KULINER
Gaet Generasi Muda Kekinian, acaraki di PIK 2 Usung Konsep 'Jamu Experience Cafe'
Yuni Yuli Yanti
Kamis 05 Februari 2026 / 13:12
- Cafe Jamu Indonesia di PIK 2 dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki).
- Di kawasan PIK 2, jamu hadir dalam bentuk yang akrab dengan generasi kekinian.
- Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman.
Jakarta: Bukan lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, jamu adalah pengalaman budaya yang dirayakan, dikurasi, dan dihadirkan dengan bahasa zaman.
Di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Tangerang, jamu hadir dalam bentuk yang akrab bagi generasi urban: ruang yang estetis, narasi yang informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern.
Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.
"Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja. Melalui konsep Jamu Experience Cafe ini kami ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu di depan pelanggan supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut," ujar Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki).
Di PIK 2, jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkannya kembali ke keseharian masyarakat terutama generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi dan budaya populer.
acaraki memperkenalkan acaraki Jamu Capsule alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Tiga varian, Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh.
"Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup," ungkap Jony saat ditemui dalam acara peresmian acaraki di PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Agar lebih dekat dengan generasi muda, acaraki menyuguhkan berbagai varian jamu kekinian yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Seperti beras kencur dengan susu atau vanila twilight, kunyit asam dengan es krim , hingga moringa calate (daun kelor seduh dengan teknik matcha). Ada juga, jahe seduh dengan teknik Vietnam drip.

(Ki-ka: Mohamad Kashuri, S.Si, Apt, M.Farm - Deputi 2 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed.,Ph.D - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki), Budi Yuwono dan Ibu Lenny Ferry Foe - Founder PT. Sinde Budi Sentosa, saat peresmian acaraki di PIK 2. Foto: Dok. Istimewa)
Jony mengatakan jamu berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya "jampi usodo". Jampi (doa) dan usodo (kesehatan). Jadi, apapun yang dikonsumsi oleh tubuh, dilakukan secara rutin, dikukuhkan dengan doa, itu adalah jamu.
"Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jambu. Artinya
apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silahkan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup," jelas Jony.
Dalam kesempatan sama, Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan.
Bagi Taruna, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia, dibangun dari kepastian standar bukan semata klaim.
"Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan," tambah Taruna.
Jamu, menurut Taruna, harus bergerak dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global. Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
"Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju," tutup Taruna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)
Di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK 2), Tangerang, jamu hadir dalam bentuk yang akrab bagi generasi urban: ruang yang estetis, narasi yang informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern.
Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.
"Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja. Melalui konsep Jamu Experience Cafe ini kami ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu di depan pelanggan supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut," ujar Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki).
Di PIK 2, jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkannya kembali ke keseharian masyarakat terutama generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi dan budaya populer.
acaraki memperkenalkan acaraki Jamu Capsule alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Tiga varian, Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh.
"Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup," ungkap Jony saat ditemui dalam acara peresmian acaraki di PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Agar lebih dekat dengan generasi muda, acaraki menyuguhkan berbagai varian jamu kekinian yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Seperti beras kencur dengan susu atau vanila twilight, kunyit asam dengan es krim , hingga moringa calate (daun kelor seduh dengan teknik matcha). Ada juga, jahe seduh dengan teknik Vietnam drip.

(Ki-ka: Mohamad Kashuri, S.Si, Apt, M.Farm - Deputi 2 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed.,Ph.D - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki), Budi Yuwono dan Ibu Lenny Ferry Foe - Founder PT. Sinde Budi Sentosa, saat peresmian acaraki di PIK 2. Foto: Dok. Istimewa)
Jony mengatakan jamu berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya "jampi usodo". Jampi (doa) dan usodo (kesehatan). Jadi, apapun yang dikonsumsi oleh tubuh, dilakukan secara rutin, dikukuhkan dengan doa, itu adalah jamu.
"Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jambu. Artinya
apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silahkan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup," jelas Jony.
Dalam kesempatan sama, Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan.
Bagi Taruna, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia, dibangun dari kepastian standar bukan semata klaim.
"Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan," tambah Taruna.
Jamu, menurut Taruna, harus bergerak dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global. Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
"Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju," tutup Taruna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(yyy)