disediakan sangat tipis atau hanya dijual lewat sistem pesan dulu (pre-order).
4. Pakai Satu Stok Bersama dengan Cadangan Kecil
Ketika stok kecil dibagi per channel, stok sering habis di satu channel dan menganggur di channel lain. Untuk menghindari kondisi ini, lebih efektif menggunakan satu stok bersama yang ditampilkan di semua channel.
Menyisihkan stok cadangan dalam jumlah kecil juga penting untuk menahan beberapa unit agar tidak terjual melebihi stok fisik sebenarnya. Besaran cadangan ini ditentukan berdasarkan kecepatan penjualan produk tersebut.
5. Manfaatkan Pre-order untuk Produk Lambat Laku
Produk dengan permintaan tidak menentu tidak harus selalu tersedia di gudang. Dengan pre-order, modal tidak tertahan di stok, sementara pilihan produk tetap lengkap terlihat di semua channel.
Kunci keberhasilan pre-order adalah kejelasan estimasi pengiriman, yang harus dicantumkan dengan jelas di halaman produk. Informasi ini penting agar pembeli tidak membatalkan pesanan karena harus menunggu terlalu lama.
6. Tetapkan Titik Pemesanan Ulang Sederhana
Titik pemesanan ulang sebaiknya dihitung dari rata-rata penjualan harian gabungan semua channel dikalikan lead time supplier. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan sampai barang siap dijual, termasuk proses pemeriksaan.
Perhitungan sederhana ini lebih berguna daripada rumus rumit yang akhirnya tidak dipakai. Angka titik pemesanan ulang juga perlu ditinjau ulang setiap kali pola penjualan berubah, misalnya menjelang kampanye atau musim tertentu.
7. Catat Permintaan yang Tidak Terpenuhi
Penjualan yang gagal karena stok habis tidak tercatat di laporan penjualan mana pun. Akibatnya, produk yang sebenarnya diminati pembeli tidak terlihat sebagai produk populer.
Mencatat permintaan yang tidak terpenuhi secara sederhana sudah cukup untuk membaca pola tersebut. Contoh mudahnya adalah menyimpan daftar produk yang sering ditanyakan pembeli lewat chat di marketplace atau media sosial, tapi tidak tersedia saat itu.
Ketujuh cara di atas menunjukkan bahwa memulai omnichannel ecommerce dengan stok terbatas bukan soal menambah modal, melainkan soal disiplin mengelola apa yang sudah ada. Mulai dengan memilih dua channel yang paling relevan, menyeragamkan kode produk, hingga mencatat permintaan yang tidak terpenuhi, semuanya bermuara pada satu kebutuhan yang sama, yaitu data stok dan penjualan yang tercatat rapi dari semua channel.
Apabila bisnis Anda ingin bertumbuh lewat banyak channel penjualan membutuhkan platform yang bisa menyatukan pencatatan tersebut dalam satu sistem. Maka dari itu, pertimbangkan Mekari Desty untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Mekari Desty adalah platform omnichannel marketplace untuk membantu pebisnis online, admin e-commerce, dan tim operasional menyederhanakan dan mengelola operasional penjualan multi-channel dalam satu sistem terpusat secara lebih efisien sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis.
Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, Mekari Desty juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti Mekari Talenta, Mekari Flex, Mekari Jurnal, Mekari Expense, Mekari Qontak, Mekari Klikpajak, Mekari Sign, Mekari POS, Mekari Officeless, dan Mekari Airene untuk mendukung automasi operasional bisnis secara end-to-end.