FITNESS & HEALTH

Jamu Lagi Fase Transformasi, dari Tradisi Jadi Lifestyle Kekinian

A. Firdaus
Jumat 03 April 2026 / 07:15
Ringkasnya gini..
  • Mematangkan Festival Jamu Nusantara 2026 biar makin impactful.
  • Festival tahun ini bakal dikemas dalam satu momentum selama dua hari pada 6–7 Juni 2026
  • Jamu lagi dalam fase transformasi.
Jakarta: Jamu yang dulu identik dengan rasa pahit dan kesan 'jadul', sekarang lagi siap naik level. Nggak cuma jadi warisan budaya, tapi juga digarap serius biar relevan sama gaya hidup anak muda masa kini.

Hal ini dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar dengan Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu), Acaraki, dan pelaku industri lainnya di Jakarta. Fokus utamanya: mematangkan Festival Jamu Nusantara 2026 biar makin impactful.

Rencananya, festival ini bakal jadi event nasional yang nggak cuma soal minum jamu. Konsepnya dibuat lebih luas, menggabungkan kuliner, seni, fashion, sampai pengalaman interaktif dan wellness. Jadi, vibes-nya bukan sekadar tradisional, tapi juga modern dan relatable.
 
Menariknya, festival tahun ini bakal dikemas dalam satu momentum selama dua hari penuh, tepatnya pada 6–7 Juni 2026 di Jakarta. Tujuannya jelas: bikin dampaknya lebih terasa dan hype-nya lebih maksimal.

Menurut Wamen Ekraf Irene, penting banget buat ngubah cara pandang orang terhadap jamu. Nggak lagi sekadar minuman tradisional, tapi juga bagian dari lifestyle yang bisa dibanggakan.

“Jamu harus bisa dekat dengan generasi muda. Bukan cuma dikenal, tapi juga jadi bagian dari gaya hidup,” kurang lebih begitu pesannya.

Nggak cuma itu, festival ini juga diharapkan jadi ruang kolaborasi lintas industri, mulai dari pelaku usaha, kreator, sampai komunitas. Jadi, semua bisa ikut berkontribusi mengangkat jamu dengan cara yang lebih fresh.


Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu) bersama Acaraki dan pelaku industri kreatif di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Dok. Kementerian Ekraf

Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, juga punya visi besar. Ia ingin Festival Jamu Nusantara jadi gerakan budaya yang berkelanjutan, bukan sekadar event tahunan biasa. Dengan dukungan pemerintah, peluang jamu untuk berkembang dan diterima pasar yang lebih luas pun makin terbuka.

Di sisi lain, pendekatan digital juga mulai dilibatkan. Salah satunya lewat platform Alih Aksara Nusantara dari Acaraki, yang membuka peluang eksplorasi desain, branding, sampai kampanye berbasis identitas lokal.

Menurut pelaku industri, kunci utama supaya jamu bisa 'naik kelas' ada di kreativitas. Dengan kemasan yang tepat dan pendekatan digital, jamu bisa menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk Gen Z yang selama ini mungkin belum terlalu dekat dengan budaya ini.

Festival Jamu Nusantara 2026 pun diharapkan bukan cuma jadi ajang promosi, tapi juga pengalaman seru yang bikin orang engage dan akhirnya tertarik.

Intinya, jamu lagi dalam fase transformasi. Dari yang dulu dianggap kuno, sekarang pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lebih modern, kreatif, dan punya nilai jual tinggi.

Siap-siap aja, siapa tahu dalam waktu dekat, jamu bukan cuma diminum karena sehat—tapi juga karena keren

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH