FITNESS & HEALTH
Faktor Genetik Bukan Penyebab Utama Obesitas, Gaya Hidup Justru Lebih Berpengaruh
A. Firdaus
Jumat 19 Juni 2026 / 11:15
- Faktor genetik bukanlah penyebab utama seseorang mengalami kelebihan berat badan.
- Faktor lingkungan dan gaya hidup menjadi aspek yang paling memungkinkan untuk diubah.
- Masih banyak orang yang keliru memahami obesitas.
Jakarta: Banyak orang menganggap obesitas merupakan 'warisan keluarga' yang sulit dihindari. Padahal, faktor genetik bukanlah penyebab utama seseorang mengalami kelebihan berat badan. Pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup justru memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kondisi tersebut.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK mengatakan, faktor genetik memang dapat berperan dalam terjadinya obesitas. Namun, kontribusinya diperkirakan tidak mencapai 20 persen dibandingkan faktor lain yang masih dapat dimodifikasi.
"Jangan sampai ada anggapan, 'Dok, aku dari keluarganya sudah gemuk semua, jadi kayaknya enggak mungkin kalau mau turun.' Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," kata dr. Maryam dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing.
Menurut lulusan Universitas Indonesia itu, obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi fisik, metabolisme, hormonal, psikologis, hingga faktor genetik. Meski demikian, faktor lingkungan dan gaya hidup menjadi aspek yang paling memungkinkan untuk diubah.
"Banyak yang bisa kita ubah, salah satunya adalah faktor lingkungan atau gaya hidup," ujar dr. Maryam.
Maryam menjelaskan, obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kolesterol. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesuburan.
Selain itu, obesitas berkaitan dengan berbagai masalah psikologis, mulai dari depresi, gangguan citra tubuh (body image), rendahnya rasa percaya diri, hingga gangguan makan.
Dampaknya pun meluas hingga aspek ekonomi dan produktivitas yang pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
Menurut dr. Maryam, masih banyak orang yang keliru memahami obesitas. Ia menegaskan, obesitas bukan sekadar kelebihan berat badan, melainkan kelebihan lemak tubuh.
"Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tapi kelebihan lemak tubuh," jelas dr. Maryam.
Ia mencontohkan, seseorang dapat terlihat kurus tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah skinny fat.
Karena itu, upaya mencapai berat badan ideal sebaiknya dilakukan secara personal dan berdasarkan pengukuran yang objektif. Tujuannya agar penurunan berat badan yang terjadi tidak justru menyebabkan hilangnya massa otot secara berlebihan.
Dengan pendekatan yang tepat, pengendalian berat badan tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga pada komposisi tubuh dan kesehatan secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK mengatakan, faktor genetik memang dapat berperan dalam terjadinya obesitas. Namun, kontribusinya diperkirakan tidak mencapai 20 persen dibandingkan faktor lain yang masih dapat dimodifikasi.
"Jangan sampai ada anggapan, 'Dok, aku dari keluarganya sudah gemuk semua, jadi kayaknya enggak mungkin kalau mau turun.' Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," kata dr. Maryam dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing.
Menurut lulusan Universitas Indonesia itu, obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi fisik, metabolisme, hormonal, psikologis, hingga faktor genetik. Meski demikian, faktor lingkungan dan gaya hidup menjadi aspek yang paling memungkinkan untuk diubah.
"Banyak yang bisa kita ubah, salah satunya adalah faktor lingkungan atau gaya hidup," ujar dr. Maryam.
Tak hanya picu diabetes, obesitas juga ganggu kesuburan
Maryam menjelaskan, obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kolesterol. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan reproduksi dan kesuburan.
Selain itu, obesitas berkaitan dengan berbagai masalah psikologis, mulai dari depresi, gangguan citra tubuh (body image), rendahnya rasa percaya diri, hingga gangguan makan.
Dampaknya pun meluas hingga aspek ekonomi dan produktivitas yang pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih
Menurut dr. Maryam, masih banyak orang yang keliru memahami obesitas. Ia menegaskan, obesitas bukan sekadar kelebihan berat badan, melainkan kelebihan lemak tubuh.
"Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tapi kelebihan lemak tubuh," jelas dr. Maryam.
Ia mencontohkan, seseorang dapat terlihat kurus tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah skinny fat.
Karena itu, upaya mencapai berat badan ideal sebaiknya dilakukan secara personal dan berdasarkan pengukuran yang objektif. Tujuannya agar penurunan berat badan yang terjadi tidak justru menyebabkan hilangnya massa otot secara berlebihan.
Dengan pendekatan yang tepat, pengendalian berat badan tidak hanya berfokus pada angka timbangan, tetapi juga pada komposisi tubuh dan kesehatan secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)