FITNESS & HEALTH

Sering Dianggap Sepele, Ternyata Obesitas Adalah 'Gerbang' Penyakit Mematikan

Yatin Suleha
Senin 06 Juli 2026 / 07:05
Ringkasnya gini..
  • Yuk, kita ubah mindset soal obesitas! Berat badan berlebih bukan cuma soal penampilan saja, tapi sudah masuk kategori penyakit kronis.
  • Dan itu bisa jadi pintu masuk berbagai komplikasi serius, terutama diabetes tipe 2.
  • Wamenkes RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, pun menegaskan kalau obesitas gak boleh disepelekan dan butuh penanganan medis yang tepat.
Jakarta: Yuk, kita ubah mindset soal obesitas! Berat badan berlebih bukan cuma soal penampilan saja, tapi sudah masuk kategori penyakit kronis yang bisa jadi pintu masuk berbagai komplikasi serius, terutama diabetes tipe 2.

Wamenkes RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, pun menegaskan kalau obesitas gak boleh disepelekan dan butuh penanganan medis yang tepat. 

Apalagi dari data program Cek Kesehatan Gratis, obesitas selalu masuk daftar lima besar masalah kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia. 

"Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung," ujar Dante dalam peluncuran inovasi medis terbaru di Jakarta, Sabtu (4/7/2026).
 
Dante mengungkapkan, hasil studi genetik dalam negeri menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki bakat atau gen diabetes. Namun, aktif atau tidaknya gen tersebut sangat bergantung pada gaya hidup sehari-hari. 

Risiko penurunan penyakit ini juga semakin meningkat akibat faktor keturunan yang semakin kuat.

"Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam," paparnya.

Kondisi tersebut tecermin dari hasil survei kesehatan di Jakarta yang menunjukkan prevalensi diabetes telah mencapai 12,8 persen, atau setara dengan 1 dari 8 penduduk Jakarta. 

Ironisnya, dari angka tersebut, baru sekitar 3 persen yang telah terdiagnosis. Sementara itu, sekitar 9,8 persen lainnya baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat mengikuti survei karena sebelumnya tidak merasakan gejala apa pun.


(Obesitas secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan setidaknya 13 jenis kanker. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Menjaga berat badan melalui modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan pola makan dan olahraga, diakui bukan hal yang mudah. Data klinis menunjukkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang hanya sekitar 5 persen. 

Di sisi lain, operasi bariatrik masih terkendala biaya yang tinggi dan hanya diperuntukkan bagi kondisi medis tertentu.

"Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut," lanjut Dante, yang juga menjabat Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI).

Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Em Yunir, menambahkan bahwa prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berkisar antara 11,5 hingga 11,7 persen.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan diabetes adalah penyakit ini jarang berdiri sendiri. Diabetes umumnya disertai berbagai penyakit penyerta (komorbid), seperti dislipidemia dan hipertensi, yang dapat memicu kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.

Hadirnya inovasi pengobatan baru, seperti zat tirzepatide, diharapkan menjadi angin segar karena mampu bekerja secara menyeluruh dengan meniru dua hormon alami tubuh yang mengatur pusat rasa lapar di otak. 

Dengan mekanisme tersebut, pasien akan merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama sehingga asupan kalori berkurang secara alami.
 
"Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan," jelas Em Yunir.

Walaupun teknologi medis makin canggih, jangan lupa kalau kunci utama buat cegah atau atasi obesitas dan diabetes itu tetap ada di tangan kita sendiri: rutin olahraga dan jaga pola makan sehat. 

Sesimpel itu, tapi pengaruhnya buat kesehatan jangka panjang benar-benar besar, lho!

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH