FITNESS & HEALTH

Disentil Wamenkes: Gaya Hidup Kebanyakan Gula Bikin Remaja Rentan Diabetes

Yatin Suleha
Senin 25 Mei 2026 / 07:05
Ringkasnya gini..
  • Anggapan diabetes tipe 2 cuma penyakit lansia udah gak berlaku lagi.
  • Wamenkes RI Dante Saksono Harbuwono menyebutkan kalau penyakit ini mulai mengincar usia remaja sampai anak SMP.
  • Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menjalani hidup yang bermakna kata Wamenkes Dante.
Jakarta: Anggapan diabetes tipe 2 cuma penyakit lansia udah gak berlaku lagi. Wamenkes RI Dante Saksono Harbuwono menyebutkan kalau penyakit ini mulai mengincar usia remaja sampai anak SMP.

Di acara Canisius Health Expo 2026 (24/5), ia menegaskan kalau pergeseran tren ini bukan cuma karena faktor keturunan, tapi akibat perubahan drastis gaya hidup harian kita. Yuk, mulai sadar sama apa yang kita konsumsi sehari-hari!

“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ungkap Wamenkes Dante.
 
Ia menyoroti kebiasaan generasi muda saat ini yang minim aktivitas fisik, tingginya durasi layar (screen time), kurang tidur, hingga konsumsi gula dan makanan ultra-proses yang berlebihan. 

Selain itu, tekanan mental yang dihadapi remaja masa kini turut memperburuk kondisi tersebut. Ironisnya, diabetes tipe 2 pada remaja cenderung berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa.

Menghadapi ancaman tersebut, Wamenkes menegaskan bahwa solusi utama bukan hanya obat-obatan, melainkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari rumah.

“Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga,” tegasnya.


(Wamenkes Dante mengatakan pergeseran tren ini bukan cuma karena faktor keturunan, tapi akibat perubahan drastis gaya hidup harian kita. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)

Ia juga membagikan pengalamannya mendaki Gunung Ciremai bersama putranya sebagai cara menjaga kebugaran sekaligus melepas penat dari penggunaan gawai.

Pemerintah, lanjut Wamenkes, telah merespons persoalan ini melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menjangkau 25 juta anak sekolah, serta penerapan program “nutri-level”, yakni sistem label A hingga D pada kemasan makanan dan minuman untuk memperingatkan masyarakat terkait kadar gula.

Dari pemeriksaan di sekolah-sekolah, ditemukan pula berbagai masalah kesehatan yang mulai dialami remaja sejak dini, seperti hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.

Canisius Health Expo 2026 merupakan wujud kepedulian terhadap isu kesehatan yang digagas oleh alumni Kolese Kanisius angkatan 2001 bersama salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. 

Acara ini menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta konsultasi dengan dokter spesialis bagi masyarakat.

Direktur Kolese Kanisius, Thomas Gunawan Wibisono, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyebut angkatan 2001 berhasil melahirkan 17 dokter yang kini mengabdi kepada masyarakat.
 
“Ini sejalan dengan visi kami, to be man for others with others. Para alumni hadir membawa nilai-nilai kolese untuk berbagi dengan sesama, terutama bagi mereka yang terkendala akses kesehatan,” ujarnya.

Di akhir sambutan, Wamenkes Dante ngasih reminder hangat nih buat para siswa dan orang tua. Ia menegaskan kalau nilai rapor itu bukan satu-satunya tolok ukur kesuksesan hidup. Jadi, jangan sampai ambis ngejar nilai tapi malah abai sama kesehatan sendiri, ya!

“Tubuh adalah modal pertama dari semua cita-cita yang ingin dicapai. Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menjalani hidup yang bermakna,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH